Alfamart Berupaya Pertahankan Harga Jual

Selasa, 07 Juli 2015 - 10:29 WIB
Alfamart Berupaya Pertahankan...
Alfamart Berupaya Pertahankan Harga Jual
A A A
JAKARTA - Menguatnya dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah dinilai bisa menjadi ancaman terhadap industri ritel. Pasalnya, produk yang dijual di gerai-gerai ritel merupakan produksi dalam negeri, namun tetap mengandung komponen impor.

Presiden Direktur PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk Hans Prawira mengatakan, apabila dolar terus bergerak liar maka hal itu bisa mengganggu sektor ritel. ”Walaupun kita membelinya lokal, komponen impornya tinggi sekali,” papar dia di Jakarta kemarin. Dia mengakui saat ini pemasok berusaha untuk menahan harga karena berkaca pada pertumbuhan ekonomi yang cenderung melambat.

Kendati demikian, apabila dolar terus menguat maka ke depan akan sulit untuk menahan harga. ”Lama-lama supplier juga akan menaikkan harga, dan itu yang dikhawatirkan. Tapi selama dolar masih di angka Rp13.500 itu relatif dan tidak terlalu naik, kami cukup nyaman,” ujarnya. Dia menambahkan, saat ini konsumen masih merasa nyaman dengan harga jual.

Namun, kata dia, nilai tukar dolar tidak bisa dikontrol oleh perseroan karena dipengaruhi perekonomian global. Dia menambahkan, jika terpaksa menaikkan harga, perusahaan yang mengelola gerai ritel Alfamart itu akan menaikkan harga barang dagangannya secara peralahan. ”Di 2015, beberapa kategori produk naik harganya seperti susu yang naik 9-11%, tapi kategori lain kita berusaha me-naikkan perlahan 3-4%,” kata dia.

Namun, kata dia, secara umum perseroan juga mempertimbangkan situasi ekonomi yang masih lemah. Alfamart, kata dia, tidak menaikkan seluruh harga jual untuk menjaga daya beli. ”Tahun lalu sudah banyak yang naik, jadi ini adalah dampak kenaikan harga yang terjadi di tahun lalu,” imbuhnya.

Hans menambahkan, perseroan akan berusaha untuk mempertahankan margin. Tahun ini perseroan menargetkan pendapatan dapat tumbuh pada kisaran 14-15%. Demi memuluskan ambisinya, perseroan melancarkan strategi seperti melakukan konsolidasi internal dan melakukan efisiensi. ”Kuncinya bisnis ritel ada dua, yaitu pelayanan dan efisiensi.

Kita berusaha untuk memperbaiki pelayanan kita kepada konsumen bukan hanya sekadar sapa dan senyum saja, tapi lebih mengenal konsumen,” katanya. Selain itu, perseroan memaksimalkan teknologi untuk melakukan efisiensi. Menurutnya, banyak proses bisnis yang dapat di digitalisasi.

”Seperti operasional di toko, bagaimana kita bisa menggunakan tablet untuk reporting dan segalanya di input lewat teknologi, tidak perlu print dan perbanyak automation,” ujarnya.

Arsy ani s
(bbg)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Sah, 4 Marketplace Ini...
Sah, 4 Marketplace Ini Resmi Pungut Pajak PPh 22
16 menit yang lalu
Investor RI Mulai Lirik...
Investor RI Mulai Lirik Saham AI Global, Bittime Hadirkan Fitur Earn
45 menit yang lalu
Neraca Dagang RI Defisit...
Neraca Dagang RI Defisit USD1,61 Miliar, Pertama Kali sejak 2020
57 menit yang lalu
Grand Filano Ramai di...
Grand Filano Ramai di Medsos, Warganet Soroti Bobot Ringan hingga Irit BBM
1 jam yang lalu
Inflasi Juni 2026 Capai...
Inflasi Juni 2026 Capai 3,34%, Harga BBM dan Tiket Pesawat Jadi Pendorong
2 jam yang lalu
Tarif Listrik Juli-September...
Tarif Listrik Juli-September Tak Naik, Cek Harga per kWh Semua Golongan
2 jam yang lalu
Infografis
10 Negara Menaikkan...
10 Negara Menaikkan Harga BBM Akibat Perang AS-Iran, Banyak Tetangga RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved