Ibu Kota Pindah, MMC Minat Bangun RS di IKN Nusantara
Sabtu, 05 Maret 2022 - 08:58 WIB
loading...
Chief Executive Officer (CEO) Metropolitan Medical Centre Hospital atau RSMMC Roswin Rosnim Djaafar. Foto/dok pribadi
A
A
A
JAKARTA - Industri rumah sakit (RS) siap berekspansi dengan membuka cabang di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur. Jika merujuk pada Undang-undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara, pada Lampiran 2 disebutkan bahwa pembangunan fasilitas kesehatan dan RS internasional akan mulai dilakukan pada awal 2023 hingga 2025.
Para pelaku industri rumah sakit pun ancang-ancang dan mencari peluang untuk membuka cabang RS di Ibu Kota baru yang berlokasi di kabupaten Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara.
Chief Executive Officer Metropolitan Medical Centre Hospital atau RSMMC Roswin Rosnim Djaafar menyatakan, RSMMC yang saat ini berkedudukan di kota metropolitan Jakarta memang berniat untuk ekspansi ke lima kota besar di pulau Jawa dan Bali.
Menyusul keputusan pemerintah memindahkan Ibu Kota ke Kalimantan Timur, RSMMC yang sudah beroperasi lebih dari tiga dekade dan menjadi rujukan pasien dari banyak daerah juga mempertimbangkan untuk buka cabang di IKN Nusantara.
“Kalau di IKN sudah boleh dan memungkinkan, ya kami ingin buka di Ibu Kota baru juga. Apalagi RS ini kan namanya Metropolitan Medical Centre, kalau metro-nya pindah ya mau nggak mau kami juga ikut,” ujarnya dalam sesi wawancara khusus dengan SINDOmedia secara virtual, dikutip Sabtu (5/3/2022).
Baca juga: Jokowi Segera Umumkan Nama Kepala Otorita IKN
Saat ini industri kesehatan dan farmasi termasuk rumah sakit sedang seksi-seksinya sehingga banyak dilirik investor. Menurut Roswin, industri rumah sakit juga tergolong tahan banting, bahkan menjadi penopang industri lainnya pada saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.
“Potensinya menarik saat ini sehingga investor berbondong-bondong masuk dan group chain rumah sakit juga sibuk mencari RS baru untuk dibeli. Termasuk RSMMC (akan ekspansi), hanya sedang mencari momen yang pas buat buka cabang,” ungkap alumnus kedokteran Universitas Indonesia (UI) itu.
Roswin menambahkan, industri rumah sakit di Indonesia masih sangat prospektif untuk dikembangkan mengingat populasi yang besar namun belum diimbangi ketersediaan tempat tidur (bed) atau kamar perawatan di rumah sakit yang memadai.
“Kalau dilihat dari rasio bed dengan jumlah penduduk, kita masih jauh ketinggalan dari Singapura, Malaysia bahkan Filipina. Jadi, masih bisa nambah dan harus bertambah banyak bed-nya,” tuturnya.
Baca juga: BOR Rumah Sakit di Kota Bekasi Turun Menjadi 30%
Dia menyebut RS di Singapura rata-rata memiliki jumlah tempat tidur yang banyak, berkisar 300-500 bed. Sedangkan rata-rata RS swasta di Indonesia memiliki 155-250 bed.
“Jadi peluangnya cukup bagus dan ini membuat persaingan di industri RS makin seru dan kreatif. Ujungnya yang diuntungkan pasien karena RS berlomba-lomba meningkatkan kualitas pelayanan,” ucapnya.
Untuk meningkatkan daya saing dan pelayanan, sambung Roswin, RSMMC berupaya terus menggali keunikan dan keunggulan kompetitif.
![Ibu Kota Pindah, MMC Minat Bangun RS di IKN Nusantara]()
Dalam hal ini, RSMMC dengan pengalaman 35 tahun serta memiliki 30 profesor yang ahli di bidang kesehatan dan kedokteran, diklaim mumpuni dan memiliki Kepemimpinan Klinik atau Clinical Leadership yang tidak dimiliki RS lain.
“Kami berupaya memberikan hasil terbaik di Indonesia sehingga kerap menjadi rujukan pasien. Biasanya pasien sebelum dirujuk ke luar negeri juga mereka ke RSMMC dulu,” ungkap dokter berkacamata itu.
Roswin menambahkan, strategi lainnya adalah dengan melakukan transformasi digital, di mana sejak Februari 2020 RSMMC bermigrasi ke sistem baru yang serbadigital. Juga, menggencarkan promosi, sosialisasi dan edukasi melalui konten di website dan media sosial.
