Fitch Naikkan Outlook Malaysia

Kamis, 02 Juli 2015 - 11:07 WIB
Fitch Naikkan Outlook...
Fitch Naikkan Outlook Malaysia
A A A
KUALA LUMPUR - Lembaga rating kredit Fitch menaikkan outlook Malaysia menjadi ”stabil” dari ”negatif”, kemarin. Analisis mengejutkan ini membuat nilai mata uang ringgit menguat.

Keputusan Fitch menaikkan outlook juga menjadi dukungan bagi Pemerintah Malaysia. Melalui pernyataan sebelum tengah malam pada Selasa (30/6) lalu, Fitch mengonfirmasi rating kredit Malaysia ”A-”, rating investasi terendah keempat, dan menyatakan keuangan Malaysia membaik sejak 2014 dengan adanya reformasi subsidi bahan bakar dan pajak konsumsi.

”Rating Malaysia tetap didukung oleh tingkat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil yang kuat dan rendahnya guncangan inflasi,” papar pernyataan Fitch yang pada 2013 menurunkan outlook Malaysia menjadi ”negatif”. Berita positif ini memperkuat mata uang ringgit, kemarin, menjadi 3,7347 terhadap dolar Amerika Serikat (AS), naik dari 3,7733 pada Selasa (30/6).

”Revisi outlook ini sangat mengejutkan. Kami melihat penguatan ringgit sekarang, dengan adanya kabar ini,” kata Nicholas Teo, analis CMC Market di Singapura. Strategis IG Markets Bernard Aw menyebut berita ini sebagai perubahan 180 derajat. Dia menekankan, pasar sempat diliputi sentimen kekhawatiran bahwa rating akan turun. ”Fundamental ekonomi Malaysia masih stabil,” ungkapnya.

Peningkatan utang pemerintah, bertambahnya tekanan terhadap ringgit dan melemahnya harga minyak mentah terus meliputi ekonomi Malaysia tahun ini. Pernyataan Fitch pun disambut Perdana Menteri (PM) Malaysia Najib Razak yang sedang menghadapi tekanan untuk mengembalikan stabilitas keuangan di negara tersebut.

Apalagi, pemerintah baru sedang menghadapi kemarahan publik atas keputusan tentang pajak konsumsi yang baru diberlakukan. Najib yang juga sebagai Menteri Keuangan Malaysia harus bekerja keras untuk menepis kampanye untuk menggulingkan kekuasaannya oleh mantan PM Mahathir Mohamad. Popularitas Najib merosot pada pemilu 2013 saat koalisi berkuasa hampir kehilangan kekuasaannya.

Reputasinya juga memburuk tahun ini akibat sejumlah skandal di perusahaan investasi negara yang diawasinya. Najib diminta menjelaskan bagaimana ratusan juta dolar bisa hilang dari kesepakatan yang melibatkan 1Malaysia Development Berhad (1MDB). Dia menyangkal dirinya bersalah dan memerintahkan auditor pemerintah untuk memeriksa pembukuan 1MDB.

Adapun, Kementerian Keuangan Malaysia menyebut pernyataan Fitch itu adil dan seimbang. Sementara, Bank Dunia memperingatkan negara-negara berkembang di penjuru dunia tentang kondisi berat saat Amerika Serikat (AS) mulai mengetatkan kebijakan moneter dan penguatan dolar.

Meski demikian, kepala ekonom Bank Dunia juga meminta Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/Fed) untuk menunda kenaikan suku bunga hingga tahun depan sehingga memberi ruang bernapas lebih banyak pada ekonomi global yang tumbuh lambat. Dalam proyeksi terbarunya untuk pertumbuhan global, Bank Dunia memangkas perkiraan pertumbuhan pada 2015 menjadi 2,8%, dibandingkan proyeksi pertumbuhan 3% pada Januari.

Penurunan proyeksi itu terkait penyusutan ekonomi AS pada kuartal I/2015, penurunan di Eropa dan Jepang serta melambatnya China. Selain itu, terjadi peningkatan tantangan untuk negaranegara miskin dan berkembang yang sebagian besar terkena dampak harga komoditas dan aliran modal yang rendah.

”Penurunan harga minyak telah menurunkan biaya untuk impor energi, karena menguatnya dolar maka keuntungan dari harga minyak yang murah tidak terlalu berdampak pada kondisi ekonomi mereka,” papar laporan Bank Dunia, dikutip kantor berita AFP . Berbagai tantangan ini menjadi lebih berat saat ekonomi AS menguat kembali dan Fed mulai menaikkan suku bunga.

”Saat itu terjadi, akan ada lebih banyak guncangan di pasar global dan negara yang ekonominya lebih lemah akan menderita,” ungkap Bank Dunia. Negara-negara miskin dan berkembang akan membayar lebih banyak untuk pinjaman dan investasi yang masuk akan semakin sulit, sehingga menambah tekanan pada mata uang yangtelahturundrastisterhadap dolar selama tahun lalu.

”Kami menasihati bangsa-bangsa, terutama negara ekonomi berkembang, untuk mengencangkan ikat pinggang,” kata Kaushik Basu, ekonom Bank Dunia.

Syarifudin
(ftr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Pupuk Kaltim Dorong...
Pupuk Kaltim Dorong Kemandirian Ekonomi Lewat Beragam Program TJSL
38 menit yang lalu
Penjelasan BEI soal...
Penjelasan BEI soal MSCI Turunkan Kasta Pasar Modal RI ke Frontier Market
1 jam yang lalu
Bangun Infrastruktur...
Bangun Infrastruktur Unggul, Brantas Abipraya Perkuat Kolaborasi Internal
1 jam yang lalu
Purbaya Tepis Isu Mundur...
Purbaya Tepis Isu Mundur dari Kursi Menkeu di Tengah Kejatuhan Rupiah Rp18.039
2 jam yang lalu
IHSG Berakhir Longsor...
IHSG Berakhir Longsor 1,70% ke Posisi 5.839, Ada 651 Saham Berjatuhan
2 jam yang lalu
Harga Avtur Makin Mahal,...
Harga Avtur Makin Mahal, Maskapai Raksasa AS Mendadak Batalkan 6 Rute Penerbangan!
2 jam yang lalu
Infografis
Inilah Bupati Pati yang...
Inilah Bupati Pati yang Diprotes Warganya karena Naikkan Pajak 250%
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved