Marak Pesohor Beli Klub Sepak Bola: Awas! Gorengan untuk Dapat Cuan

Rabu, 02 Februari 2022 - 07:48 WIB
loading...
Marak Pesohor Beli Klub...
Jejak Raffi Ahmad membeli klub sepak bola diikuti oleh sejumlah pesohor lainnya. Foto/@raffinagita1717.
A A A
JAKARTA - Maraknya artis "big money" yang memiliki modal besar dalam mendiversifikasi bisnis panggungnya ke industri sepak bola kian menjadi perbincangan publik. Setelah Raffi Ahmad hingga Atta Halilintar, sosok Prilly Latuconsina mencuat tatkala mengakuisisi klub Liga 3, Persikota Tangerang.

Baca juga: Pakar Marketing Bedah Fenomena Artis Beli Klub Bola Indonesia, Tujuannya Buat Apa?

Prilly yang notabene merupakan pemain film dan sinetron ini mampu mendobrak kelaziman di masyarakat. Pertama, kepemilikan klub sepak bola tidak selalu identik dengan laki-laki, dan kedua tidak hanya pengusaha konvesional yang bisa memiliki klub bola.

Sejalan dengan dunia kulit bundar yang seksi, riuhnya animo penikmat bola tampaknya menjadi target artis-artis ini melebarkan kantong uangnya. Pakar Marketing dan Managing Partner Inventure Yuswohady membaca, bergabungnya seniman panggung dalam industri sepak bola menandai terbentuknya era baru investasi dunia olah raga.

"Sebelum era masuknya artis, kan sudah banyak pengusaha yang masuk klub bola bahkan buat klub bola. Kalau saya bilang, ini dimensi baru," kata Siwo, panggilan akrabnya, saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Selasa (1/2/2022).

Menurut Siwo, masuknya figur publik justru menjadi berkah bagi industri bola mengingat kecintaan masyarakat terhadap kompetisi sepak bola tak lekas padam.

Siwo menilai para seniman panggung ini mampu menggabungkan brand yang mereka bangun dengan brand klub yang dimiliki, sekaligus dapat mengkombinasikan pengikut mereka ke dalam suporter klub di tengah pangsa pasar yang lebar.

Mengingat besarnya "sense of belonging" masyarakat terhadap klub kecintaannya, suntikan modal artis di sebuah klub juga dinilai menjadi titik temu investor, pengusaha atau pemilik klub, dan konsumen.



"Artis itu juga brand. Prilly itu brand. Raffi Ahmad itu brand. Brand itu kalau dipupuk terus jadinya bagus. Kalau dia (artis) beli klub, itu bisa diinterpretasikan sebagai cobranding," tuturnya.

Namun, Siwo menyoroti bahwa keberlangsungan brand bagi suatu klub yang lekat dengan "ketokohan" akan bergantung terhadap aktivitas figur publik tersebut.

"Kalau artisnya kena narkoba, bisa jadi brandnya hancur. Sama sebenarnya dengan produk bisnis tertentu, kalau brand suatu produk kena kasus misalnya, bisa jadi dia bakal turun," terangnya.

Selain itu, Siwo menitikberatkan prospek bisnis dan branding sepak bola terletak di peminatnya. Dalam hal ini, dirinya meyakini bahwa manajemen dan komitmen pengelola klub adalah kunci brand itu bisa memiliki keberlanjutan.

"Jadi menurut saya, sustainable industri sepak bola itu ada di basis customernya. Sekali lagi, kuncinya itu ada di komitmen dan manajemen. Perlu dipertanyakan apakah saat artis itu beli, kinerja manajemennya jadi mumpuni tidak," tukasnya.

Siwo mengkhawatirkan masuknya artis dalam klub bola tanpa disertai kemampuan fundamental bisnis yang kuat, terlebih hanya mengikuti tren semata, dapat memutarbalikkan prospek usaha.

Lebih jauh Siwo menyayangkan apabila bergabungnya artis ke dalam sebuah klub hanya digunakan sebagai gorengan para pengusaha semata dalam membangun imaji positif untuk umpan dalam samudera pencarian investor.

Baca juga: Natuna Kerap Diusik China Diduga Penyebab Indonesia Ingin Beli 50 Kapal Perang

"Takutnya itu klub-klub bola hanya menggoreng ketenaran artis, baik dari pemilik lama maupun si artis juga yang kebetulan ingin punya klub. Sehingga saat sudah dapat misinya, dapat cuan, terus lari," tegasnya.
(uka)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Didukung BRI, Liga Kompas...
Didukung BRI, Liga Kompas U-14 Jadi Ajang Pembinaan Sepak Bola Usia Dini Terbesar di Indonesia
Dukung Pembinaan Sepak...
Dukung Pembinaan Sepak Bola Usia Muda, BRI Jadi Sponsor Utama LKG U-14
MSIG Jadi Mitra Asuransi...
MSIG Jadi Mitra Asuransi Resmi Turnamen ASEAN United FC
Makin Seru, Cek Jadwal...
Makin Seru, Cek Jadwal Pertandingan Pegadaian Liga 2 Pekan Ini
Pegadaian Liga 2 Kembali...
Pegadaian Liga 2 Kembali Hadir, Erick Thohir: Harus Solid Bangun Sepak Bola Bersih
Gaji Tukang Las di Kanada,...
Gaji Tukang Las di Kanada, Seperti yang Dilakoni Artis Tengku Firmansyah
Berangkat Umrah, Ruben...
Berangkat Umrah, Ruben Onsu Serahkan Semua Masalah dalam Doa di Depan Ka'bah
Tantri Kotak Jadi Korban...
Tantri Kotak Jadi Korban Penipuan, Uang Rp10 Miliar Diduga Dibawa Kabur Teman Sendiri
Sepak Bola Gelorakan...
Sepak Bola Gelorakan Kampanye Dont Stop The Celebration, Ajak Masyarakat Rayakan Kebersamaan
Rekomendasi
Tiyo UGM Dilaporkan...
Tiyo UGM Dilaporkan ke Polisi, Ray Rangkuti: Harusnya Orang Jahat yang Dihukum Bukan yang Berpikir
Mengapa Harga Beras...
Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?
Berkas Perkara Roy Suryo...
Berkas Perkara Roy Suryo dan Dokter Tifa Dilimpahkan ke PN Jakarta Timur
Berita Terkini
Damessa Perluas Layanan...
Damessa Perluas Layanan lewat Cabang Baru di Cileungsi
Membangun Revolusi Pembiayaan...
Membangun Revolusi Pembiayaan Sosial Nasional Tanpa Membebani APBN
SIG Sulap 60 Ton Sampah...
SIG Sulap 60 Ton Sampah Kelapa Jadi Pakan Ternak, Peternak di Aceh Hemat 60%
Kemenko PM Gelar Global...
Kemenko PM Gelar Global Talent Day, Buka Akses Kerja ke Jepang-Jerman
Selamatkan Petani, Peran...
Selamatkan Petani, Peran DSI dalam Tata Niaga Sawit Disebut Perlu Evaluasi Ulang
Purbaya Santai Tanggapi...
Purbaya Santai Tanggapi Risiko Pencucian Uang di Patriot Bond: Bisa Dipakai Bangun Ekonomi
Infografis
4 Kasus Kecurangan Wasit...
4 Kasus Kecurangan Wasit Paling Buruk dalam Sepak Bola
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved