Mundur ke Belakang untuk Melompat Jauh ke Depan

Senin, 29 Juni 2015 - 11:20 WIB
Mundur ke Belakang untuk...
Mundur ke Belakang untuk Melompat Jauh ke Depan
A A A
Suatu kali seorang murid diajak berkeliling oleh gurunya. Di sepanjang perjalanan sang guru memberikan berbagai wejangan kehidupan pada murid yang mendengarkannya dengan saksama.

Rupanya, inilah hari terakhir sang murid sebelum turun gunung dan mengamalkan ilmu yang didapatnya. Di sebuah hutan, ada sebuah sungai yang cukup lebar. Namun, karena sungai itu tak memiliki jembatan, kedua orang itu pun berusaha melompatinya. Karena tidak terlalu deras, sang guru dan murid tanpa kesulitan bisa sampai ke seberang. Hanya saja, karena langkah kaki dan ilmunya belum sehebat gurunya, si murid harus ambil ancang-ancang dua langkah ke belakang.

Mereka pun meneruskan perjalanan sembari terus membicarakan banyak hal. Tanpa terasa, jalan mereka pun terus naik dan mendaki hingga kemudian sang guru berhenti di sebuah tebing jurang yang cukup tinggi. “Nah, kita sudah hampir tiba di tempat tujuan. Sekarang, kamu ikuti langkahku seperti tadi ya. Kita melompat ke ujung bukit di sana,” pesan sang guru yang tiba-tiba langsung melompat tinggi dan mendarat mulus di bukit seberang.

“Ayo, lompat!” Si murid sejenak melongok ke dalam jurang. Meski tak terlalu dalam, tapi itu cukup untuk membuatnya sedikit ketakutan. Melihat itu, gurunya berujar, “Ayo, jangan takut. Itu jaraknya sama dengan sungai yang kita lewati tadi.” Meski ragu, si murid pun berusaha menuruti gurunya. Ia merasa tak punya pilihan lain. Apalagi, gurunya mengatakan, jaraknya tak lebih lebar dari saat ia menyeberang di sungai yang dengan mudah dilompatinya.

Jika tadi ia ambil ancang-ancang dua langkah, kini ia mencoba mengambil jarak lebih jauh. Namun, saat berlari hendak melompat, tiba-tiba ia berhenti. Dirinya ragu karena jika salah ambil ancang-ancang, akibatnya akan jauh lebih fatal dibanding saat di sungai. Karena itu, ia kemudian mencoba mengambil langkah mundur lebih jauh. Setidaknya, ia mundur hampir sepuluh langkah agar ia bisa berlari kencang sebelum melompat. Ketika mengambil jarak lebih jauh, kecepatan larinya berhasil membuat ia berhasil melompat jauh hingga sampai ke seberang dengan selamat.

Sembari mengelus kepala murid dengan penuh kasih, sang guru berwejang. “Muridku, kamu tahu apa yang membedakan lompatanmu saat di sungai dan di tebing jurang tadi? Meski jaraknya sama, keduanya punya tantangan yang berbeda. Untuk itu, kamu mengambil ancang-ancang mundur lebih jauh saat di tebing jurang untuk memastikan keselamatanmu. Begitu juga dengan kehidupan.

Kadang, saat tantangan yang lebih hebat menghadang, kita perlu mundur lebih jauh. Ini semata adalah upaya kita untuk bisa melompat lebih jauh dan tinggi. Maka, suatu kali nanti, jika kamu merasa mengalami kemunduran, gagal, sulit, bahkan jatuh, jangan pernah berputus asa. Barangkali, itu justru langkah mundurmu agar bisa belajar melompat lebih tinggi.”

The Cup of Wisdom

Kisah di atas menceritakan bahwa hidup memang tak pernah mudah. Begitu juga dengan bisnis yang dijalankan. Laksana ketapel, untuk “menerbangkan” batu jauh ke depan, karet ketapel harus ditarik sekuat tenaga ke depan. Makin kuat, makin jauh pula lontarannya. Jika kita tarik dalam pemaknaan sebuah bisnis, kadang kemunduran, kegagalan, kesulitan, adalah masa pembelajaran yang sangat berarti untuk melahirkan inovasi yang cemerlang di depan.

Karena itu, jangan pernah takut saat harus mengalami kemunduran. Yang harus kita takuti adalah bila saat mundur, kita langsung menyerah kalah tanpa berusaha memperbaiki berbagai kesalahan. Ungkapan bijak “mundur ke belakang untuk melompat jauh ke depan” jika diresapi maknanya, akan melahirkan kekuatan di tengah hadangan dan terjangan badai ujian bisnis yang sering terjadi.

Bahkan, saat mundur itulah, masa paling suram itulah, jika kita tahan, terus maju, ulet, makin kerja keras, pintu sukses akan terbuka lebar. Mari, kita jadikan setiap momen kesulitan, ujian, cobaan, menjadi masa belajar dan evaluasi untuk memperbaiki keadaan. Jangan sesali dan jangan pernah mengeluh. Sebab, bisa jadi, ujian terberat itu justru membuka banyak peluang di masa depan. Salam sukses, luar biasa!
(ars)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Dasco Ungkap Tujuan...
Dasco Ungkap Tujuan Prabowo Panggil Chatib Basri-Luhut ke Istana
21 menit yang lalu
Tak Ada Pergantian Menkeu,...
Tak Ada Pergantian Menkeu, Sentimen Pasar Berbalik Positif
51 menit yang lalu
Bea Cukai Gagalkan 8,9...
Bea Cukai Gagalkan 8,9 Juta Batang Rokok Ilegal, Selamatkan Rp8,6 Miliar
1 jam yang lalu
Kinerja Tumbuh 21,17%,...
Kinerja Tumbuh 21,17%, Patra Logistik Catat Pendapatan Rp3,25 Triliun di 2025
1 jam yang lalu
Setelah Chatib Basri,...
Setelah Chatib Basri, Menkes Merapat ke Istana Temui Prabowo
1 jam yang lalu
Menko Yusril Beberkan...
Menko Yusril Beberkan Delapan Arahan Pelayanan Publik yang Bersih
2 jam yang lalu
Infografis
IRGC Siapkan Jebakan...
IRGC Siapkan Jebakan Maut untuk Armada Amerika Serikat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved