Kebutuhan Jagung Industri Pangan Dalam Negeri Capai 1,6 Juta Ton
Sabtu, 07 Mei 2022 - 09:30 WIB
loading...
Kebutuhan jagung untuk industri pangan di Tanah Air diprediksi meningkat menjadi sekitar 1,5 hingga 1,6 juta ton tahun 2022 ini. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Kebutuhan jagung untuk industri pangan di Tanah Air diprediksi meningkat menjadi sekitar 1,5 hingga 1,6 juta ton tahun 2022 ini. Hal itu diungkapkan Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arif.
Menurut dia, kebutuhan bahan baku jagung dalam negeri saat ini tidak sebanding dengan pasokan yang tersedia. Kebutuhan bahan baku jagung bagi industri pangan yang mencapai sekitar 1,2 juta ton pada 2021, baru dapat dipenuhi dari pasokan dalam negeri sebesar tujuh ribu ton.
"Sedangkan kebutuhan jagung untuk industri pangan di tahun 2022 diperkirakan meningkat menjadi sekitar 1,5 – 1,6 juta ton seiring dengan sudah beroperasinya satu investasi industri pati jagung baru di dalam negeri," paparnya, Jumat (6/5/2022).
Ia menerangkan, masih rendahnya pasokan jagung untuk industri pangan disebabkan sulitnya mendapatkan jagung dengan tingkat kandungan aflatoksin di bawah 20 ppb (part per billion).
"Itu merupakan angka maksimum kandungan aflaktoksin dalam jagung yang dipersyaratkan untuk industri pangan. Sedangkan untuk bahan baku industri pakan, angka aflaktoksin maksimum 50 ppb,” ujar Febri.
Baca Juga: Pengamat: Indonesia Sukses Tingkatkan Produktivitas Padi dan Jagung
Menurut dia, kebutuhan bahan baku jagung dalam negeri saat ini tidak sebanding dengan pasokan yang tersedia. Kebutuhan bahan baku jagung bagi industri pangan yang mencapai sekitar 1,2 juta ton pada 2021, baru dapat dipenuhi dari pasokan dalam negeri sebesar tujuh ribu ton.
"Sedangkan kebutuhan jagung untuk industri pangan di tahun 2022 diperkirakan meningkat menjadi sekitar 1,5 – 1,6 juta ton seiring dengan sudah beroperasinya satu investasi industri pati jagung baru di dalam negeri," paparnya, Jumat (6/5/2022).
Ia menerangkan, masih rendahnya pasokan jagung untuk industri pangan disebabkan sulitnya mendapatkan jagung dengan tingkat kandungan aflatoksin di bawah 20 ppb (part per billion).
"Itu merupakan angka maksimum kandungan aflaktoksin dalam jagung yang dipersyaratkan untuk industri pangan. Sedangkan untuk bahan baku industri pakan, angka aflaktoksin maksimum 50 ppb,” ujar Febri.
Baca Juga: Pengamat: Indonesia Sukses Tingkatkan Produktivitas Padi dan Jagung
Lihat Juga :