Euro Perkasa, Rupiah Terkapar ke Rp13.500/USD
Senin, 27 Juli 2015 - 17:17 WIB
Euro Perkasa, Rupiah Terkapar ke Rp13.500/USD
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini berakhir terkapar ke Rp13.500/USD di tengah makin perkasanya euro.
Posisi rupiah berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas pada level Rp13.504/USD. Posisi tersebut melemah 51 poin dibanding akhir pekan lalu di Rp13.453/USD.
Berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp13.496/USD. Posisi ini terkoreksi 54 poin dari posisi penutupan sebelumnya di Rp13.445/USD.
Nilai tukar rupiah berdasarkan data Bloomberg di level Rp13.462/USD, memburuk 15 poin dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp13.447/USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp13.453/USD, tak jauh berbeda dengan penutupan sebelumnya di Rp13.448/USD.
Sementara itu, euro mencapai level tertinggi dua pekan terhadap USD pada hari ini setelah survei Ifo Jerman menunjukkan bahwa ekonomi Jerman pada Juli mengalahkan perkiraan.
Kejatuhan USD meluas setelah saham Amerika Serikat (AS) terkoreksi dan daya tarik imbal hasil obligasi meredup, dengan pasar fokus pada pertemuan kebijakan Federal Reserve (The Fed) pekan ini. USD turun 0,3% terhadap yen sebagai mata uang safe haven, terimbas penurunan saham China sebesar 8%.
Adapun euro naik 1,2% menjadi USD1,1113, dari sekitar USD1,1084 sebelum survei Ifo dirilis. Indeks iklim usaha Ifo naik ke 108,0 dari 107,5 pada Juni, mengalahkan konsensus Reuters untuk penurunan ke 107,2.
"Setiap dampak positif dari Ifo pada euro hanya singkat. Selama jangka menengah, kami berharap USD dapat menguat," kata ahli strategi mata uang Nomura, Yujiro Goto seperti dilansir dari Reuters, Senin (27/7/2015).
Pasar akan melihat pertemuan Fed pada 28-29 Juli untuk melihat apakah akan memberikan petunjuk waktu penaikan suku bunga. Proyeksi naiknya suku bunga AS pada awal September telah menjadi faktor utama di balik kenaikan USD selama bulan lalu.
Selain Fed, fokus juga pada harga komoditas. Dampak rendahnya harga komoditas telah memberi imbas pada mata uang eksportir seperti Kanada, Australia dan Norwegia. Namun mata uang importir seperti yen juga diperkirakan akan merasakan efeknya.
Baca:
Saham China Jatuh, IHSG Cetak Level Terendah 2015
Euro Menguat Tipis, Rupiah Siang Ini Terdepresiasi
BI Minta Masyarakat Jaga Kedaulatan Rupiah
Posisi rupiah berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas pada level Rp13.504/USD. Posisi tersebut melemah 51 poin dibanding akhir pekan lalu di Rp13.453/USD.
Berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp13.496/USD. Posisi ini terkoreksi 54 poin dari posisi penutupan sebelumnya di Rp13.445/USD.
Nilai tukar rupiah berdasarkan data Bloomberg di level Rp13.462/USD, memburuk 15 poin dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp13.447/USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp13.453/USD, tak jauh berbeda dengan penutupan sebelumnya di Rp13.448/USD.
Sementara itu, euro mencapai level tertinggi dua pekan terhadap USD pada hari ini setelah survei Ifo Jerman menunjukkan bahwa ekonomi Jerman pada Juli mengalahkan perkiraan.
Kejatuhan USD meluas setelah saham Amerika Serikat (AS) terkoreksi dan daya tarik imbal hasil obligasi meredup, dengan pasar fokus pada pertemuan kebijakan Federal Reserve (The Fed) pekan ini. USD turun 0,3% terhadap yen sebagai mata uang safe haven, terimbas penurunan saham China sebesar 8%.
Adapun euro naik 1,2% menjadi USD1,1113, dari sekitar USD1,1084 sebelum survei Ifo dirilis. Indeks iklim usaha Ifo naik ke 108,0 dari 107,5 pada Juni, mengalahkan konsensus Reuters untuk penurunan ke 107,2.
"Setiap dampak positif dari Ifo pada euro hanya singkat. Selama jangka menengah, kami berharap USD dapat menguat," kata ahli strategi mata uang Nomura, Yujiro Goto seperti dilansir dari Reuters, Senin (27/7/2015).
Pasar akan melihat pertemuan Fed pada 28-29 Juli untuk melihat apakah akan memberikan petunjuk waktu penaikan suku bunga. Proyeksi naiknya suku bunga AS pada awal September telah menjadi faktor utama di balik kenaikan USD selama bulan lalu.
Selain Fed, fokus juga pada harga komoditas. Dampak rendahnya harga komoditas telah memberi imbas pada mata uang eksportir seperti Kanada, Australia dan Norwegia. Namun mata uang importir seperti yen juga diperkirakan akan merasakan efeknya.
Baca:
Saham China Jatuh, IHSG Cetak Level Terendah 2015
Euro Menguat Tipis, Rupiah Siang Ini Terdepresiasi
BI Minta Masyarakat Jaga Kedaulatan Rupiah
(rna)