Ibunda Farel Prayoga: Pelaku UMKM yang Pernah Berjualan Kinang
Rabu, 07 September 2022 - 23:30 WIB
loading...
Bunda Farel (3 dari kiri) adalah pelaku UMKM nasabah PNM Mekaar. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Siti Mujayanah, ibunda dari Farel Prayoga --penyanyi cilik yang tengah naik daun--adalah salah satu nasabah PNM Mekaar yang saat ini menjadi pengusaha warung kelontong asal Desa Kepundungan, Kecamatan Srono, Banyuwangi.
Baca juga: Terima Bantuan Usaha dan Beasiswa, Farel Prayoga Ucapkan Terima Kasih pada Erick Thohir
Sebelum bergelut di bisnis sembako, Siti sehari-harinya berjualan kinang. Dengan semangat yang gigih Siti bersama Farel dan sang suami mengamen dengan berkeliling, menyanyi, dan main musik di sekitar Banyuwangi sejak Farel duduk di bangku kelas 2 SD.
Siti kemudian diperkenalkan kepada PNM Mekaar oleh tetangganya dan memutuskan untuk bergabung. Bermodal dengan Rp2 juta Siti memulai berjualan kinang. Kinang terdiri dari daun sirih, gambir, kapur dan tembakau, merupakan ramuan tradisional yang dikunyah di mulut dan tidak ditelan.
Mengunyah kinang atau lebih akrab dikenal dengan sebutan menyirih merupakan salah satu tradisi yang kerap dilakukan masyarakat Indonesia. Sayangnya, dengan masuknya era globalisasi dan perkembangan zaman yang lebih modern membuat tradisi menyirih mulai dilupakan.
Siti mengungkapkan, bertambahnya modal yang diberikan PNM Mekaar dan segala kemudahan yang disediakan, membuat dia bisa mengembangkan usaha menjadi lebih besar dari sekadar berjualan kinang.
Siti mampu berbelanja lebih banyak, hingga mampu menambah fasilitas yang menunjang usahanya. Kini bisnisnya berkembang menjadi warung kelontong yang menyediakan barang kebutuhan sehari-hari.
Baca juga: Terima Bantuan Usaha dan Beasiswa, Farel Prayoga Ucapkan Terima Kasih pada Erick Thohir
Sebelum bergelut di bisnis sembako, Siti sehari-harinya berjualan kinang. Dengan semangat yang gigih Siti bersama Farel dan sang suami mengamen dengan berkeliling, menyanyi, dan main musik di sekitar Banyuwangi sejak Farel duduk di bangku kelas 2 SD.
Siti kemudian diperkenalkan kepada PNM Mekaar oleh tetangganya dan memutuskan untuk bergabung. Bermodal dengan Rp2 juta Siti memulai berjualan kinang. Kinang terdiri dari daun sirih, gambir, kapur dan tembakau, merupakan ramuan tradisional yang dikunyah di mulut dan tidak ditelan.
Mengunyah kinang atau lebih akrab dikenal dengan sebutan menyirih merupakan salah satu tradisi yang kerap dilakukan masyarakat Indonesia. Sayangnya, dengan masuknya era globalisasi dan perkembangan zaman yang lebih modern membuat tradisi menyirih mulai dilupakan.
Siti mengungkapkan, bertambahnya modal yang diberikan PNM Mekaar dan segala kemudahan yang disediakan, membuat dia bisa mengembangkan usaha menjadi lebih besar dari sekadar berjualan kinang.
Siti mampu berbelanja lebih banyak, hingga mampu menambah fasilitas yang menunjang usahanya. Kini bisnisnya berkembang menjadi warung kelontong yang menyediakan barang kebutuhan sehari-hari.
Lihat Juga :