Milenial Harus Manfaatkan Teknologi Digital untuk Kegiatan Produktif
Sabtu, 07 Agustus 2021 - 10:19 WIB
loading...
A
A
A
Lebih lanjut, Heru mengatakan, tech savvy juga memerlukan dukungan infrastruktur internet. Maka, sangat wajar bila kota besar yang lebih diuntungkan karena sudah memiliki fasilitas jaringan yang lebih baik ketimbang di daerah perdesaan atau pelosok. Heru juga menilai tech savvy perlu didukung melalui pelatihan atau edukasi agar membuat penggunanya kreatif dan produktif.
“Ini yang masih minim, masyarakat akhirnya mencari jalan sendiri, berbagi pengalaman satu ke yang lainnya. Disinilah harus pemerintah lebih berperan,” pungkasnya.
Sejatinya masih banyak kendala yang harus dihadapi oleh generasi tech savvy ini. Di luar kota-kota besar misalnya, anak-anak muda masih kesulitan untuk mengembangkan minatnya dalam membangun perusahaan rintisan, terutama yang berbasis teknologi informasi (TI). Hal ini lantaran belum meratanya kesempatan berkarya, juga infrastruktur teknologinya.
Baca juga: Keren, Pelajar SMP-SMA Ini Bersaing pada Kompetisi Startup Ditingkat Asia Pasific
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk yang masuk kategori generasi milenial (1981-1996) sebanyak 69,9 juta. Sedangkan generasi Z yang lahir pada kurun waktu 1997-2012 berjumlah 75,49 juta jiwa. Butuh sumber daya manusia (SDM) yang besar untuk mendapatkan talenta digital yang bisa melahirkan berbagai perusahaan rintisan dan aplikasi yang mendukung bisnisnya.
Di sisi lain, jumlah itu merupakan pasar yang potensial bagi perusahaan rintisan untuk menawarkan produknya. Masalahnya, mereka yang melek dan menguasai TI berkumpul di kota-kota besar. Mereka pula yang banyak menikmati infrastruktur internet dan pendidikan yang memadai sehingga mudah mengakses segala sesuatu yang terbaru. Perusahaan-perusahaan rintisan pun sebagian besar lahir di kota-kota besar.
Ketua Umum Asosiasi Startup Teknologi Indonesia (Atsindo) Handito Joewono mengatakan, harus diakui anak-anak muda di kota lebih banyak melahirkan perusahaan rintisan berbasis teknologi. Alasannya, ekosistem, termasuk para programmer-nya, banyak bermukim di kota besar. Namun, bukan berarti tidak ada orang daerah yang melahirkan perusahaan rintisan.
Handito menyebut, perusahaan di daerah biasanya tidak banyak memanfaatkan TI. Mereka lebih banyak mengembangkan teknologi untuk pertanian, peternakan, perikanan, dan sebagainya. Dia menyarankan pemerintah memaksimalkan program Kampus Merdeka besutan Kemendikbudrisktek. Dalam program itu ada yang namanya Matching Fund. Ini pendanaan yang dilakukan perguruan tinggi kepada perusahaan-perusahaan baru.
“Akhirnya banyak menghasilkan startup di daerah. Kedua, ada program magang dan studi independen. Selama ini magang sesuatu yang biasa. Sekarang boleh magang satu semester. Banyak anak muda yang magang di perusahaan besar bisa sampai dua semester. Ini akan membuat proses pemanfaatan teknologi berjalan efektif,” ujarnya saat dihubungi KORAN SINDO, Jumat (6/08/2021).
Handito menerangkan, jika daerah ingin maju dalam penguasaan dan pemanfaatan TI, mereka harus berkolaborasi dengan perguruan tinggi. Lembaga pendidikan akan berfungsi sebagai fasilitator pengembangan teknologi bagi anak-anak muda di daerah tersebut. Atsindo mendorong para anak muda yang menciptakan perusahaan rintisan untuk bersabar.
Mereka harus membuat model bisnis yang jelas lebih dahulu. Tentu saja, perusahaan itu harus sudah berjalan. Jangan belum apa-apa sudah mencari investor. Handito mengungkapkan pola investor dalam membenamkan modal sudah berubah. Lima tahun lalu, para investor itu mengharapkan ide-ide kreatif.
“Idenya yang dihargai karena nanti bisnisnya sudah jalan, dia tinggal injeksi modal dan orang. Diambil alih startup-nya,” tuturnya.
