Tahan Harga BBM, Jokowi: Uang Darimana? Nggak Mampu APBN Kita
Senin, 12 September 2022 - 16:14 WIB
loading...
Presiden Jokowi mengungkapkan alasan harus menaikkan harga BBM. FOTO/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku tidak bisa menahab kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan BBM juga dialami oleh negara lain akibat tekanan ekonomi.
"Sama juga di negara kita urusan yang berkaitan dengan BBM ini persis sama yang dialami negara negara lain bahkan di beberapa negara harga BBM sudah berada di angka Rp 17 ribu, ada yang Rp 30 ribu, bahkan gas di Eropa sekarang ini sudah naiknya bisa 6 kali, ada 7 kali. Sehingga apa yang sudah kita tahan-tahan saat itu subsidi BBM kita agar tidak membengkak lagi ternyata tidak bisa kita lakukan," kata Jokowi saat rapat di Istana Negara, Senin (12/9/2022).
Baca Juga: PA 212 Demo Tolak Kenaikan Harga BBM, 6.142 Polisi Disiagakan
Jokowi menjelaskan bahwa subsidi yang diberikan pemerintah untuk BBM awalnya hanya Rp 152 triliun. Dan saat ini sudah melompat tiga kali hingga menjadi Rp 502,4 triliun. Setelah dikalkulasi lebih detil kuota subsidinya hanya untuk 23 juta kiloliter Pertalite dan 15,1 juta kiloliter Solar.
"Dan setelah di kalkulasi ini hanya bisa sampai pada awal Oktober, kalau sampai akhir tahun sampai akhir Desember kebutuhan kita menjadi 29,1 juta kiloliter untuk Pertalite dan 17,4 kiloliter untuk solar ini estimasi akan kurang," kata Jokowi.
"Sama juga di negara kita urusan yang berkaitan dengan BBM ini persis sama yang dialami negara negara lain bahkan di beberapa negara harga BBM sudah berada di angka Rp 17 ribu, ada yang Rp 30 ribu, bahkan gas di Eropa sekarang ini sudah naiknya bisa 6 kali, ada 7 kali. Sehingga apa yang sudah kita tahan-tahan saat itu subsidi BBM kita agar tidak membengkak lagi ternyata tidak bisa kita lakukan," kata Jokowi saat rapat di Istana Negara, Senin (12/9/2022).
Baca Juga: PA 212 Demo Tolak Kenaikan Harga BBM, 6.142 Polisi Disiagakan
Jokowi menjelaskan bahwa subsidi yang diberikan pemerintah untuk BBM awalnya hanya Rp 152 triliun. Dan saat ini sudah melompat tiga kali hingga menjadi Rp 502,4 triliun. Setelah dikalkulasi lebih detil kuota subsidinya hanya untuk 23 juta kiloliter Pertalite dan 15,1 juta kiloliter Solar.
"Dan setelah di kalkulasi ini hanya bisa sampai pada awal Oktober, kalau sampai akhir tahun sampai akhir Desember kebutuhan kita menjadi 29,1 juta kiloliter untuk Pertalite dan 17,4 kiloliter untuk solar ini estimasi akan kurang," kata Jokowi.
Lihat Juga :