Genjot Produk Lokal, SKK Migas Dorong Kompetensi Industri Penunjang Hulu Migas
Senin, 01 November 2021 - 20:27 WIB
loading...
A
A
A
Melalui peningkatan kompetensi tersebut, diharapkan kualitas spesifikasi yang dibutuhkan industri hulu migas ke vendor bisa terpenuhi. Erwin mengungkapkan, saat ini ada sekitar 30 industri penunjang di bawah pembinaan SKK Migas dan Kontrak Kontrak Kerja Sama (KKKS).
Selain pembinaan, pihaknya juga mendorong daya saing industri penunjang hulu migas. Pasalnya, selama ini harga impor dengan lokal disparitasnya terlalu jauh sehingga membebani biaya KKKS.
Belum lagi, KKKS dituntut lebih efisien untuk menekan cost recovery. Sebab itu, SKK Migas mendorong bagaimana harga produk lokal bisa memiliki tingkat daya saing yang sama dengan impor tanpa mengurangi kualitas. "Caranya, dengan melakukan pembinaan juga mendorong agar prosesnya lebih efisien," kata dia.
Dia mengatakan, kehadiran industri hulu migas telah memberikan multiplier effect terhadap industri penunjang, hotel, UMKM, kesehatan dan lainnya. "Dampak berganda tersebut diharapkan bisa terus tumbuh untuk mendukung kelancaran operasi industri hulu migas," jelas Erwin.
Berdasarkan laporan SKK Migas, nilai kontribusi industri hulu migas bagi sejumlah industri penunjang pada 2020-2021 mencapai USD7,126 miliar atau setara Rp103 triliun. Rinciannya, industri transportasi dengan nilai USD470 juta dengan kandungan TKDN mencapai 78 persen, industri tenaga kerja USD442,76 juta dengan TKDN sebesar 86 persen, industri perhotelan senilai USD129,88 juta dengan kandungan TKDN sebesar 92 persen.
Selain pembinaan, pihaknya juga mendorong daya saing industri penunjang hulu migas. Pasalnya, selama ini harga impor dengan lokal disparitasnya terlalu jauh sehingga membebani biaya KKKS.
Belum lagi, KKKS dituntut lebih efisien untuk menekan cost recovery. Sebab itu, SKK Migas mendorong bagaimana harga produk lokal bisa memiliki tingkat daya saing yang sama dengan impor tanpa mengurangi kualitas. "Caranya, dengan melakukan pembinaan juga mendorong agar prosesnya lebih efisien," kata dia.
Dia mengatakan, kehadiran industri hulu migas telah memberikan multiplier effect terhadap industri penunjang, hotel, UMKM, kesehatan dan lainnya. "Dampak berganda tersebut diharapkan bisa terus tumbuh untuk mendukung kelancaran operasi industri hulu migas," jelas Erwin.
Berdasarkan laporan SKK Migas, nilai kontribusi industri hulu migas bagi sejumlah industri penunjang pada 2020-2021 mencapai USD7,126 miliar atau setara Rp103 triliun. Rinciannya, industri transportasi dengan nilai USD470 juta dengan kandungan TKDN mencapai 78 persen, industri tenaga kerja USD442,76 juta dengan TKDN sebesar 86 persen, industri perhotelan senilai USD129,88 juta dengan kandungan TKDN sebesar 92 persen.
Lihat Juga :