Industri Halal Bisa Jadi Pemicu Pemulihan Ekonomi Nasional
Kamis, 24 Juni 2021 - 22:28 WIB
loading...
A
A
A
Untuk sektor industri dan usaha kecil, BAKTI Keminfo telah menggelar program ekosistem digital Bakti antara lain berupa pelatihan UMKM digital 2020. Program yang digelar di awal masa pandemi Covid ini memfokuskan UMKM bisa bertahan dari terpaan pandemi.
“Kita juga menggelar pelatihan Toko Online Bumdes dan UMKM Lokal 2020. Dalam hal ini kita memfasilitasi sebanyak 100 UMKM/Bumdes dalam pelatihan yang di antaranya digital branding, marketing toko online dan pengelolaan toko online,” ujarnya.
Di tahun 2021 ini pihaknya akan menggelar pelatihan UKM Digital & Akses Permodalan yang menyasar UMKM di bidang kuliner, dengan target 800 UMKM dari 8 kota/kabupaten. Rencananya Bakti Keminfo juga mengagendakan Pelatihan Toko Online Bumdes/UMKM 2021 dengan target 50 Bumdes / UMKM lokal/.
Baca juga:Hong Kong Larang Masuk Penerbangan dari Indonesia
“Bumdes/UMKM binaan Bakti ini berpotensi untuk diberikan pelatihan dalam mendukung pengembangan industri halal. Sebagaimana kriteria industri halal, yakni kerja sama dengan laboratorium pengujian halal, sistem pengelolaan air bersih sesuai persyaratan halal dan tenaga kerja terlatih dalam jaminan produk halal,” jelasnya.
Sektor Fashion Bisa Jadi Motor
Modest Fashion Indonesia masih bertengger di nomor 3 setelah UEA dan Turki, namun sektor ini diyakini dapat mendongkrak industri halal Tanah Air. Desainer, Founder Fashion Brands & Pembina Industri Kreatif, Amy Atmanto mengatakan, tren global dalam pengeluaran untuk modest fashion dunia tertinggi adalah di Turki dengan total belanja USD29 miliar, disusul UAE dengan spending USD23 miliar dan Indonesia dengan total spending USD21 miliar.
Sementara total world spending untuk pakaian muslim di tahun 2018 bertumbuh 4,8% dari USD270 miliar menjadi USD283 miliar. Di tahun 2024 diperkirakan spending untuk muslim dan clothing apparel akan tumbuh sebesar 6% mencapai USD402 miliar.
“Saya menggunakan istilah modest fashion untuk mendorong mindset kita untuk dapat mengexplore wilayah-wilayah kreatif beyond traditional moslem outfit. Dengan istilah ini kita tidak dibatasi oleh konsepsi umum tentang busana muslim (gamis, abaya, kaftan),” ungkapnya.
Mengutip State of the Global Islamic Economic Report – Driving the Islamic economy revolution 4.0, Amy menuturkan, Indonesia merupakan pasar domestik no 3 terbesar dengan USD21 triliun, selain itu, gaya desain Indonesia diterima di dunia. Karena itu dia yakin Industri halal termasuk di dalamnya modish fashion, bisa menjadi pemantik ekonomi nasional.
“Kita mendominasi pencarian googling dengan keyword “moslem fashion”, hasilnya Indonesia 77%, 15% Malaysia, dan sisanya Inggris, India dan negara lain. Ini membuktikan Indonesia mendominasi fashion muslim,” jelasnya.
Meski demikian, Amy tidak memungkiri tantangan yang dihadapi industri modest fashion Indonesia antara lain masih terperangkap pada desain tradisional, kurangnya inovasi, keterbatasan skill pemasaran dan persaingan usaha, bahan baku yang masih harus impor, dan kebanyakan usaha fashion masih mengandalkan dari hobi serta kurangnya modal usaha.
“Kita juga menggelar pelatihan Toko Online Bumdes dan UMKM Lokal 2020. Dalam hal ini kita memfasilitasi sebanyak 100 UMKM/Bumdes dalam pelatihan yang di antaranya digital branding, marketing toko online dan pengelolaan toko online,” ujarnya.
Di tahun 2021 ini pihaknya akan menggelar pelatihan UKM Digital & Akses Permodalan yang menyasar UMKM di bidang kuliner, dengan target 800 UMKM dari 8 kota/kabupaten. Rencananya Bakti Keminfo juga mengagendakan Pelatihan Toko Online Bumdes/UMKM 2021 dengan target 50 Bumdes / UMKM lokal/.
Baca juga:Hong Kong Larang Masuk Penerbangan dari Indonesia
“Bumdes/UMKM binaan Bakti ini berpotensi untuk diberikan pelatihan dalam mendukung pengembangan industri halal. Sebagaimana kriteria industri halal, yakni kerja sama dengan laboratorium pengujian halal, sistem pengelolaan air bersih sesuai persyaratan halal dan tenaga kerja terlatih dalam jaminan produk halal,” jelasnya.
Sektor Fashion Bisa Jadi Motor
Modest Fashion Indonesia masih bertengger di nomor 3 setelah UEA dan Turki, namun sektor ini diyakini dapat mendongkrak industri halal Tanah Air. Desainer, Founder Fashion Brands & Pembina Industri Kreatif, Amy Atmanto mengatakan, tren global dalam pengeluaran untuk modest fashion dunia tertinggi adalah di Turki dengan total belanja USD29 miliar, disusul UAE dengan spending USD23 miliar dan Indonesia dengan total spending USD21 miliar.
Sementara total world spending untuk pakaian muslim di tahun 2018 bertumbuh 4,8% dari USD270 miliar menjadi USD283 miliar. Di tahun 2024 diperkirakan spending untuk muslim dan clothing apparel akan tumbuh sebesar 6% mencapai USD402 miliar.
“Saya menggunakan istilah modest fashion untuk mendorong mindset kita untuk dapat mengexplore wilayah-wilayah kreatif beyond traditional moslem outfit. Dengan istilah ini kita tidak dibatasi oleh konsepsi umum tentang busana muslim (gamis, abaya, kaftan),” ungkapnya.
Mengutip State of the Global Islamic Economic Report – Driving the Islamic economy revolution 4.0, Amy menuturkan, Indonesia merupakan pasar domestik no 3 terbesar dengan USD21 triliun, selain itu, gaya desain Indonesia diterima di dunia. Karena itu dia yakin Industri halal termasuk di dalamnya modish fashion, bisa menjadi pemantik ekonomi nasional.
“Kita mendominasi pencarian googling dengan keyword “moslem fashion”, hasilnya Indonesia 77%, 15% Malaysia, dan sisanya Inggris, India dan negara lain. Ini membuktikan Indonesia mendominasi fashion muslim,” jelasnya.
Meski demikian, Amy tidak memungkiri tantangan yang dihadapi industri modest fashion Indonesia antara lain masih terperangkap pada desain tradisional, kurangnya inovasi, keterbatasan skill pemasaran dan persaingan usaha, bahan baku yang masih harus impor, dan kebanyakan usaha fashion masih mengandalkan dari hobi serta kurangnya modal usaha.
Lihat Juga :