BukuWarung Akselerasi UMKM dan Output Perekonomian Indonesia hingga Rp32,86 Triliun
Senin, 22 November 2021 - 15:08 WIB
loading...
A
A
A
“Seiring dengan membaiknya situasi Covid-19 di Indonesia, output ekonomi nasional mengalami peningkatan hingga Rp138 triliun. Adanya penerapan teknologi yang ditawarkan BukuWarung, seperti pencatatan keuangan digital, semakin mengakselerasi output tersebut, bahkan mencapai Rp170 triliun,” kata Nailul Huda, Peneliti INDEF.
Dampak output terbesar dirasakan oleh sektor jasa lainnya yakni sebesar Rp8,8 triliun, sektor pertanian sebesar Rp 6,9 triliun, sektor jasa konsultasi komputer dan teknologi informasi sebesar Rp 6,8 triliun, sektor ketenagalistrikan sebesar Rp 1,6 triliun, serta sektor perdagangan besar dan ritel sebesar Rp1,6 triliun.
Menyinggung permasalahan pembiayaan bagi pelaku UMKM, Teten Masduki mengungkapkan, usaha Mikro dan Kecil sulit mendapatkan pembiayaan formal karena tidak memiliki aset untuk dijaminkan serta tidak adanya pencatatan laporan keuangan. Pembiayaan akan lebih efektif jika diikuti dengan digitalisasi. Digitalisasi menjadi enabler percepatan pemulihan ekonomi nasional. Berdasarkan data idEA saat ini sebanyak 16,4 juta atau 25,6 persen UMKM telah terhubung ke ekosistem digital.
“Pelaku UMKM yang terdaftar sebagai pengguna BukuWarung mendapatkan manfaat yang signifikan seperti peningkatan produktivitas, pencatatan yang lebih terintegrasi dan lebih rapi, termasuk keuntungan atau kerugian dari bisnisnya, serta perluasan pangsa pasar. Peningkatan produktivitas berdampak pada peningkatan pendapatan pelaku usaha, penyerapan tenaga kerja, dan pengajuan kredit UMKM,” kata Nailul Huda.
Adanya pencatatan pembukuan yang lebih baik menjadikan UMKM tersebut memiliki nilai lebih untuk mengajukan pendanaan sehingga mendorong kredit UMKM sebesar Rp1,14 triliun.
Dampak output terbesar dirasakan oleh sektor jasa lainnya yakni sebesar Rp8,8 triliun, sektor pertanian sebesar Rp 6,9 triliun, sektor jasa konsultasi komputer dan teknologi informasi sebesar Rp 6,8 triliun, sektor ketenagalistrikan sebesar Rp 1,6 triliun, serta sektor perdagangan besar dan ritel sebesar Rp1,6 triliun.
Menyinggung permasalahan pembiayaan bagi pelaku UMKM, Teten Masduki mengungkapkan, usaha Mikro dan Kecil sulit mendapatkan pembiayaan formal karena tidak memiliki aset untuk dijaminkan serta tidak adanya pencatatan laporan keuangan. Pembiayaan akan lebih efektif jika diikuti dengan digitalisasi. Digitalisasi menjadi enabler percepatan pemulihan ekonomi nasional. Berdasarkan data idEA saat ini sebanyak 16,4 juta atau 25,6 persen UMKM telah terhubung ke ekosistem digital.
“Pelaku UMKM yang terdaftar sebagai pengguna BukuWarung mendapatkan manfaat yang signifikan seperti peningkatan produktivitas, pencatatan yang lebih terintegrasi dan lebih rapi, termasuk keuntungan atau kerugian dari bisnisnya, serta perluasan pangsa pasar. Peningkatan produktivitas berdampak pada peningkatan pendapatan pelaku usaha, penyerapan tenaga kerja, dan pengajuan kredit UMKM,” kata Nailul Huda.
Adanya pencatatan pembukuan yang lebih baik menjadikan UMKM tersebut memiliki nilai lebih untuk mengajukan pendanaan sehingga mendorong kredit UMKM sebesar Rp1,14 triliun.
Lihat Juga :