Regulasi Lemah, Baja Impor Akan Intensif Serbu Pasar Domestik
Selasa, 23 Juni 2020 - 16:12 WIB
loading...
A
A
A
Dia juga mengaku pada kuartal II 2020 ini, dampak Covid-19 sudah terasa dibandingkan kuartal pertama. Menurutnya, ada beberapa faktor, seperti kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang ditetapkan pemerintah berdampak pada terganggunya distribusi barang. Kemudian beberapa industri juga sudah mulai berhenti beroperasi. Karena produk baja bukan hanya untuk proyek infrastruktur saja, melainkan juga bergantung pada industri lain.
"Baja itu mother of industry yang sangat tergantung pada kondisi industri lain. Seperti otomotif, baja ringan, atap termasuk juga galangan kapal, minyak dan gas," jelasnya.
Namun beruntung beberapa anak usaha dari Krakatau Steel berhasil memberikan kontribusi yang cukup besar. Sehingga, kinerja keuangan perseroan tidak jatuh terlalu dalam.
"Kita berusaha kejar efisiensi tutup pengeluaran. Lalu ada anak usaha pelabuhan yang kinerjanya bagus. Bisnis bajanya terdampak, tapi pelabuhan kita untungnya lebih besar. Hari ini ini terminal tercepat dan terbesar bahkan sudah dilakukan otomatisasi," ujarnya.
Wakil Komite Tetap Industri Hulu dan Petrokimia Kadin Indonesia Achmad Widjaja mengatakan, saat ini masih ada beberapa kelemahan industri baja domestik sehingga impor baja masih tinggi. Hal paling penting menurut dia adalah pemerintah harus kembali pada kebijakan industri baja yang terintegrasi. Saat ini ada banyak regulasi tumpang tindih sehingga mengganggu stabilitas industri baja.
"Baja itu mother of industry yang sangat tergantung pada kondisi industri lain. Seperti otomotif, baja ringan, atap termasuk juga galangan kapal, minyak dan gas," jelasnya.
Namun beruntung beberapa anak usaha dari Krakatau Steel berhasil memberikan kontribusi yang cukup besar. Sehingga, kinerja keuangan perseroan tidak jatuh terlalu dalam.
"Kita berusaha kejar efisiensi tutup pengeluaran. Lalu ada anak usaha pelabuhan yang kinerjanya bagus. Bisnis bajanya terdampak, tapi pelabuhan kita untungnya lebih besar. Hari ini ini terminal tercepat dan terbesar bahkan sudah dilakukan otomatisasi," ujarnya.
Wakil Komite Tetap Industri Hulu dan Petrokimia Kadin Indonesia Achmad Widjaja mengatakan, saat ini masih ada beberapa kelemahan industri baja domestik sehingga impor baja masih tinggi. Hal paling penting menurut dia adalah pemerintah harus kembali pada kebijakan industri baja yang terintegrasi. Saat ini ada banyak regulasi tumpang tindih sehingga mengganggu stabilitas industri baja.
Lihat Juga :