“Kami juga bermitra dengan pihak-pihak yang punya visi sama tentang pelayanan kesehatan, dan ke depan juga ingin mengembangkan ekosistem bersama mitra perbankan,” pungkasnya.
Para pelaku industri rumah sakit pun ancang-ancang dan mencari peluang untuk membuka cabang RS di Ibu Kota baru yang berlokasi di kabupaten Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara.
Chief Executive Officer Metropolitan Medical Centre Hospital atau RSMMC Roswin Rosnim Djaafar menyatakan, RSMMC yang saat ini berkedudukan di kota metropolitan Jakarta memang berniat untuk ekspansi ke lima kota besar di pulau Jawa dan Bali.
Menyusul keputusan pemerintah memindahkan Ibu Kota ke Kalimantan Timur, RSMMC yang sudah beroperasi lebih dari tiga dekade dan menjadi rujukan pasien dari banyak daerah juga mempertimbangkan untuk buka cabang di IKN Nusantara.
“Kalau di IKN sudah boleh dan memungkinkan, ya kami ingin buka di Ibu Kota baru juga. Apalagi RS ini kan namanya Metropolitan Medical Centre, kalau metro-nya pindah ya mau nggak mau kami juga ikut,” ujarnya dalam sesi wawancara khusus dengan SINDOmedia secara virtual, dikutip Sabtu (5/3/2022).
Baca juga: Jokowi Segera Umumkan Nama Kepala Otorita IKN
Saat ini industri kesehatan dan farmasi termasuk rumah sakit sedang seksi-seksinya sehingga banyak dilirik investor. Menurut Roswin, industri rumah sakit juga tergolong tahan banting, bahkan menjadi penopang industri lainnya pada saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.
“Potensinya menarik saat ini sehingga investor berbondong-bondong masuk dan group chain rumah sakit juga sibuk mencari RS baru untuk dibeli. Termasuk RSMMC (akan ekspansi), hanya sedang mencari momen yang pas buat buka cabang,” ungkap alumnus kedokteran Universitas Indonesia (UI) itu.

Roswin menambahkan, industri rumah sakit di Indonesia masih sangat prospektif untuk dikembangkan mengingat populasi yang besar namun belum diimbangi ketersediaan tempat tidur (bed) atau kamar perawatan di rumah sakit yang memadai.
“Kalau dilihat dari rasio bed dengan jumlah penduduk, kita masih jauh ketinggalan dari Singapura, Malaysia bahkan Filipina. Jadi, masih bisa nambah dan harus bertambah banyak bed-nya,” tuturnya.
Baca juga: BOR Rumah Sakit di Kota Bekasi Turun Menjadi 30%
Dia menyebut RS di Singapura rata-rata memiliki jumlah tempat tidur yang banyak, berkisar 300-500 bed. Sedangkan rata-rata RS swasta di Indonesia memiliki 155-250 bed.
“Jadi peluangnya cukup bagus dan ini membuat persaingan di industri RS makin seru dan kreatif. Ujungnya yang diuntungkan pasien karena RS berlomba-lomba meningkatkan kualitas pelayanan,” ucapnya.
Untuk meningkatkan daya saing dan pelayanan, sambung Roswin, RSMMC berupaya terus menggali keunikan dan keunggulan kompetitif.

Dalam hal ini, RSMMC dengan pengalaman 35 tahun serta memiliki 30 profesor yang ahli di bidang kesehatan dan kedokteran, diklaim mumpuni dan memiliki Kepemimpinan Klinik atau Clinical Leadership yang tidak dimiliki RS lain.
“Kami berupaya memberikan hasil terbaik di Indonesia sehingga kerap menjadi rujukan pasien. Biasanya pasien sebelum dirujuk ke luar negeri juga mereka ke RSMMC dulu,” ungkap dokter berkacamata itu.
Roswin menambahkan, strategi lainnya adalah dengan melakukan transformasi digital, di mana sejak Februari 2020 RSMMC bermigrasi ke sistem baru yang serbadigital. Juga, menggencarkan promosi, sosialisasi dan edukasi melalui konten di website dan media sosial.
“Kami juga bermitra dengan pihak-pihak yang punya visi sama tentang pelayanan kesehatan, dan ke depan juga ingin mengembangkan ekosistem bersama mitra perbankan,” pungkasnya.
(ind)
Lihat Juga :