OJK Kolaborasi Dorong Gerakan Rajin Menabung Bagi Pelajar
Selasa, 24 Agustus 2021 - 17:38 WIB
loading...
A
A
A
Di Tengah situasi pandemi, Tirta mengingatkan bahwa pentingnya memiliki dana cadangan adalah hal yang penting untuk dilakukan. Adapun hal itu dapat diupayakan dengan membangun kebiasaan diri menabung sejak dini.
Ia menyebut terdapat lima alasan mengapa gerakan menabung untuk pelajar menjadi sangat krusial. Pertama, pelajar merupakan generasi penerus yang akan membangun Indonesia di masa mendatang.
“Mereka perlu dipersiapkan untuk membangun bangsa Indonesia. Dengan jumlah yang sangat signifikan sekira 65 juta pelajar dari total penduduk Indonesia, para pelajar jelas merupakan critical economic player atau pelaku ekonomi yang sangat strategis. Sehingga perlu dibekali pemahaman keuangan yang memadai,” terangnya.
Kedua, survey dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2019 membuktikan para pelajar pada umumnya memiliki tingkat literasi dan inklusi keuangan yang relatif rendah. Tingkat literasi keuangan penduduk Indonesia berusia 15-17 tahun, hanya 16%. Angka ini masih jauh dari tingkat literasi keuangan nasional sebesar 38%.
Sementara, tingkat inklusi keuangan penduduk Indonesia yang berusia 15-17 tahun juga relatif rendah, yaitu hanya 58%. Ketiga, para pelajar rentan dari sisi keuangan. “Ketika pelajar memiliki uang, mereka akan menghabiskan uang itu untuk kesenangan semata dibandingkan ditabung atau di investasi,” tuturnya.
Ia menyebut terdapat lima alasan mengapa gerakan menabung untuk pelajar menjadi sangat krusial. Pertama, pelajar merupakan generasi penerus yang akan membangun Indonesia di masa mendatang.
“Mereka perlu dipersiapkan untuk membangun bangsa Indonesia. Dengan jumlah yang sangat signifikan sekira 65 juta pelajar dari total penduduk Indonesia, para pelajar jelas merupakan critical economic player atau pelaku ekonomi yang sangat strategis. Sehingga perlu dibekali pemahaman keuangan yang memadai,” terangnya.
Kedua, survey dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2019 membuktikan para pelajar pada umumnya memiliki tingkat literasi dan inklusi keuangan yang relatif rendah. Tingkat literasi keuangan penduduk Indonesia berusia 15-17 tahun, hanya 16%. Angka ini masih jauh dari tingkat literasi keuangan nasional sebesar 38%.
Sementara, tingkat inklusi keuangan penduduk Indonesia yang berusia 15-17 tahun juga relatif rendah, yaitu hanya 58%. Ketiga, para pelajar rentan dari sisi keuangan. “Ketika pelajar memiliki uang, mereka akan menghabiskan uang itu untuk kesenangan semata dibandingkan ditabung atau di investasi,” tuturnya.
Lihat Juga :