Taliban Kuasai Cadangan Mineral Rp14 Ribu Triliun di Afghanistan

Kamis, 26 Agustus 2021 - 17:55 WIB
loading...
Taliban Kuasai Cadangan...
Pertambangan emas di Nor Aaba, Provinsi Takhar, Afghanistan. REUTEURS/ Omar Sobhani
A A A
LONDON - Jatuhnya Afghanistan ke tangan Taliban telah memicu krisis kemanusiaan hingga eksodus besar-besaran. Berkuasanya Taliban juga membawa fokus baru terkait potensi cadangan mineral di negara itu.

Negara termiskin dunia itu ternyata memiliki deposit mineral senilai hampir USD1 triliun atau sekitar Rp14.400 triliun dengan asumsi Rp14.400 per dolar AS. Sumber mineral seperti besi, tembaga dan emas tersebar di seluruh provinsi.

Tidak hanya itu, ada juga sumber mineral tanah jarang yang saat ini sedang menjadi incaran dunia yakni lithium untuk pengembangan baterai kendaraan listrik.

"Afghanistan tidak hanya kaya akan logam mulia, tetapi juga logam yang dibutuhkan di abad ke-21," kata Ilmuwan dari Ecological Futures Group Rod Schoonover seperti dikutip dari CNN Business, di Jakarta, Kamis (26/8/2021).

Baca Juga: Dokumen Internal Bocor: Taliban Ancam dan Pukuli Staf PBB

Permintaan logam seperti lithium dan kobalt, serta elemen tanah jarang seperti neodymium, melonjak ketika negara-negara mencoba beralih ke mobil listrik dan teknologi bersih lainnya untuk memangkas emisi karbon.

Badan Energi Internasional (IEA)mengatakan pada bulan Meibahwa pasokan global litium, tembaga, nikel, kobalt, dan elemen tanah jarang meningkat tajam atau dunia akan gagal dalam upayanya mengatasi krisis iklim. Tiga negara - Cina, Republik Demokratik Kongo dan Australia - saat ini menyumbang 75% dari produksi global lithium, kobalt, dan tanah jarang.

Menurut IEA, rata-rata mobil listrik membutuhkan mineral enam kali lebih banyak daripada mobil konvensional. Lithium, nikel dan kobalt sangat penting untuk baterai. Jaringan listrik juga membutuhkan tembaga dan aluminium dalam jumlah besar, sementara elemen tanah jarang digunakan dalam magnet yang dibutuhkan untuk membuat turbin angin bekerja.

Pemerintah AS dilaporkan telah memperkirakan bahwa deposit lithium di Afghanistan dapat menyaingi Bolivia sebagai negara dengan cadangan terbesar dunia.

"Jika Afghanistan dalam beberapa tahun ke depan bisa tenang, memungkinkan pengembangan sumber daya mineralnya. Itu bisa menjadi salah satu negara terkaya di kawasan itu dalam satu dekade," kata Mirzad dari Survei Geologi AS kepada majalah Science pada 2010. Dia memimpin Survei Geologi Afghanistan hingga 1979.

Namum di bawah kendali Taliban kekayaan mineral di perut bumi Afghanistan tidak mungkin bisa dimanfaatkan segera. Kendati memiliki cadangan mineral yang besar pada 2020 sekitar 90% orang Afghanistan hidup di bawah tingkat kemiskinan.

Berdasarkan laporan US Congressional Research Service yang diterbitkan pada bulan Juni, Bank Dunia mengatakan bahwa ekonomi negara itu rapuh dan menggantungkan terhadap bantuan.

Baca Juga: Taliban Akui Punya 'Hubungan Baik' dengan Rusia dan China

Sementara, Rekan Senior Nonresiden di Dewan Atlantik dan Mantan Direktur Timur Tengah dan Asia Tengah IMF, Mosin Khan mengatakan saat ini mineral di Afghanistan hanya menghasilkan USD1 miliar di Afghanistan per tahun. Ia memperkirakan 30% hingga 40% telah disedot oleh korupsi, serta oleh panglima perang dan Taliban yang telah memimpin proyek pertambangan kecil di negara tersebut.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kekayaan RI Keluar Sebabkan...
Kekayaan RI Keluar Sebabkan Rupiah Melemah, Prabowo Analogikan seperti Tubuh Kehabisan Darah
Daftar Negara dengan...
Daftar Negara dengan Cadangan Mineral Tanah Jarang Terbesar Dunia, Ada Tetangga Indonesia
Tok! Eksportir SDA Wajib...
Tok! Eksportir SDA Wajib Pulangkan 100% Devisa Hasil Ekspor ke Dalam Negeri Mulai Juni 2026
10 Negara dengan Ketergantungan...
10 Negara dengan Ketergantungan Sumber Daya Alam Tertinggi di Dunia, Ada Indonesia?
Danantara Sumberdaya...
Danantara Sumberdaya Indonesia Resmi Jadi BUMN Khusus Ekspor
Danantara Sumberdaya...
Danantara Sumberdaya Indonesia Resmi Terbentuk, Rosan: Hilangkan Potensi Uang Gelap
Paradoks Tata Kelola...
Paradoks Tata Kelola Batu Bara di Indonesia
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Ekologi adalah Kesehatan:...
Ekologi adalah Kesehatan: Ketika Dua Visi Besar Emil Salim dan Farid Moeloek Menjadi Keharusan Zaman
Rekomendasi
PT MNC Vision Networks...
PT MNC Vision Networks Tbk Berpartisipasi dalam Jalan Sehat Hari Donor Darah Sedunia 2026 di Monas
SPI Jadi yang Pertama...
SPI Jadi yang Pertama Beri Naskah Analisis RUU Advokat ke Pemerintah
Pegadaian CPS Pondok...
Pegadaian CPS Pondok Aren Gelar Pengobatan Gratis bagi Ratusan Masyarakat
Berita Terkini
Damessa Perluas Layanan...
Damessa Perluas Layanan lewat Cabang Baru di Cileungsi
Membangun Revolusi Pembiayaan...
Membangun Revolusi Pembiayaan Sosial Nasional Tanpa Membebani APBN
SIG Sulap 60 Ton Sampah...
SIG Sulap 60 Ton Sampah Kelapa Jadi Pakan Ternak, Peternak di Aceh Hemat 60%
Kemenko PM Gelar Global...
Kemenko PM Gelar Global Talent Day, Buka Akses Kerja ke Jepang-Jerman
Selamatkan Petani, Peran...
Selamatkan Petani, Peran DSI dalam Tata Niaga Sawit Disebut Perlu Evaluasi Ulang
Purbaya Santai Tanggapi...
Purbaya Santai Tanggapi Risiko Pencucian Uang di Patriot Bond: Bisa Dipakai Bangun Ekonomi
Infografis
10 Miliarder India di...
10 Miliarder India di 2025, Paling Tajir Berharta Rp1.497 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved