Insentif Pajak Diyakini Dorong Kinerja LPKR Semester II
Kamis, 22 April 2021 - 15:15 WIB
loading...
A
A
A
Dia menilai, LPKR mampu berinovasi dengan meluncurkan klaster Cendana Icon yang menyasar segmen menengah sehingga mendongkrak penjualan. Nafan memprediksi LPKR mampu mencapai target marketing sales senilai Rp3,5 triliun pada 2021. Dia pun merekomendasikan akumulasi saham LPKR dengan target harga Rp274.
Sedangkan CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan strategi LPKR sangat tepat untuk masuk ke segmen harga di bawah Rp1 miliar karena sesuai dengan besarnya permintaan. Seperti diketahui, klaster Cendana Icon dijual mulai dari harga Rp599 juta. "Pasar segmen di bawah Rp1 miliar sangat besar. Masuknya suplai klaster Cendana Icon dari LPKR pastinya menangkap pasar yang selama ini diharapkan," ujarnya.
CEO LPKR John Riady menegaskan, pertumbuhan tingkat kepemilikan rumah sangat besar di Indonesia. Dia memberikan contoh, di DKI Jakarta, tingkat kepemilikan rumah masih di bawah 50%. “Saya percaya bahwa di dalam 10 tahun ke depan tingkat kepemilikan rumah ini akan naik sangat pesat. Tentunya ini merupakan suatu hal yang positif bagi masyarakat Indonesia,” tutur John.
Menurut John, permintaan properti terbesar berasal dari rumah tapak dengan harga di bawah Rp2 miliar, dimana pembelinya sekitar 80% merupakan pasar perdana. Sekitar 60% pembeli tersebut menggunakan KPR. “Jadi inilah yang saya pikir real economy dan real demand yang harus didukung dan harus terus kita kembangkan” pungkasnya.
Sedangkan CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan strategi LPKR sangat tepat untuk masuk ke segmen harga di bawah Rp1 miliar karena sesuai dengan besarnya permintaan. Seperti diketahui, klaster Cendana Icon dijual mulai dari harga Rp599 juta. "Pasar segmen di bawah Rp1 miliar sangat besar. Masuknya suplai klaster Cendana Icon dari LPKR pastinya menangkap pasar yang selama ini diharapkan," ujarnya.
CEO LPKR John Riady menegaskan, pertumbuhan tingkat kepemilikan rumah sangat besar di Indonesia. Dia memberikan contoh, di DKI Jakarta, tingkat kepemilikan rumah masih di bawah 50%. “Saya percaya bahwa di dalam 10 tahun ke depan tingkat kepemilikan rumah ini akan naik sangat pesat. Tentunya ini merupakan suatu hal yang positif bagi masyarakat Indonesia,” tutur John.
Menurut John, permintaan properti terbesar berasal dari rumah tapak dengan harga di bawah Rp2 miliar, dimana pembelinya sekitar 80% merupakan pasar perdana. Sekitar 60% pembeli tersebut menggunakan KPR. “Jadi inilah yang saya pikir real economy dan real demand yang harus didukung dan harus terus kita kembangkan” pungkasnya.
(dar)
Lihat Juga :