Kementerian PUPR Bentuk Komisi Irigasi

Senin, 03 Agustus 2015 - 09:13 WIB
Kementerian PUPR Bentuk...
Kementerian PUPR Bentuk Komisi Irigasi
A A A
GROBOGAN - Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan memberdayakan pemerintah daerah dalam rangka mengatasi ancaman kekeringan.

Pemberdayaan tersebut melalui pembentukan Komisi Irigasi sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri PUPR. Direktur Jenderal SDA Kementerian PUPR Mudjiadi mengatakan, ancaman kekeringan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat dan stakeholder terkait di daerah.

”Selama ini masalah kekeringan sebenarnya ada pada persoalan pendistribusian. Di satu sisi Kementerian PUPR sudah melakukan upaya-upaya persiapan dengan membangun waduk maupun embung di daerah-daerah yang susah air. Tapi kendalanya, masih ada pada persoalan distribusi,” ujar dia saat mengunjungi Waduk Kedung Ombo di Grobogan, Jawa Tengah, akhir pekan lalu.

Berdasarkan Peraturan Menteri PUPR Nomor 12/2015 yang terbit April 2015 tentang Komisi Irigasi, pembentukan kelembagaan pengelolaan irigasi diperlukan dalam rangka menyediakan, mengatur, dan mengelola pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian melalui irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi bawah tanah, maupun irigasi pompa dan tambak.

Direktur Bina Operasi dan Pemeliharaan Direktorat SDA Kementerian PUPR Loly Matina Martief mengatakan, langkah tersebut merupakan upaya mengatasi ancaman kekeringan pada tahun-tahun mendatang. Menurut dia, pembentukan Komisi Irigasi diharapkan mampu melibatkan semua pihak, bukan hanya dari unsur pemerintah pusat namun juga dari pemerintah daerah.

”Jaringan irigasi yang besar akan menjadi tanggung jawab di pusat. Sementara untuk irigasi kecil di daerah, akan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Pembentukan Komisi Irigasi sangat diharapkan bisa menjadi penghubung ketika ancaman kekeringan terjadi sehingga mampu mengambil keputusan terkait pertanian yang memanfaatkan irigasi,” ujar dia.

Selama ini kekeringan yang berdampak terhadap irigasi persawahan padi bisa diminimalisasi dengan mengurangi waktu tanam di sejumlah daerah. Bila waktu tanam berdasarkan curah hujan normal mencapai dua kali dalam setahun, bisa disiasati dengan mengurangi masa tanam sekali dalam setahun serta menggantinya dengan komoditas selain padi.

”Makanya, diperlukan Komisi Irigasi ini. Supaya setiap tahun standarnya sudah jelas mengenai langkah-langkah apa yang akan diambil,” ungkapnya.

Ichsan amin
(ftr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
ONDA Bidik Kebutuhan...
ONDA Bidik Kebutuhan Renovasi Rumah dengan Sistem Terintegrasi
9 jam yang lalu
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
9 jam yang lalu
Gandeng Mitra Global,...
Gandeng Mitra Global, PT WCS Dorong Ekosistem Pertanian Berbasis Digital
10 jam yang lalu
Telkom Catat Pendapatan...
Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun, DPR Minta Soliditas Dijaga
10 jam yang lalu
Kemenkop dan Rumah Energi...
Kemenkop dan Rumah Energi Dorong Koperasi Jadi Motor Transisi Energi
10 jam yang lalu
Plaza Seremoni IKN Karya...
Plaza Seremoni IKN Karya Brantas Abipraya Raih Penghargaan Lanskap Internasional MLAA 2026
10 jam yang lalu
Infografis
5 Kementerian dengan...
5 Kementerian dengan Formasi Terbanyak di CPNS 2024
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved