USD Terkoreksi, Rupiah Ditutup Terapresiasi
Rabu, 10 Juni 2015 - 16:55 WIB
USD Terkoreksi, Rupiah Ditutup Terapresiasi
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini ditutup terapresiasi akibat terkoreksinya USD terhadap sejumlah mata uang dunia. Penguatan ini sejalan dengan berakhirnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di zona hijau.
(Baca: Sektor Konsumsi Bikin IHSG Berakhir di Zona Hijau)
Posisi rupiah berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas berada di level Rp13.300/USD, menguat 33 poin dibanding penutupan Selasa (9/6/2015) di level Rp13.333/USD.
Nilai tukar rupiah berdasarkan data Yahoofinance berada pada level Rp13.305/USD, dengan kisaran harian Rp13.270-Rp13.355/USD. Posisi ini positif 4 poin dibanding penutupan kemarin di level Rp13.309/USD.
Berdasarkan Bloomberg, rupiah pada level Rp13.315/USD. Posisi ini terdepresiasi 7 poin dari penutupan kemarin di level Rp13.308/USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp13.329/USD. Posisi ini menguat 33 poin dari posisi penutupan hari sebelumnya di level Rp13.362/USD.
Sementara itu, yen melonjak ke level tertinggi dua pekan terhadap USD setelah Gubernur Bank Sentral Jepang (BoJ) Haruhiko Kuroda mengatakan, yen tidak mungkin jatuh lebih jauh karena sudah sangat lemah, sehingga mendorong investor memangkas taruhan besar terhadap yen.
Menguatnya yen dan euro didorong oleh naiknya imbal hasil obligasi Eropa, sedangkan USD merosot ke level terendah tiga pekan terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Setelah komentar Kuroda, USD jatuh lebih dari 2 yen menjadi 122,50/USD, terendah sejak 27 Mei 2015 di level 122,82, menempatkan USD di jalur kerugian terbesar harian terhadap yen selama enam bulan terakhir.
"Tampaknya dalam pertemuan G7 banyak pembicaraan tentang kecepatan penguatan USD, yang membuat Fed akan mulai melakukan normalisasi kebijakan di akhir tahun ini," kata Kepala Strategi Forex Eropa di BMO Capital Group seperti dilansir dari Reuters, Rabu (10/6/2015).
Yen telah jatuh sebagian besar karena efek dari pelonggaran kuantitatif BoJ, yang bertujuan mengatasi deflasi. Beberapa pembuat kebijakan Jepang baru-baru ini menyatakan keprihatinan tentang penurunan yen karena ditakutkan bisa menaikkan angka impor terlalu cepat atau menjadi sumber friksi perdagangan.
(Baca: Rupiah Siang Ini Ditutup Kian Positif)
(Baca: Sektor Konsumsi Bikin IHSG Berakhir di Zona Hijau)
Posisi rupiah berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas berada di level Rp13.300/USD, menguat 33 poin dibanding penutupan Selasa (9/6/2015) di level Rp13.333/USD.
Nilai tukar rupiah berdasarkan data Yahoofinance berada pada level Rp13.305/USD, dengan kisaran harian Rp13.270-Rp13.355/USD. Posisi ini positif 4 poin dibanding penutupan kemarin di level Rp13.309/USD.
Berdasarkan Bloomberg, rupiah pada level Rp13.315/USD. Posisi ini terdepresiasi 7 poin dari penutupan kemarin di level Rp13.308/USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp13.329/USD. Posisi ini menguat 33 poin dari posisi penutupan hari sebelumnya di level Rp13.362/USD.
Sementara itu, yen melonjak ke level tertinggi dua pekan terhadap USD setelah Gubernur Bank Sentral Jepang (BoJ) Haruhiko Kuroda mengatakan, yen tidak mungkin jatuh lebih jauh karena sudah sangat lemah, sehingga mendorong investor memangkas taruhan besar terhadap yen.
Menguatnya yen dan euro didorong oleh naiknya imbal hasil obligasi Eropa, sedangkan USD merosot ke level terendah tiga pekan terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Setelah komentar Kuroda, USD jatuh lebih dari 2 yen menjadi 122,50/USD, terendah sejak 27 Mei 2015 di level 122,82, menempatkan USD di jalur kerugian terbesar harian terhadap yen selama enam bulan terakhir.
"Tampaknya dalam pertemuan G7 banyak pembicaraan tentang kecepatan penguatan USD, yang membuat Fed akan mulai melakukan normalisasi kebijakan di akhir tahun ini," kata Kepala Strategi Forex Eropa di BMO Capital Group seperti dilansir dari Reuters, Rabu (10/6/2015).
Yen telah jatuh sebagian besar karena efek dari pelonggaran kuantitatif BoJ, yang bertujuan mengatasi deflasi. Beberapa pembuat kebijakan Jepang baru-baru ini menyatakan keprihatinan tentang penurunan yen karena ditakutkan bisa menaikkan angka impor terlalu cepat atau menjadi sumber friksi perdagangan.
(Baca: Rupiah Siang Ini Ditutup Kian Positif)
(rna)