Rupiah Diramal Mampu Berbalik Positif Pekan Depan
Minggu, 21 Juni 2015 - 19:18 WIB
Rupiah Diramal Mampu Berbalik Positif Pekan Depan
A
A
A
JAKARTA - Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada memprediksi laju rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada pekan depan akan berbalik positif.
Menurutnya, setelah rapat The Fed berakhir dengan hasil kurang lebih sama seperti bulan sebelumnya, masih akan melihat situasi dan kondisi ekonomi AS sebelum memutuskan waktu menaikkan Fed rate (suku bunga).
"Memberikan sentimen negatif pada laju dolar AS (USD). Di sisi lain, rupiah memanfaatkan kondisi tersebut untuk bergerak menguat," ujarnya di Jakarta, Minggu (21/6/2015).
Reza memperkirakan rupiah pada pekan depan berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) akan berada pada rentang Rp13.370-Rp13.435 per USD.
Di sisi lain, pada pekan lalu, laju Rupiah tidak jauh beda dengan IHSG harapan akan penguatan rupiah gagal tercapai di awal pekan kemarin setelah rilis angka neraca perdagangan.
Sekalipun tercatat surplus, namun kurang. Bahkan tidak mendapat respon positif karena diiringi dengan lebih rendahnya pertumbuhan ekspor dan impor.
"Angka ekspor secara year on year (YoY) tercatat turun 15,24% dan impor YoY turun 21,40%, kedua angka tersebut jauh lebih rendah dari rilis sebelumnya," pungkas Reza.
Baca juga:
Ini Faktor yang Membuat Rupiah Rentan Pengaruh Global
Tanggapan BI Rupiah Masih Berada di Titik Krisis Moneter
HT: Tidak Ada Teori Rupiah Menguat Itu Buruk
Menurutnya, setelah rapat The Fed berakhir dengan hasil kurang lebih sama seperti bulan sebelumnya, masih akan melihat situasi dan kondisi ekonomi AS sebelum memutuskan waktu menaikkan Fed rate (suku bunga).
"Memberikan sentimen negatif pada laju dolar AS (USD). Di sisi lain, rupiah memanfaatkan kondisi tersebut untuk bergerak menguat," ujarnya di Jakarta, Minggu (21/6/2015).
Reza memperkirakan rupiah pada pekan depan berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) akan berada pada rentang Rp13.370-Rp13.435 per USD.
Di sisi lain, pada pekan lalu, laju Rupiah tidak jauh beda dengan IHSG harapan akan penguatan rupiah gagal tercapai di awal pekan kemarin setelah rilis angka neraca perdagangan.
Sekalipun tercatat surplus, namun kurang. Bahkan tidak mendapat respon positif karena diiringi dengan lebih rendahnya pertumbuhan ekspor dan impor.
"Angka ekspor secara year on year (YoY) tercatat turun 15,24% dan impor YoY turun 21,40%, kedua angka tersebut jauh lebih rendah dari rilis sebelumnya," pungkas Reza.
Baca juga:
Ini Faktor yang Membuat Rupiah Rentan Pengaruh Global
Tanggapan BI Rupiah Masih Berada di Titik Krisis Moneter
HT: Tidak Ada Teori Rupiah Menguat Itu Buruk
(dmd)