Belakangan, para pemilik perusahaan rintisan menyadari itu. Mereka mulai memapankan diri dan berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan rintisan kecil. Ini mencontoh model GoJek dan Tokopedia, tapi mereka sudah skala besar. Penguatan tidak bisa lagi hanya mengandalkan investor.
“Startup kadang join venture. Banyak yang sadar kalau mengerjakan sendiri masih kurang bisa,” jelasnya.
“Ini yang masih minim, masyarakat akhirnya mencari jalan sendiri, berbagi pengalaman satu ke yang lainnya. Disinilah harus pemerintah lebih berperan,” pungkasnya.
Sejatinya masih banyak kendala yang harus dihadapi oleh generasi tech savvy ini. Di luar kota-kota besar misalnya, anak-anak muda masih kesulitan untuk mengembangkan minatnya dalam membangun perusahaan rintisan, terutama yang berbasis teknologi informasi (TI). Hal ini lantaran belum meratanya kesempatan berkarya, juga infrastruktur teknologinya.
Baca juga: Keren, Pelajar SMP-SMA Ini Bersaing pada Kompetisi Startup Ditingkat Asia Pasific
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk yang masuk kategori generasi milenial (1981-1996) sebanyak 69,9 juta. Sedangkan generasi Z yang lahir pada kurun waktu 1997-2012 berjumlah 75,49 juta jiwa. Butuh sumber daya manusia (SDM) yang besar untuk mendapatkan talenta digital yang bisa melahirkan berbagai perusahaan rintisan dan aplikasi yang mendukung bisnisnya.
Di sisi lain, jumlah itu merupakan pasar yang potensial bagi perusahaan rintisan untuk menawarkan produknya. Masalahnya, mereka yang melek dan menguasai TI berkumpul di kota-kota besar. Mereka pula yang banyak menikmati infrastruktur internet dan pendidikan yang memadai sehingga mudah mengakses segala sesuatu yang terbaru. Perusahaan-perusahaan rintisan pun sebagian besar lahir di kota-kota besar.
Ketua Umum Asosiasi Startup Teknologi Indonesia (Atsindo) Handito Joewono mengatakan, harus diakui anak-anak muda di kota lebih banyak melahirkan perusahaan rintisan berbasis teknologi. Alasannya, ekosistem, termasuk para programmer-nya, banyak bermukim di kota besar. Namun, bukan berarti tidak ada orang daerah yang melahirkan perusahaan rintisan.
Handito menyebut, perusahaan di daerah biasanya tidak banyak memanfaatkan TI. Mereka lebih banyak mengembangkan teknologi untuk pertanian, peternakan, perikanan, dan sebagainya. Dia menyarankan pemerintah memaksimalkan program Kampus Merdeka besutan Kemendikbudrisktek. Dalam program itu ada yang namanya Matching Fund. Ini pendanaan yang dilakukan perguruan tinggi kepada perusahaan-perusahaan baru.
“Akhirnya banyak menghasilkan startup di daerah. Kedua, ada program magang dan studi independen. Selama ini magang sesuatu yang biasa. Sekarang boleh magang satu semester. Banyak anak muda yang magang di perusahaan besar bisa sampai dua semester. Ini akan membuat proses pemanfaatan teknologi berjalan efektif,” ujarnya saat dihubungi KORAN SINDO, Jumat (6/08/2021).
Handito menerangkan, jika daerah ingin maju dalam penguasaan dan pemanfaatan TI, mereka harus berkolaborasi dengan perguruan tinggi. Lembaga pendidikan akan berfungsi sebagai fasilitator pengembangan teknologi bagi anak-anak muda di daerah tersebut. Atsindo mendorong para anak muda yang menciptakan perusahaan rintisan untuk bersabar.
Mereka harus membuat model bisnis yang jelas lebih dahulu. Tentu saja, perusahaan itu harus sudah berjalan. Jangan belum apa-apa sudah mencari investor. Handito mengungkapkan pola investor dalam membenamkan modal sudah berubah. Lima tahun lalu, para investor itu mengharapkan ide-ide kreatif.
“Idenya yang dihargai karena nanti bisnisnya sudah jalan, dia tinggal injeksi modal dan orang. Diambil alih startup-nya,” tuturnya.
Belakangan, para pemilik perusahaan rintisan menyadari itu. Mereka mulai memapankan diri dan berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan rintisan kecil. Ini mencontoh model GoJek dan Tokopedia, tapi mereka sudah skala besar. Penguatan tidak bisa lagi hanya mengandalkan investor.
“Startup kadang join venture. Banyak yang sadar kalau mengerjakan sendiri masih kurang bisa,” jelasnya.
Lihat Juga :