Rupiah Ambruk, BI Terus Pantau Situasi Ekonomi
Jum'at, 05 Juni 2015 - 21:07 WIB
Rupiah Ambruk, BI Terus Pantau Situasi Ekonomi
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) akan terus memantau situasi ekonomi terkait ambruknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) dalam beberapa hari terakhir. BI akan melihat perkembangan kondisi ekonomi luar dan dalam negeri.
"Kalau pergerakan yang sekarang kita amati ini adalah pergerakan pasar dan tergantung dengan sentimennya seperti apa," ujar Deputi Gubernur BI, Halim Alamsyah, di Gedung BI, Jumat (5/6/2015).
Dia mengakui dalam beberapa hari terakhir sentimen memburuk dikarenakan pengaruh dari pernyataan bank sentral AS dan negosiasi yang tidak begitu menggembirakan mengenai utang Yunani.
Faktor ini yang mendorong rupiah agak tertekan, ditambah pada akhir Mei 2015 kebutuhan valas naik untuk membayar utang.
"Saya kira seluruh dunia sedang memantau isu-isu terutama terkait dengan kemungkinan the Fed menaikkan suku bunga. Kalau kita lihat faktor-fakror fundamental ekonomi Amerika terus menunjukkan perbaikan," jelasnya.
‎Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini ditutup merosot ditekan sentimen dari turunnya cadangan devisa pada akhir Mei 2015.
Posisi rupiah berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas berada di level Rp13.298/USD, terkoreksi 47 poin dibanding penutupan hari sebelumnya di level Rp13.251/USD.
Berdasarkan Bloomberg, rupiah ini pada level Rp12.290/USD. Posisi ini melemah 9 poin dari penutupan Kamis (4/6/2015) di level Rp13.281/USD.
Nilai tukar rupiah berdasarkan data Yahoofinance berada pada level Rp13.275/USD, dengan kisaran harian RpRp13.270-Rp13.320/USD. Posisi ini menguat 13 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp13.288/USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp13.288/USD. Posisi ini terdepresiasi dibanding posisi penutupan hari sebelumnya di level Rp13.243/USD.
Baca: Rupiah Dibuka Capai Level Terendah Sejak 1998
"Kalau pergerakan yang sekarang kita amati ini adalah pergerakan pasar dan tergantung dengan sentimennya seperti apa," ujar Deputi Gubernur BI, Halim Alamsyah, di Gedung BI, Jumat (5/6/2015).
Dia mengakui dalam beberapa hari terakhir sentimen memburuk dikarenakan pengaruh dari pernyataan bank sentral AS dan negosiasi yang tidak begitu menggembirakan mengenai utang Yunani.
Faktor ini yang mendorong rupiah agak tertekan, ditambah pada akhir Mei 2015 kebutuhan valas naik untuk membayar utang.
"Saya kira seluruh dunia sedang memantau isu-isu terutama terkait dengan kemungkinan the Fed menaikkan suku bunga. Kalau kita lihat faktor-fakror fundamental ekonomi Amerika terus menunjukkan perbaikan," jelasnya.
‎Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini ditutup merosot ditekan sentimen dari turunnya cadangan devisa pada akhir Mei 2015.
Posisi rupiah berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas berada di level Rp13.298/USD, terkoreksi 47 poin dibanding penutupan hari sebelumnya di level Rp13.251/USD.
Berdasarkan Bloomberg, rupiah ini pada level Rp12.290/USD. Posisi ini melemah 9 poin dari penutupan Kamis (4/6/2015) di level Rp13.281/USD.
Nilai tukar rupiah berdasarkan data Yahoofinance berada pada level Rp13.275/USD, dengan kisaran harian RpRp13.270-Rp13.320/USD. Posisi ini menguat 13 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp13.288/USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp13.288/USD. Posisi ini terdepresiasi dibanding posisi penutupan hari sebelumnya di level Rp13.243/USD.
Baca: Rupiah Dibuka Capai Level Terendah Sejak 1998
(dmd)
Lihat Juga :