Inflasi di Indonesia Sudah Tak Miliki Pola Jelas
Selasa, 02 Juni 2015 - 15:38 WIB
Inflasi di Indonesia Sudah Tak Miliki Pola Jelas
A
A
A
JAKARTA - Institute for Development of Economic and Finance (Indef) menilai, inflasi di Indonesia saat ini sudah tidak memiliki pola yang jelas.
Biasanya, Indonesia setiap November hingga Desember selalu terjadi inflasi puncak (peak), kemudian pada Januari, inflasi turun dan April-Mei baru mulai terjadi deflasi hingga jelang Ramadan.
"Tergantung kapan nanti Ramadannya, kan maju-maju terus. Nah, waktu Ramadan nanti (inflasi) naik lagi, biasanya polanya seperti itu," kata Direktur Indef Enny Sri Hartati kepada Sindonews.
Dia menjelaskan, pola inflasi di Indonesia yang kini sudah tidak terarah disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang cenderung mendistorsi, seperti kenaikan harga BBM. Selain itu, lambannya Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk mengantisipasi terjadinya inflasi lantaran keterlambatan alokasi anggaran.
"Kan TPID juga belum bekerja optimal karena keterlambatan alokasi anggaran, sehingga itu mempengaruhi kemampuan mereka. Sekalipun mereka tidak bisa mengeksekusi itu, tapi mereka harus melaporkan. Yang dilaporkan ini masih tidak fokus. Ada respon yang terlambat," pungkas Enny.
Adapun inflasi pada Mei 2015 yang berada di angka 0,5% (month to month/mtm), dia menduga lantaran ulah para spekulan harga. Pasalnya, angka inflasi yang tertinggi sejak lima tahun terakhir ini justru tidak terlihat pemicunya.
"Karena inflasi di Indonesia itu selalu lebih dulu inflasinya daripada penyebabnya. Begitu orang mau masuk Ramadan, orang pasti akan melakukan spekulasi. Itu yang menyebabkan (inflasi di Mei 2015), trigger-nya sebenarnya tidak ada di Mei," ujarnya.
Sementara, menurut dia, inflasi pada April lalu pemicunya adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Sementara untuk Mei, pemicu inflasi justru tidak terlihat.
"Artinya apa? Tidak ada trigger-nya tapi inflasinya tinggi. Itu berarti memang ada pihak yang bisa melakukan price maker, menentukan harga. Nah, itu menunjukkan terjadinya sistem persaingan yang tidak sehat," imbuh dia.
Sekadar mengingatkan, Indonesia pada Januari 2015 mengalami deflasi 0,24%, Februari deflasi 0,36%, Maret inflasi 0,17% dan April mengalami kenaikan inflasi menjadi 0,36%.
Biasanya, Indonesia setiap November hingga Desember selalu terjadi inflasi puncak (peak), kemudian pada Januari, inflasi turun dan April-Mei baru mulai terjadi deflasi hingga jelang Ramadan.
"Tergantung kapan nanti Ramadannya, kan maju-maju terus. Nah, waktu Ramadan nanti (inflasi) naik lagi, biasanya polanya seperti itu," kata Direktur Indef Enny Sri Hartati kepada Sindonews.
Dia menjelaskan, pola inflasi di Indonesia yang kini sudah tidak terarah disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang cenderung mendistorsi, seperti kenaikan harga BBM. Selain itu, lambannya Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk mengantisipasi terjadinya inflasi lantaran keterlambatan alokasi anggaran.
"Kan TPID juga belum bekerja optimal karena keterlambatan alokasi anggaran, sehingga itu mempengaruhi kemampuan mereka. Sekalipun mereka tidak bisa mengeksekusi itu, tapi mereka harus melaporkan. Yang dilaporkan ini masih tidak fokus. Ada respon yang terlambat," pungkas Enny.
Adapun inflasi pada Mei 2015 yang berada di angka 0,5% (month to month/mtm), dia menduga lantaran ulah para spekulan harga. Pasalnya, angka inflasi yang tertinggi sejak lima tahun terakhir ini justru tidak terlihat pemicunya.
"Karena inflasi di Indonesia itu selalu lebih dulu inflasinya daripada penyebabnya. Begitu orang mau masuk Ramadan, orang pasti akan melakukan spekulasi. Itu yang menyebabkan (inflasi di Mei 2015), trigger-nya sebenarnya tidak ada di Mei," ujarnya.
Sementara, menurut dia, inflasi pada April lalu pemicunya adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Sementara untuk Mei, pemicu inflasi justru tidak terlihat.
"Artinya apa? Tidak ada trigger-nya tapi inflasinya tinggi. Itu berarti memang ada pihak yang bisa melakukan price maker, menentukan harga. Nah, itu menunjukkan terjadinya sistem persaingan yang tidak sehat," imbuh dia.
Sekadar mengingatkan, Indonesia pada Januari 2015 mengalami deflasi 0,24%, Februari deflasi 0,36%, Maret inflasi 0,17% dan April mengalami kenaikan inflasi menjadi 0,36%.
(rna)
Lihat Juga :