Riset dan Inovasi Jadi Kunci Sektor Perkebunan-Kehutanan Tingkatkan Bisnis
Rabu, 21 September 2022 - 20:47 WIB
loading...
A
A
A
Dengan adanya IPFRI, maka ke depan BUMN klaster perkebunan dan kehutanan diharapkan bisa menjawab tantangan tersebut. “Dengan kekuatan yang ada, kita bisa terus meningkatkan produksi gula konsumsi, sehingga 5 tahun mendatang, Indonesia bisa mencapai swasembada gula konsumsi.
Sementara itu, Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) Mohammad Abdul Ghani, mengatakan, saat ini beberapa tantangan yang harus dihadapi sektor perkebunan dan kehutanan, yakni mahalnya harga pupuk, perubahan cuaca dan iklim yang tidak menentu akibat dari climate change, serta produktivitas beberapa komoditas perkebunan dan kehutanan yang masih rendah.
Oleh karenanya, peran dari research institute menjadi sangat penting untuk meningkatkan daya tahan, sekaligus daya saing dari sebuah korporasi. Pada tahun 1911 pertama kali kelapa sawit dikembangkan sebagai tanaman komersial yang sebelumnya hanya dikenal sebagai tanaman hutan.
"Kemudian pada tahun 1923, varietas POJ 2878 sebagai varietas tebu unggul yang sangat spektakuler, yang mampu meningkatkan produksi gula secara drastis, yaitu sekitar 35% dari varietas sebelumnya dan tahan akan penyakit sereh,” ujar Ghani.
Di tahun ini, kata Abdul Ghani, IPFRI telah menghasilkan tiga inovasi unggulan, yakni Pupuk Anorganik Glow Green, Pupuk Hara Mikro BioSilica, dan Bahan tanam, yaitu Klon Kakao ICCRI 09, Klon Unggul Jati dan Klon Unggul Kayu Putih.
Selain itu, untuk mendukung program swasembada gula nasional, PTPN melalui lembaga riset yang dimiliki akan segera merilis enam varietas tebu unggulan yang memiliki potensi produktivitas lebih dari 10 ton gula per ha.
Abdul Ghani mengatakan, Holding Perkebunan Nusantara dan Perhutani terus berkomitmen untuk menjadikan Indonesia Plantation and Forestry Research Institute (IPFRI) sebagai ujung tombak riset di bidang perkebunan dan kehutanan.
Sementara itu, Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) Mohammad Abdul Ghani, mengatakan, saat ini beberapa tantangan yang harus dihadapi sektor perkebunan dan kehutanan, yakni mahalnya harga pupuk, perubahan cuaca dan iklim yang tidak menentu akibat dari climate change, serta produktivitas beberapa komoditas perkebunan dan kehutanan yang masih rendah.
Oleh karenanya, peran dari research institute menjadi sangat penting untuk meningkatkan daya tahan, sekaligus daya saing dari sebuah korporasi. Pada tahun 1911 pertama kali kelapa sawit dikembangkan sebagai tanaman komersial yang sebelumnya hanya dikenal sebagai tanaman hutan.
"Kemudian pada tahun 1923, varietas POJ 2878 sebagai varietas tebu unggul yang sangat spektakuler, yang mampu meningkatkan produksi gula secara drastis, yaitu sekitar 35% dari varietas sebelumnya dan tahan akan penyakit sereh,” ujar Ghani.
Di tahun ini, kata Abdul Ghani, IPFRI telah menghasilkan tiga inovasi unggulan, yakni Pupuk Anorganik Glow Green, Pupuk Hara Mikro BioSilica, dan Bahan tanam, yaitu Klon Kakao ICCRI 09, Klon Unggul Jati dan Klon Unggul Kayu Putih.
Selain itu, untuk mendukung program swasembada gula nasional, PTPN melalui lembaga riset yang dimiliki akan segera merilis enam varietas tebu unggulan yang memiliki potensi produktivitas lebih dari 10 ton gula per ha.
Abdul Ghani mengatakan, Holding Perkebunan Nusantara dan Perhutani terus berkomitmen untuk menjadikan Indonesia Plantation and Forestry Research Institute (IPFRI) sebagai ujung tombak riset di bidang perkebunan dan kehutanan.
Lihat Juga :