Pertamina Bukukan Laba Bersih Rp35,8 Triliun di 2019
Kamis, 18 Juni 2020 - 22:23 WIB
loading...
A
A
A
Berdasarkan data pada Laporan Tahunan 2019, Pertamina konsisten untuk terus mewujudkan ketahanan energi nasional, dimulai dari survei seismik yang masif untuk menemukan cadangan migas baru yang diharapkan sebagai penemuan cadangan migas raksasa (giant discovery) bagi Indonesia.
Selanjutnya, meskipun tanpa akuisisi besar, Pertamina mampu mempertahankan produksi migasnya pada tahun 2019 melalui kegiatan operasional yang intensif yaitu pengeboran 322 sumur pengembangan, 14 sumur eksplorasi dan melakukan 751 kegiatan workover, serta 13.683 well services.
“Saat ini, Pertamina telah memiliki lapangan migas yang yang tersebar di 13 negara di benua Asia, Afrika, Amerika, dan Eropa. Dari lapangan tersebut, kami berharap dapat mendukung aspirasi pemerintah mencapai 1 juta bph dan 4.000 juta kaki kubvik (MMSCFD) di tahun 2024," ujarnya.
Selain itu, untuk mendukung ketahanan ekonomi negara, pada tahun 2019, menurut Fariyah, Pertamina juga mencatat capaian penting dengan adanya penurunan nilai impor minyak mentah sebesar 35% dan produk sebesar 11%. Langkah ini dapat menghemat devisa sebesar USD7,3 miliar atau sekira Rp109 triliun.
Sejak awal tahun 2019, Pertamina juga telah menyetop impor solar dan avtur pada Februari dan Maret. Bahkan, saat ini Pertamina mencatat volume penjualan Avtur di pasar luar negeri yang terus meningkat mencapai 754.000 kiloliter (KL) dan melayani maskapai domestik dan internasional di 40 bandara dari 20 negara.
“Untuk menekan impor migas, Pertamina juga terus melanjutkan komitmen implementasi B30 lebih cepat pada November 2019, yang target pada Januari 2020," imbuh Fajriyah.
Selanjutnya, meskipun tanpa akuisisi besar, Pertamina mampu mempertahankan produksi migasnya pada tahun 2019 melalui kegiatan operasional yang intensif yaitu pengeboran 322 sumur pengembangan, 14 sumur eksplorasi dan melakukan 751 kegiatan workover, serta 13.683 well services.
“Saat ini, Pertamina telah memiliki lapangan migas yang yang tersebar di 13 negara di benua Asia, Afrika, Amerika, dan Eropa. Dari lapangan tersebut, kami berharap dapat mendukung aspirasi pemerintah mencapai 1 juta bph dan 4.000 juta kaki kubvik (MMSCFD) di tahun 2024," ujarnya.
Selain itu, untuk mendukung ketahanan ekonomi negara, pada tahun 2019, menurut Fariyah, Pertamina juga mencatat capaian penting dengan adanya penurunan nilai impor minyak mentah sebesar 35% dan produk sebesar 11%. Langkah ini dapat menghemat devisa sebesar USD7,3 miliar atau sekira Rp109 triliun.
Sejak awal tahun 2019, Pertamina juga telah menyetop impor solar dan avtur pada Februari dan Maret. Bahkan, saat ini Pertamina mencatat volume penjualan Avtur di pasar luar negeri yang terus meningkat mencapai 754.000 kiloliter (KL) dan melayani maskapai domestik dan internasional di 40 bandara dari 20 negara.
“Untuk menekan impor migas, Pertamina juga terus melanjutkan komitmen implementasi B30 lebih cepat pada November 2019, yang target pada Januari 2020," imbuh Fajriyah.
Lihat Juga :