Wow, RI Butuh Duit Rp3.561 Triliun Buat Penanganan Perubahan Iklim
Jum'at, 27 Agustus 2021 - 06:21 WIB
loading...
Pemerintah membutuhkan pendanaan yang cukup besar dalam mengantisipasi Climate Change atau perubahan iklim. Sri Mulyani mengatakan, pembiayaan perubahan iklim diprediksi bisa mencapai USD247,3 miliar atau Rp 3.561 triliun. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah membutuhkan pendanaan yang sangat besar dalam mengantisipasi Climate Change atau perubahan iklim . Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan, pembiayaan perubahan iklim diprediksi bisa mencapai USD247,3 miliar atau Rp 3.561 triliun (kurs Rp 14.400) agar bisa mengurangi emisi.
"Semuanya membutuhkan biaya investasi yang luar biasa besar dan tidak mungkin hanya dilakukan oleh dilakukan APBN. Bahkan tidak bisa hanya dilakukan oleh Indonesia sendiri," kata Menkeu Sri Mulyani dalam video virtual.
Baca Juga: Sri Mulyani: Covid-19 dan Climate Change Sama, Ancaman Bagi Orang Miskin dan Kaya
Lanjutnya, penurunan emisi karbon di Indonesia akan sangat ditentukan oleh lima sektor utama. Kelima sektor tersebut yakni kehutanan, energi dan transportasi, limbah, pertanian, dan industri.
"Kita perlu memformulasikan kebijakan yang mampu menarik lebih banyak investasi untuk membangun sektor-sektor tersebut. Sehingga kelima sektor itu tetap bisa memenuhi target penurunan CO2," katanya.
"Semuanya membutuhkan biaya investasi yang luar biasa besar dan tidak mungkin hanya dilakukan oleh dilakukan APBN. Bahkan tidak bisa hanya dilakukan oleh Indonesia sendiri," kata Menkeu Sri Mulyani dalam video virtual.
Baca Juga: Sri Mulyani: Covid-19 dan Climate Change Sama, Ancaman Bagi Orang Miskin dan Kaya
Lanjutnya, penurunan emisi karbon di Indonesia akan sangat ditentukan oleh lima sektor utama. Kelima sektor tersebut yakni kehutanan, energi dan transportasi, limbah, pertanian, dan industri.
"Kita perlu memformulasikan kebijakan yang mampu menarik lebih banyak investasi untuk membangun sektor-sektor tersebut. Sehingga kelima sektor itu tetap bisa memenuhi target penurunan CO2," katanya.
Lihat Juga :