Lifting Migas 2021 Tak Capai Target, SKK Migas Beberkan Alasannya
Rabu, 02 Februari 2022 - 16:33 WIB
loading...
Realisasi lifting migas tahun 2021 tak mencapai target akibat sejumlah faktor, khususnya pandemi. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menjelaskan bahwa realisasi lifting migas tahun 2021 tidak mencapai target yang ditetapkan akibat sejumlah faktor. Sepanjang 2021, realisasi lifting minyak tercatat mencapai 660 ribu barrel oil per day (BOPD) dan gas mencapai 982 ribu barrel oil equivalent per day (BOEPD).
"Memang memasuki 2021 itu kita terpukul karena ada pandemi, kira-kira kita minus (produksi) 20 ribu BOEPD rata-rata dalam satu tahun, lalu ada unplanned shutdown juga berpengaruh di kilang LNG Tangguh dan ConocoPhilip," papar Kepala SKK Migas Dwi Sutjipto dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VII DPR, Rabu (2/2/2022).
Baca Juga: Ini 28 Wilayah yang Diyakini Hasilkan Cuan dari Tambang dan Migas
Dia melanjutkan, seharusnya LNG Tangguh train 3 juga beroperasi di triwulan III 2021. Namun, karena adanya pandemi Covid-19, jadwalnya digeser ke akhir 2022. "Selain itu kandungan air di Cepu (Mobil Cepu LTD) meningkat sehingga ikut mempengaruhi lifting," tuturnya.
Dwi menjelaskan, hambatan lainnya adalah sejumlah masalah di kegiatan drilling dan workover, mulai dari masalah final investment hingga perizinan. Namun Dwi mengatakan bahwa SKK Migas telah mengatasi masalah ini di akhir 2021.
"Memang memasuki 2021 itu kita terpukul karena ada pandemi, kira-kira kita minus (produksi) 20 ribu BOEPD rata-rata dalam satu tahun, lalu ada unplanned shutdown juga berpengaruh di kilang LNG Tangguh dan ConocoPhilip," papar Kepala SKK Migas Dwi Sutjipto dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VII DPR, Rabu (2/2/2022).
Baca Juga: Ini 28 Wilayah yang Diyakini Hasilkan Cuan dari Tambang dan Migas
Dia melanjutkan, seharusnya LNG Tangguh train 3 juga beroperasi di triwulan III 2021. Namun, karena adanya pandemi Covid-19, jadwalnya digeser ke akhir 2022. "Selain itu kandungan air di Cepu (Mobil Cepu LTD) meningkat sehingga ikut mempengaruhi lifting," tuturnya.
Dwi menjelaskan, hambatan lainnya adalah sejumlah masalah di kegiatan drilling dan workover, mulai dari masalah final investment hingga perizinan. Namun Dwi mengatakan bahwa SKK Migas telah mengatasi masalah ini di akhir 2021.
Lihat Juga :