PT KPI Siapkan Inisatif Hadapi Proses Transisi Energi
Selasa, 16 November 2021 - 21:45 WIB
loading...
A
A
A
"(Produksi) kilang akan di-convert ke petrokimia untuk kebutuhan dalam negeri. Apalagi saat ini kebutuhan petrokimia dalam negeri 70% juga masih impor. Tentunya akan sangat mengurangi CAD (current account deficit) pemerintah apabila petrokimia bisa diproduksi dalam negeri,” kata Djoko.
Inisiatif lainnya, lanjut dia, KPI akan mengembangkan produk turunan kilang lainnya, seperti bahan baku ban maupun parafin. KPI, imbuh dia, juga akan mengembangkan biorefinery yang bahan bakunya dari sawit.
Senada, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis KPI Joko Widi Wijayanto mengatakan bahwa ke depan bisnis BBM yang dikelola oleh kilang dipastikan menghadapi tantangan, yakni pergeseran permintaan akibat transisi energi dan gross margin yang rendah. Untuk itu, kata dia, KPI perlu beradaptasi dengan merencanakan produksi petrokimia dari kilang-kilangnya.
"Dengan begitu, selain mendapatkan (gross margin) USD54 per barel (dari petrokimia), KPI bisa membantu menekan CAD yang masih tinggi dengan rencana memproduksi produk petrokimia," jelasnya.
Sementara, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM mengatakan, pemerintah akan terus mendorong Pertamina menjalankan program mandatori bahan bakar nabati yang sudah tertuang dalam roadmap hingga 2030.
Dadan mengatakan, beberapa hal yang disiapkan terkait pemanfaatan bahan bakar hijau dengan kilang adalah menyusun garis waktu persiapan implementasi beyond B30, menyepakati spesifikasi untuk pencampuran untuk beyond B30, memastikan ketersediaan bahan baku, dan kesiapan badan usaha.
Inisiatif lainnya, lanjut dia, KPI akan mengembangkan produk turunan kilang lainnya, seperti bahan baku ban maupun parafin. KPI, imbuh dia, juga akan mengembangkan biorefinery yang bahan bakunya dari sawit.
Senada, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis KPI Joko Widi Wijayanto mengatakan bahwa ke depan bisnis BBM yang dikelola oleh kilang dipastikan menghadapi tantangan, yakni pergeseran permintaan akibat transisi energi dan gross margin yang rendah. Untuk itu, kata dia, KPI perlu beradaptasi dengan merencanakan produksi petrokimia dari kilang-kilangnya.
"Dengan begitu, selain mendapatkan (gross margin) USD54 per barel (dari petrokimia), KPI bisa membantu menekan CAD yang masih tinggi dengan rencana memproduksi produk petrokimia," jelasnya.
Sementara, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM mengatakan, pemerintah akan terus mendorong Pertamina menjalankan program mandatori bahan bakar nabati yang sudah tertuang dalam roadmap hingga 2030.
Dadan mengatakan, beberapa hal yang disiapkan terkait pemanfaatan bahan bakar hijau dengan kilang adalah menyusun garis waktu persiapan implementasi beyond B30, menyepakati spesifikasi untuk pencampuran untuk beyond B30, memastikan ketersediaan bahan baku, dan kesiapan badan usaha.
Lihat Juga :