Kinclong, Kinerja Produksi dan Penjualan Pupuk Indonesia Capai Rekor di 2020
Selasa, 01 Juni 2021 - 16:11 WIB
loading...
A
A
A
Selaras dengan kinerja bidang produksi, kinerja penjualan juga tak kalah kinclong. Tercatat total volume penjualan pada 2020, baik untuk produk pupuk maupun non pupuk, mencapai 14,37 juta ton.
Jika dirinci, penjualan tersebut terdiri dari penjualan pupuk ke sektor PSO sebanyak 8,43 juta ton, penjualan ke sektor non PSO sebesar 4,94 juta ton, dan penjualan produk non pupuk sebesar 970 997 ribu ton.
“Perusahaan melakukan sejumlah inisiatif untuk meningkatkan efisiensi sehingga produk kita dapat bersaing dan memiliki penetrasi yang baik di pasar internasional maupun ke sektor perkebunan dan industri di dalam negeri," bebernya.
Kendati demikian, Bakir menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan pupuk untuk sektor pangan atau PSO tetap diprioritaskan. “Sesuai amanah yang diberikan kepada kami, kami tetap fokus pada pasokan pupuk untuk kebutuhan sektor pangan di dalam negeri," tandasnya.
Dia menambahkan, kinerja keuangan perusahaan juga tetap terjaga meskipun banyak industri yang terpengaruh wabah Covid-19. Sepanjang tahun 2020, Pupuk Indonesia meraup pendapatan Rp71,87 triliun.
“Komposisi pendapatan tersebut terdiri dari penjualan produk pupuk dan non pupuk, penggantian biaya subsidi dari pemerintah, serta pendapatan dari bidang jasa," urainya.
Adapun laba perseroan pada tahun yang sama sebesar Rp2,32 triliun. Meskipun angka tersebut masih di bawah target pemegang saham, Bakir menyebut capaian tersebut masih cukup positif bila mengingat berbagai tantangan yang terjadi pada tahun 2020. Salah satunya adalah jatuhnya rata-rata harga komoditi urea dan amoniak di pasar internasional.
Jika dirinci, penjualan tersebut terdiri dari penjualan pupuk ke sektor PSO sebanyak 8,43 juta ton, penjualan ke sektor non PSO sebesar 4,94 juta ton, dan penjualan produk non pupuk sebesar 970 997 ribu ton.
“Perusahaan melakukan sejumlah inisiatif untuk meningkatkan efisiensi sehingga produk kita dapat bersaing dan memiliki penetrasi yang baik di pasar internasional maupun ke sektor perkebunan dan industri di dalam negeri," bebernya.
Kendati demikian, Bakir menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan pupuk untuk sektor pangan atau PSO tetap diprioritaskan. “Sesuai amanah yang diberikan kepada kami, kami tetap fokus pada pasokan pupuk untuk kebutuhan sektor pangan di dalam negeri," tandasnya.
Dia menambahkan, kinerja keuangan perusahaan juga tetap terjaga meskipun banyak industri yang terpengaruh wabah Covid-19. Sepanjang tahun 2020, Pupuk Indonesia meraup pendapatan Rp71,87 triliun.
“Komposisi pendapatan tersebut terdiri dari penjualan produk pupuk dan non pupuk, penggantian biaya subsidi dari pemerintah, serta pendapatan dari bidang jasa," urainya.
Adapun laba perseroan pada tahun yang sama sebesar Rp2,32 triliun. Meskipun angka tersebut masih di bawah target pemegang saham, Bakir menyebut capaian tersebut masih cukup positif bila mengingat berbagai tantangan yang terjadi pada tahun 2020. Salah satunya adalah jatuhnya rata-rata harga komoditi urea dan amoniak di pasar internasional.
Lihat Juga :