Koperasi Desa Ekspor Indonesia Kembangkan Produk Vanila Berkualitas Ekspor
Minggu, 25 September 2022 - 08:31 WIB
loading...
A
A
A
“Untuk memperbaiki mutu dan peningkatan produksi di Hulu, kita harus berkolaborasi dengan para petani vanili senior di beberapa daerah dan para komunitas petani vanili agar aktif mendampingi Poktan di daerahnya masing masing," terangnya.
Baca Juga: Lepas Ekspor, Airlangga Hartarto: Tingkatkan Ekspor Florikultura, Penuhi Ceruk Pasar Dunia
Contohnya seperti Poktan vanili Geger Bitung Jawa Barat didampingi Tono, Lampung Barat oleh Amril, Jawa Tengah oleh Rini, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Manggarai, Sikka, Ngada, Papua dan seterusnya. Pendampingan dapat dilakukan melalui kunjungan di desa terdekat, sarana whatsapp group, melalui video call atau zoom di kebun petani.
Saat ini anggota yang tergabung di media sosial facebook mencapai 43.400 orang, baik itu petani, penggemar tanaman vanili, penjual, pembeli atau sekedar peminat vanili saja.
“Yang tak kalah penting adalah hilirisasi pengembangan komoditas vanili pasca panen dan pasar yang luas, karena dampaknya dapat membantu ketahanan ekonomi keluarga petani, pemberdayaan perempuan saat pasca panen dan membuka lapangan kerja millennial khusus produk turunan,” lanjut Mahdalena.
Ia berharap kedepannya ekosistem bisnis vanilli dari hulu ke hilir dapat terintegrasi.
Ditempat yang berbeda, Direktur Jenderal Perkebunan, Andi Nur Alam Syah mengatakan, saat ini dari komoditas perkebunan unggulan lainnya yang harga Raw Material nya saja sudah tinggi adalah Vanili, kisaran basah mencapai 300-800 ribu/ kg, apalagi vanila kering kualitas ekspor bisa mencapai diatas 3 juta/kg.
Potensi ini menurut Andi yang perlu digarap bersama, dimulai dari Hulu, serta perlu dilakukan penataan kebun, juga aspek keamanan kebun yang menjadi titik sentral, ditambah dari sisi mutu dan pascapanen harus diperbaiki.
Baca Juga: Lepas Ekspor, Airlangga Hartarto: Tingkatkan Ekspor Florikultura, Penuhi Ceruk Pasar Dunia
Contohnya seperti Poktan vanili Geger Bitung Jawa Barat didampingi Tono, Lampung Barat oleh Amril, Jawa Tengah oleh Rini, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Manggarai, Sikka, Ngada, Papua dan seterusnya. Pendampingan dapat dilakukan melalui kunjungan di desa terdekat, sarana whatsapp group, melalui video call atau zoom di kebun petani.
Saat ini anggota yang tergabung di media sosial facebook mencapai 43.400 orang, baik itu petani, penggemar tanaman vanili, penjual, pembeli atau sekedar peminat vanili saja.
“Yang tak kalah penting adalah hilirisasi pengembangan komoditas vanili pasca panen dan pasar yang luas, karena dampaknya dapat membantu ketahanan ekonomi keluarga petani, pemberdayaan perempuan saat pasca panen dan membuka lapangan kerja millennial khusus produk turunan,” lanjut Mahdalena.
Ia berharap kedepannya ekosistem bisnis vanilli dari hulu ke hilir dapat terintegrasi.
Ditempat yang berbeda, Direktur Jenderal Perkebunan, Andi Nur Alam Syah mengatakan, saat ini dari komoditas perkebunan unggulan lainnya yang harga Raw Material nya saja sudah tinggi adalah Vanili, kisaran basah mencapai 300-800 ribu/ kg, apalagi vanila kering kualitas ekspor bisa mencapai diatas 3 juta/kg.
Potensi ini menurut Andi yang perlu digarap bersama, dimulai dari Hulu, serta perlu dilakukan penataan kebun, juga aspek keamanan kebun yang menjadi titik sentral, ditambah dari sisi mutu dan pascapanen harus diperbaiki.
Lihat Juga :