Cetak Laba Saat Perusahaan Migas Dunia Merugi, Pertamina Masih Punya PR
Rabu, 16 Juni 2021 - 22:59 WIB
loading...
Kinerja apik PT Pertamina (Persero) pada 2020 di tengah perusahaan migas dunia banyak merugi mendapatkan apresiasi dari Anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Kinerja apik PT Pertamina (Persero) pada 2020 di tengah perusahaan migas dunia banyak merugi mendapatkan apresiasi dari Anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron. Pertamina justru meraup laba bersih USD 1,05 Miliar atau sekitar Rp15,3 Triliun pada 2020 saat perusahaan minya dunia lain terseok-seok.
Terlebih, kinerja positif tersebut juga diraih Pertamina, pada saat mengalami tekanan pandemi Covid-19, yang menyebabkan anjloknya kebutuhan energi.
“Tentu saya memberikan apresiasi dan agar dipertahankan bahkan harus ditingkatkan ke depanya. Dan pekerjaan rumahnya adalah bagaimana dapat melakukan percepatan pembangunan berbagai unit bisnis baru, termasuk pengembangan kepada petrochemical,” kata Herman kepada media di Jakarta, Rabu (16/6/2021).
Baca Juga: Pertamina Optimalkan Investasi untuk Pengelolaan Energi Nasional
Pada saat bersamaan, memang banyak perusahaan migas dunia mengalami kerugian sangat besar. Shell, misalnya, pada 2020 merugi hingga USD 21,68 Miliar, BP yang rugi USD 20,31 Miliiar, Exxon Mobil yang mengalami kerugian hingga USD 22,44 Miliar, Total dengan kerugian mencapai USD 7,24 Milyar.
Lalu Chevron yang rugi sampai USD 5,5 Miliar, ENI dengan kerugian USD 9,53 miliar, dan Petronas dengan kerugian mencapai USD 5,54 Miliar. Bahkan kerugian BP, merupakan yang terparah dalam 10 tahun terakhir.
Herman menambahkan, kinerja positif Pertamina tersebut tak lepas dari keberhasilan BUMN tersebut meningkatkan efisiensi dan penataan bisnisnya. Faktor inilah yang membuat Pertamina semakin baik iklim usahanya. Selain itu, imbuhnya, juga sejalan dengan naiknya harga crude oil dunia yang juga meningkatkan pendapatan Pertamina.
Terlebih, kinerja positif tersebut juga diraih Pertamina, pada saat mengalami tekanan pandemi Covid-19, yang menyebabkan anjloknya kebutuhan energi.
“Tentu saya memberikan apresiasi dan agar dipertahankan bahkan harus ditingkatkan ke depanya. Dan pekerjaan rumahnya adalah bagaimana dapat melakukan percepatan pembangunan berbagai unit bisnis baru, termasuk pengembangan kepada petrochemical,” kata Herman kepada media di Jakarta, Rabu (16/6/2021).
Baca Juga: Pertamina Optimalkan Investasi untuk Pengelolaan Energi Nasional
Pada saat bersamaan, memang banyak perusahaan migas dunia mengalami kerugian sangat besar. Shell, misalnya, pada 2020 merugi hingga USD 21,68 Miliar, BP yang rugi USD 20,31 Miliiar, Exxon Mobil yang mengalami kerugian hingga USD 22,44 Miliar, Total dengan kerugian mencapai USD 7,24 Milyar.
Lalu Chevron yang rugi sampai USD 5,5 Miliar, ENI dengan kerugian USD 9,53 miliar, dan Petronas dengan kerugian mencapai USD 5,54 Miliar. Bahkan kerugian BP, merupakan yang terparah dalam 10 tahun terakhir.
Herman menambahkan, kinerja positif Pertamina tersebut tak lepas dari keberhasilan BUMN tersebut meningkatkan efisiensi dan penataan bisnisnya. Faktor inilah yang membuat Pertamina semakin baik iklim usahanya. Selain itu, imbuhnya, juga sejalan dengan naiknya harga crude oil dunia yang juga meningkatkan pendapatan Pertamina.
Lihat Juga :