Urban Farming, Bertani di Lahan Mini Solusi Ketahanan Pangan

loading...
Urban Farming, Bertani di Lahan Mini Solusi Ketahanan Pangan
Urban farming semakin digemari masyarakat perkotaan. FOTO/SINDO/ASTRA BONARDO
JAKARTA - Setiap kali naik ke atap rumahnya, Dewi Pury, 32, seolah terpompa semangatnya. Dedaunan hijau dari beragam sayuran yang dia tanam membuat hatinya selalu berbunga. Tak harus ke mal atau tempat hiburan, di roof top inilah, dia menemukan kebahagiaan tak terkira.

Kendati sehari-hari sebagai ibu rumah tangga, tugas Dewi nyaris tiada henti. Rutinitas mengurus suami, dua anak, dan seabrek kebutuhan domestik, membuat Dewi akhirnya memilih berkebun sebagai jeda sekaligus me time-nya. Di sela keletihan dan kejenuhan mengurusi rumah, Dewi memanfaatkan waktunya untuk menanam, menyirami atau panen aneka sayuran yang tertanam di atas rumahnya.

Roof top itu tak luas. Hanya sekitar 30 meter persegi. Sedianya, atap rumah itu akan dibangun kamar untuk lantai dua. Namun karena belum terwujud, Dewi mengubahnya menjadi ladang cocok tanam. Di lahan sempit ini, puluhan ukuran pot berjajar. Pipa-pipa hidroponik, polybag, dan daun-daun yang menjalar di dinding tampak jelas memenuhi atap tersebut. “inilah kebun mini di atap rumah saya,” ujar Dewi yang tinggal di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Dia atap hunian mungilnya itu, berbagai tanaman tersedia. Kacang panjang, terong, cabe rawit, paprika, stroberi, belimbing wuluh, telang, kipait, pepaya Jepang, elegant feather, pegagan, basil, bidara, tersedia semua. Tidak ketinggalan, berbagai tanaman hias cantik seperti bunga vinca pink, putih, ungu, merah, mawar, aglonema, caladium, cocor bebek, lidah buaya, krokot merah, sirih gading, syngonium dan lidah mertua, juga ada.

Lantaran memiliki banyak sayuran produk sendiri, Dewi pun menjadi jarang berbelanja. Bahkan sejumlah bumbu dapur sudah bisa dipasok dari kebun mininya itu. "Jadi jarang ke tukang sayur dan sedikit lebih hemat karena masih dalam skala kecil,” katanya.



Baca juga: Aktifkan Urban Farming, Pemkot Jakut Ajak Masyarakat Ikut dalam Ketahanan Pangan

Dari hobinya inilah, dia juga semakin yakin dengan apa yang dimakan karena jauh dari bahan kimia. “Pupuk kompos terkadang saya buat sendiri dari sisa makanan atau kulit buah," jelas Dewi yang kerap berbagi ilmu dengan sesama ibu rumah tangga.

Pertanian urban (urban farming) sepertiyang dilakoni Dewi kini tengah digandrungi masyarakat. Aktivitas ini makin populer di masa pandemi Covid-19. Selain menyehatkan dan mengurangi stres, urban farming juga membuat lingkungan lebih hijau, udara bersih, dan produk yang dihasilkan bisa memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Geliat dan antusiasme para urban farmer bisa dilihat di banyak kota di Indonesia, salah satunya Jakarta. Warga Ibu Kota yang menekuni aktivitas bertani ini meningkat di masa pandemi. Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta mencatat, pegiat urban farming pada 2020 lalu sudah mencapai 17.825 orang. “Ada kenaikan 5% jika dibandingkan jumlah pegiat urban farming pada 2019 lalu,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Dinas KPKP Suharini Eliawati kepada KORAN SINDO, Sabtu (3/4).

Baca juga: Sulap Kawasan Hijau, Warga Pegangsaan Dua Ciptakan Urban Farming di Permukiman



Minat besar warga Jakarta menekuni urban farming juga terlihat dari tingginya permintaan bibit tanaman. Suharini mengatakan, sejak April 2020 lalu Dinas KPKP DKI Jakarta berupaya memenuhi permintaan bibit tersebut dengan menyalurkannya lewat jasa transportasi online. “Syaratnya hanya ber-KTP DKI, kami kasih bibitnya. Kawan-kawan pegiat urban farming cukup di rumah saja, bibit akan sampai. Semua layanan kami gratis,” ujarnya.

Di gedung-gedung tinggi di Jakarta pun kini cukup mudah menjumpai kebun dengan aneka tanaman khas urban farming. Sebagian memanfaatkan ruang kosong di dalam gedung, sebagian lagi menggunakan roof top atau atap gedung. Konsepnya ada yang berupa green roof garden, balcony garden,terrace garden, atau window garden.

Di perkantoran-perkantoran pemerintah maupun swasta juga sudah menerapkan konsep urban farming. “Di kantor wali kota DKI Jakarta kami punya ‘Walkot Farm’, itu memanfaatkan ruang yang ada untuk aktivitas pertanian, di sana ada kolam ikan juga. Demiian pula di Balai Kota, ada yang namanya ‘Balkot Farm’,” kata Suharini mencontohkan.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top