Siap-siap, Perang Rusia vs Ukraina Bikin Harga Bahan Pokok Meroket
Kamis, 24 Februari 2022 - 17:00 WIB
loading...
Perang Rusia dan Ukraina akan membuat kenaikan inflasi. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Direktur Eksekutif Center of Law and Economic Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, serangan Rusia ke Ukraina akan mengerek inflasi di Indonesia. Situasi itu akan menambah pekerjaan rumah (PR) pemerintah dalam mengubah APBN.
Baca juga: Indonesia Prihatin Perang Berkobar antara Rusia dan Ukraina
Diketahui, konflik antara Rusia dan Ukraina mendongkrak harga minyak dunia hingga menembus USD100 per barel. Harga minyak brent melesat 2,85% menjadi USD100,07 per barel. Sementara jenis light Sweet WTI melompat 3,01% menjadi USD94,9 per barel.
"Efek dari harga komoditas minyak mentah akan meningkatkan inflasi," ujar Bhima saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Kamis (24/2/2022).
Menurut Bhima, pengaruh melonjaknya harga minyak mentah tersebut akan membuat harga BBM di Tanah Air ikut naik. Tak pelak, biaya pengiriman barang dan biaya logistik akan jauh lebih mahal. Efeknya pada harga kebutuhan pokok semakin meningkat, daya beli masyarakat semakin rendah, dan efek terhadap subsidi energi juga akan membengkak cukup signifikan.
"Itu karena pada asumsi makro APBN, harga minyak hanya tercatat USD63 per barel. Jadi gap antara harga minyak yang ditetapkan dalam APBN dengan harga minyak mentah yang riil di lapangan sudah terlalu jauh, maka imbasnya akan ada pembengkakan dari subsidi energi yang signifikan," tambahnya.
Oleh karena itu, Bhima mendesak pemerintah untuk segera melakukan perubahan APBN guna menyesuaikan kembali beberapa indikator, khususnya nilai tukar rupiah dan juga inflasi.
"Karena inflasinya bisa lebih tinggi daripada perkiraan," cetusnya.
Baca juga: 5 Gedung Termahal di Jakarta, Nomor 1 Kelas Premium di Asia Tenggara
Selain itu, Bhima bilang, pemerintah juga perlu melakukan antisipasi, seperti melakukan tambahan dana PEN, yang mencakup stabilitas harga pangan dan juga stabilitas harga energi ke dalam komponen anggaran PEN.
"Karena ini mengancam pada stabilitas dan pemulihan ekonomi sepanjang 2022," tandasnya.
Baca juga: Indonesia Prihatin Perang Berkobar antara Rusia dan Ukraina
Diketahui, konflik antara Rusia dan Ukraina mendongkrak harga minyak dunia hingga menembus USD100 per barel. Harga minyak brent melesat 2,85% menjadi USD100,07 per barel. Sementara jenis light Sweet WTI melompat 3,01% menjadi USD94,9 per barel.
"Efek dari harga komoditas minyak mentah akan meningkatkan inflasi," ujar Bhima saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Kamis (24/2/2022).
Menurut Bhima, pengaruh melonjaknya harga minyak mentah tersebut akan membuat harga BBM di Tanah Air ikut naik. Tak pelak, biaya pengiriman barang dan biaya logistik akan jauh lebih mahal. Efeknya pada harga kebutuhan pokok semakin meningkat, daya beli masyarakat semakin rendah, dan efek terhadap subsidi energi juga akan membengkak cukup signifikan.
"Itu karena pada asumsi makro APBN, harga minyak hanya tercatat USD63 per barel. Jadi gap antara harga minyak yang ditetapkan dalam APBN dengan harga minyak mentah yang riil di lapangan sudah terlalu jauh, maka imbasnya akan ada pembengkakan dari subsidi energi yang signifikan," tambahnya.
Oleh karena itu, Bhima mendesak pemerintah untuk segera melakukan perubahan APBN guna menyesuaikan kembali beberapa indikator, khususnya nilai tukar rupiah dan juga inflasi.
"Karena inflasinya bisa lebih tinggi daripada perkiraan," cetusnya.
Baca juga: 5 Gedung Termahal di Jakarta, Nomor 1 Kelas Premium di Asia Tenggara
Selain itu, Bhima bilang, pemerintah juga perlu melakukan antisipasi, seperti melakukan tambahan dana PEN, yang mencakup stabilitas harga pangan dan juga stabilitas harga energi ke dalam komponen anggaran PEN.
"Karena ini mengancam pada stabilitas dan pemulihan ekonomi sepanjang 2022," tandasnya.
(uka)
Lihat Juga :