Jangan Panik! Inflasi Amrik Memang Naik, tapi Pasar Surat Utang Kita Tetap Menarik
Sabtu, 19 Juni 2021 - 10:45 WIB
loading...
A
A
A
Saat ini, stabilitas ekonomi Indonesia masih terjaga yang terlihat dari nilai tukar rupiah yang stabil, inflasi terjaga di bawah target, dan neraca perdagangan Mei surplus 2,36 miliar dolar AS. Ditambah lagi, keputusan Bank Indonesiayang tetap menjaga suku bunga acuannya sebesar 3,5% sehinggga membuat real rate Indonesia tetap positif dan kebijakan moneter yang prudent.
Dari gaktor eksternal, rilis data makro di Amerika Serikat dengan angka inflasi melonjak hingga 5% (YoY) yang sempat menimbulkan spekulasi kebijakan percepatan tappering oleh The Fed dan dapat memicu capital inflow (ke Amerika Serikat) dalam waktu dekat jika The Fed menaikkan suku bunganya.
Budi menjelaskan bahwa data inflasi AS diproyeksi tidak akan begitu berpengaruh bagi investor global karena inflasi AS sebesar 5% bersifat temporer. Pasalnya, penyumbang terbesar inflasi AS adalah kenaikan biaya transportasi, dalam hal ini harga mobil bekas. Sementara indikator utama seperti harga bahan pokok masih terkendali.
Baca juga:Ini 5 Jalur Angker Rawan Kecelakaan Beserta Mitos yang Membalutnya
Selain itu, The Fed sendiri juga menyatakan hal yang sama bahwa inflasi hanya bersifat temporer dan akan segera membaik. Dalam proyeksi terbaru, The Fed menunjukan inflasi mulai turun pada tahun 2022. Akibatnya, ekspektasi inflasi pasar jangka panjang berangsur turun. Rilis opini anggota The Fed mensinyalkan kenaikan suku bunga baru akan terjadi pada tahun 2023. Sedangkan taper diperkirakan baru akan dimulai pada awal 2022 mendatang.
Dari gaktor eksternal, rilis data makro di Amerika Serikat dengan angka inflasi melonjak hingga 5% (YoY) yang sempat menimbulkan spekulasi kebijakan percepatan tappering oleh The Fed dan dapat memicu capital inflow (ke Amerika Serikat) dalam waktu dekat jika The Fed menaikkan suku bunganya.
Budi menjelaskan bahwa data inflasi AS diproyeksi tidak akan begitu berpengaruh bagi investor global karena inflasi AS sebesar 5% bersifat temporer. Pasalnya, penyumbang terbesar inflasi AS adalah kenaikan biaya transportasi, dalam hal ini harga mobil bekas. Sementara indikator utama seperti harga bahan pokok masih terkendali.
Baca juga:Ini 5 Jalur Angker Rawan Kecelakaan Beserta Mitos yang Membalutnya
Selain itu, The Fed sendiri juga menyatakan hal yang sama bahwa inflasi hanya bersifat temporer dan akan segera membaik. Dalam proyeksi terbaru, The Fed menunjukan inflasi mulai turun pada tahun 2022. Akibatnya, ekspektasi inflasi pasar jangka panjang berangsur turun. Rilis opini anggota The Fed mensinyalkan kenaikan suku bunga baru akan terjadi pada tahun 2023. Sedangkan taper diperkirakan baru akan dimulai pada awal 2022 mendatang.
Lihat Juga :