Larang Ekspor Nikel hingga Bauksit, Jokowi Tak Takut Digugat
Jum'at, 11 Maret 2022 - 14:39 WIB
loading...
A
A
A
"Baru satu yang namanya barang nikel padahal kita memiliki bauksit untuk alumina, tembaga, timah, emas dan komoditas-komoditas perkebunan dan pertanian. Betapa kalau ini satu persatu kita memiliki keberanian untuk bilang stop, munculnya angka-angka yang tadi saya sampaikan," kata Jokowi.
Menyetop ekspor barang mentah tersebut, kata Jokowi, juga dapat membuka lapangan kerja dan Kementerian Keuangan dapat memungut pajak.
"Tapi begitu kita bilang stop nikel, stop ekspor bahan mentah nikel, kita digugat ama uni eropa. Belum rampung sampai sekarang. Nggak apa-apa. Ini belum rampung, saya udah perintah lagi bauksit tahun ini stop biar digugat lagi," kata Jokowi.
Baca Juga: Setop Ekspor Bahan Mentah, Jokowi: Negara-Negara Maju Ngamuk Semua
"Bauksit stop tahun depan stop lagi tembaga atau timahnya biar digugat lagi. Nggak apa-apa digugatin terus, belum tentu kita kalah, tapi belum tentu juga kita menang tapi keberanian itu harus kita lakukan. Kalau kita enggak pernah mencoba, kita enggak akan tahu kita menang atau kalah, kita benar atau enggak bener, Tapi yang ini bener. Stop itu benar. Kita tahu karena dari Rp 15 triliun melompat menjadi Rp 300 triliun," tambahnya
Menyetop ekspor barang mentah tersebut, kata Jokowi, juga dapat membuka lapangan kerja dan Kementerian Keuangan dapat memungut pajak.
"Tapi begitu kita bilang stop nikel, stop ekspor bahan mentah nikel, kita digugat ama uni eropa. Belum rampung sampai sekarang. Nggak apa-apa. Ini belum rampung, saya udah perintah lagi bauksit tahun ini stop biar digugat lagi," kata Jokowi.
Baca Juga: Setop Ekspor Bahan Mentah, Jokowi: Negara-Negara Maju Ngamuk Semua
"Bauksit stop tahun depan stop lagi tembaga atau timahnya biar digugat lagi. Nggak apa-apa digugatin terus, belum tentu kita kalah, tapi belum tentu juga kita menang tapi keberanian itu harus kita lakukan. Kalau kita enggak pernah mencoba, kita enggak akan tahu kita menang atau kalah, kita benar atau enggak bener, Tapi yang ini bener. Stop itu benar. Kita tahu karena dari Rp 15 triliun melompat menjadi Rp 300 triliun," tambahnya
Lihat Juga :