Indonesia dan Jerman Hadapi Tantangan Perubahan Iklim Lewat Proyek Infrastruktur Hijau
Kamis, 04 November 2021 - 22:34 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Nani Hendiarti, tantangan yang dihadapi Indonesia di GII adalah mengidentifikasi proyek dan membangun mekanisme komunikasi yang koheren dengan dan antar-pemerintah daerah dalam inisiatif yang kompleks ini. Hal ini kemudian digaungkan oleh Gubernur Provinsi Jawa Barat Ridwan Kamil, yang menekankan pentingnya komunikasi yang erat dengan pemerintah pusat dan memiliki sistem bottom-up yang terstruktur dengan baik untuk mewujudkan kerja nyata. Terlepas dari tantangan substansial, beliau memiliki harapan.
“Jawa Barat mengapresiasi inisiatif ini. Ini saatnya untuk memperbaiki dan melawan pemanasan global. Hal seperti ini belum ada dalam pola pikir semua orang dan itulah mengapa edukasi mengenai inisiatif hijau ini tidak mudah,” kata Ridwan Kamil.
Terlepas dari tantangannya, GII dipandang sebagai panutan bagi kerja sama bilateral atau multilateral di masa depan di seluruh dunia dalam hal-hal yang relevan dengan iklim/lingkungan.
“Gagasan untuk memiliki sistem koordinasi dari bawah ke atas sangat bagus; memiliki gubernur yang mengetahui situasi di lapangan... GII harus menjadi standar kerja sama dan pembiayaan untuk kegiatan hijau di seluruh dunia,” kata Duta Besar Indonesia untuk Republik Federal Jerman Arif Havas Oegroseno.
“Tidak ada lagi business as usual”, timpal Nani Hendiarti. “Sebaliknya, kita membutuhkan pendekatan yang inovatif, strategis, dan gesit untuk mengatasi tantangan global”
Sebelumnya, dalam sesi Kolaborasi Penanganan Sampah Plastik Laut di tempat yang sama, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut B. Pandjaitan, menekankan pentingnya solusi infrastruktur yang komprehensif dan terintegrasi untuk mengurangi polusi di sungai dan mencegahnya mengalir ke laut. Luhut menyatakan bahwa GII adalah cara inovatif untuk mempercepat dan memprioritaskan proyek infrastruktur yang relevan dengan lingkungan dan iklim.
“Jawa Barat mengapresiasi inisiatif ini. Ini saatnya untuk memperbaiki dan melawan pemanasan global. Hal seperti ini belum ada dalam pola pikir semua orang dan itulah mengapa edukasi mengenai inisiatif hijau ini tidak mudah,” kata Ridwan Kamil.
Terlepas dari tantangannya, GII dipandang sebagai panutan bagi kerja sama bilateral atau multilateral di masa depan di seluruh dunia dalam hal-hal yang relevan dengan iklim/lingkungan.
“Gagasan untuk memiliki sistem koordinasi dari bawah ke atas sangat bagus; memiliki gubernur yang mengetahui situasi di lapangan... GII harus menjadi standar kerja sama dan pembiayaan untuk kegiatan hijau di seluruh dunia,” kata Duta Besar Indonesia untuk Republik Federal Jerman Arif Havas Oegroseno.
“Tidak ada lagi business as usual”, timpal Nani Hendiarti. “Sebaliknya, kita membutuhkan pendekatan yang inovatif, strategis, dan gesit untuk mengatasi tantangan global”
Sebelumnya, dalam sesi Kolaborasi Penanganan Sampah Plastik Laut di tempat yang sama, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut B. Pandjaitan, menekankan pentingnya solusi infrastruktur yang komprehensif dan terintegrasi untuk mengurangi polusi di sungai dan mencegahnya mengalir ke laut. Luhut menyatakan bahwa GII adalah cara inovatif untuk mempercepat dan memprioritaskan proyek infrastruktur yang relevan dengan lingkungan dan iklim.
Lihat Juga :