Bahaya Perang Kian Nyata, Krisis Rantai Pasok Mulai Mencemaskan

Jum'at, 04 Maret 2022 - 18:31 WIB
loading...
Bahaya Perang Kian Nyata,...
Orang-orang menunggu untuk dievakuasi ke Rusia di tengah krisis di Donetsk di Ukraina timur, Jumat (18/2/2022). FOTO/AP PHOTO/ALEXEI ALEXANDROV
A A A
JAKARTA - Tanda bahaya perang Rusia Ukraina kian nyata. Krisis rantai pasok semakin mencemaskan. Sebab itu pemerintah perlu melakukan mitigasi dengan cepat karena dikhawatirkan mengerek harga kebutuhan pokok di dalam negeri dan menambah beban berat pemulihan ekonomi Indonesia.

"Selama ini Bank Indonesia dan pemerintah yaitu Kementerian Keuangan selalu membicarakan exit strategy dari kondisi pandemi ini. Dengan adanya konflik ini, exit strategy ini pastinya akan lebih sulit lagi, lebih menantang lagi," kata Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri dalam IDX Channel Market Review, Jumat (4/2/2022).

Baca Juga: Perang Rusia vs Ukraina, Duo Klitschko Bunuh 6 Tentara Rusia

Lebih lanjut, di satu sisi, kenaikan harga-harga kebutuhan pokok seperti minyak, gas, dan komoditi lainnya harus diimbangi dengan kebijakan moneter yang tepat. Di sisi lain, ekonomi Indonesia harus lebih ekspansif untuk memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi.

Menurut Yose, Indonesia akan mendapat kesulitan jika sektor keuangan global masih akan tidak pasti dengan adanya pandemi ditambah dengan konflik Rusia-Ukraina ini. Di samping itu,, Indonesia harus mempercepat vaksinasi masyarakat agar pandemi Covid-19 tidak mengganggu pemulihan ekonomi.

Baca Juga: Ukraina Sebut Pasukan Rusia Rebut Pembangkit Nuklir Zaporizhzhia

"Jadi hal-hal seperti ini mix antara kebijakan ekonomi yang lebih ketat dengan kebijakan fiskal yang lebih ekspansif tentunya harus diperhatikan benar-benar," ujar Yose.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengenal Lipstick Effect,...
Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi
Inflasi Indonesia Mei...
Inflasi Indonesia Mei 2026 Capai 3,08%, Ini Pendorongnya
Inflasi Medis Picu Kenaikan...
Inflasi Medis Picu Kenaikan Biaya Kesehatan, Allianz Ingatkan Pentingnya Proteksi Jangka Panjang
Rubel Jadi Mata Uang...
Rubel Jadi Mata Uang Terkuat di Dunia, Sanksi Barat ke Rusia Tak Mempan
Eropa Diam-diam Borong...
Eropa Diam-diam Borong Gas Rusia hingga Tembus Rekor, Terjebak Skenario Krisis Energi?
Ekonomi Rusia Menyusut...
Ekonomi Rusia Menyusut tapi Rakyatnya Makin Kaya, Moskow Kebal Sanksi Barat?
Beda dengan Pejabat...
Beda dengan Pejabat Eropa, Jenderal Senior NATO Ini Sebut Rusia Tak Mencari Konflik
Eks Kepala AL Jerman:...
Eks Kepala AL Jerman: Uni Eropa Bisa 'Berjalan Tanpa Sadar' Menuju Perang Melawan Rusia
Ciptakan Krisis Energi...
Ciptakan Krisis Energi di Rusia, Drone Ukraina Serang Krimea dan Kilang Minyak Utama
Rekomendasi
Perbandingan 5 Varian...
Perbandingan 5 Varian BYD M6 DM: Mana yang Pas untuk Kebutuhan Anda?
Penampakan Andri Mulyono...
Penampakan Andri Mulyono Pakai Rompi Tahanan usai Jadi Tersangka Baru Pengadaan Motor Listrik BGN
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Berita Terkini
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
SIG Resmikan Fasilitas...
SIG Resmikan Fasilitas Ekspor Tuban, Bidik 450.000 Ton Semen ke AS
Penguatan IHSG dan Rupiah...
Penguatan IHSG dan Rupiah Berlanjut, Pasar Respons Positif Kepastian Posisi Menkeu
Perdana, Danantara Terbitkan...
Perdana, Danantara Terbitkan Obligasi Global Senilai USD1,5 Miliar
Sucofindo Gelar ENSIA...
Sucofindo Gelar ENSIA 2026, Dorong Inovasi Berkelanjutan
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved