Peran Hulu Migas Tetap Penting di Tengah Laju Transisi Energi
Kamis, 16 Juni 2022 - 08:41 WIB
loading...
A
A
A
Dia menegaskan, DEN juga terus mendorong perbaikan iklim investasi migas agar investor betah berinvestasi di Indonesia dengan memonetisasi lapangan migas yang ada. DEN juga mewanti-wanti agar produksi migas jangan sampai turun karena berdasarkan skenario yang telah disusun pihaknya, gas menjadi tulang punggung dalam strategi transisi energi di Indonesia. "Migas masih jadi andalan sampai EBT siap mengambil alih," tandasnya.
Baca Juga: Daftar 24 Negara Lolos Piala Asia 2023 termasuk Indonesia
Sekretaris SKK Migas Taslim Z Yunus pun sepakat. Menurut dia, outlook kebutuhan energi Indonesia menunjukkan bahwa masih ada ruang bagi industri migas untuk terus tumbuh. Dalam transisi energi menuju net zero emission, porsi energi fosil dalam bauran energi Indonesia pada tahun 2060 diproyeksikan masih akan sekitar 34% persen.
Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menyatakan, semua pihak sepakat bahwa industri hulu migas masih sangat penting. Karena itu, kata dia, tinggal lagi bagaimana mengelolanya secara bijaksana. "Indonesia harus belajar dari beberapa negara seperti Brasil, Australia, dan Kanada yang memberikan insentif kepada operator sehingga produksi migas di ketiga negara tersebut ikut meningkat. Hal ini pada gilirannya juga meningkatkan penerimaan negara dari sektor tersebut," tegasnya.
Kajian yang dilakukan Reforminer memperlihatkan bahwa dari 185 sektor industri di Indonesia, sekitar 145 sektor atau 70-80 %, memiliki keterkaitan dengan sektor hulu migas. "Index multiplier effect-nya mencapai 39. Jadi setiap investasi migas memberikan dampak 3,9 kali dalam perekonomian kita," tandasnya.
Baca Juga: Daftar 24 Negara Lolos Piala Asia 2023 termasuk Indonesia
Sekretaris SKK Migas Taslim Z Yunus pun sepakat. Menurut dia, outlook kebutuhan energi Indonesia menunjukkan bahwa masih ada ruang bagi industri migas untuk terus tumbuh. Dalam transisi energi menuju net zero emission, porsi energi fosil dalam bauran energi Indonesia pada tahun 2060 diproyeksikan masih akan sekitar 34% persen.
Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menyatakan, semua pihak sepakat bahwa industri hulu migas masih sangat penting. Karena itu, kata dia, tinggal lagi bagaimana mengelolanya secara bijaksana. "Indonesia harus belajar dari beberapa negara seperti Brasil, Australia, dan Kanada yang memberikan insentif kepada operator sehingga produksi migas di ketiga negara tersebut ikut meningkat. Hal ini pada gilirannya juga meningkatkan penerimaan negara dari sektor tersebut," tegasnya.
Kajian yang dilakukan Reforminer memperlihatkan bahwa dari 185 sektor industri di Indonesia, sekitar 145 sektor atau 70-80 %, memiliki keterkaitan dengan sektor hulu migas. "Index multiplier effect-nya mencapai 39. Jadi setiap investasi migas memberikan dampak 3,9 kali dalam perekonomian kita," tandasnya.
(fai)
Lihat Juga :