Subsidi Energi Global USD5,3 T

Rabu, 20 Mei 2015 - 07:34 WIB
Subsidi Energi Global...
Subsidi Energi Global USD5,3 T
A A A
WASHINGTON - Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan, subsidi energi global diperkirakan mencapai USD5,3 triliun pada 2015.

Jumlah tersebut melebihi belanja kesehatan pemerintah. Lembaga itu menekankan, data ini menunjukkan salah satu dari berbagai faktor negatif terbesar dalam proyeksi pertumbuhan ekonomi, sekaligus menambah dampak buruk efisiensi, pertumbuhan dan kesenjangan ekonomi.

”Proyeksi ini mengejutkan,” ungkap IMF dalam laporan yang dirilisnya, dikutip kantor berita AFP . Laporan itu memperkirakan, subsidi energi tahun ini mencakup 6,5% ekonomi global, yang tampaknya melampaui belanja kesehatan pemerintah di penjuru dunia. IMF merupakan penentang subsidi energi. Lembaga itu mendefinisikan subsidi energi sebagai pembeda antara jumlah uang yang dibayarkan konsumen untuk energi dan nilai sesungguhnya, serta nilai tambah normal atau tingkat pajak penjualan.

Sebagai tambahan pada apa yang diperlukan untuk memproduksi dan mendistribusikan energi, ”nilai sesungguhnya” termasuk dampak lingkungan seperti emisi karbon yang memicu pemanasan global dan dampak kesehatan polusi udara. Menurut IMF, China sejauh ini menjadi negara yang membelanjakan dana terbesar untuk subsidi energi, sebesar USD2,3 triliun per tahun, diikuti oleh Amerika Serikat (AS) sebesar USD699 miliar, dan Rusia USD335 miliar.

Posisi selanjutnya diikuti oleh Uni Eropa, India, dan Jepang. Laporan tersebut menyatakan, total subsidi energi sudah lebih dari dua kali lipat sejak 2011, tahun yang disebut dalam laporan IMF pada 2013. IMF menjelaskan, lebih dari setengah peningkatan itu karena semakin banyak bukti dampak buruk konsumsi energi pada kualitas udara dan kesehatan, seperti kematian dini.

”IMF sejak lama berpendapat, menerapkan harga energi yang tepat dapat membantu pemerintah nasional mencapai tujuan mereka, tidak hanya bagi lingkungan tapi juga pertumbuhan dan keuangan publik,” papar laporan IMF, dikutip kantor berita AFP . IMF merekomendasikan semua negara menaikkan harga energi secara bertahap untuk mencerminkan biaya sesungguhnya. Langkah ini diperkirakan akan memberikan keuntungan fiskal sekitar 3,5% terhadap produk domestik bruto (PDB).

”Keuntungan tambahan dapat memberi pemerintah ruang untuk mengurangi sejumlah pajak, menaikkan belanja publik untuk infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan, serta dana tunai untuk warga miskin,” ungkap laporan IMF.

Syarifudin
(ars)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
20 menit yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
29 menit yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
46 menit yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
2 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
2 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
2 jam yang lalu
Infografis
10 Fakta Konflik AS...
10 Fakta Konflik AS - Venezuela: Perebutan Pengaruh dan Energi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved