BI Klaim Volatilitas Rupiah Hanya Sementara
Selasa, 11 Agustus 2015 - 16:37 WIB
BI Klaim Volatilitas Rupiah Hanya Sementara
A
A
A
BALIKPAPAN - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan, volatilitas nilai tukar rupiah hanya sementara karena terimbas keputusan pemerintah China melakukan devaluasi mata uangnya.
"Hal itu dilakukan dalam rangka mendorong export competitiveness mereka karena kurs Jepang, Korea, dan Eropa sudah terdepresiasi cukup besar. Seperti yang diketahui, Jepang dan Korea merupakan saingan dagang dari China," ujar Mirza di Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (11/8/2015).
Keputusan tersebut, dia menuturkan, membawa pengaruh terhadap seluruh mata uang regional, termasuk rupiah. Kendati demikian, dia menjelaskan bahwa pengaruh terhadap rupiah tidak sebesar pengaruh yang terjadi pada kurs lainnya, seperti dolar Singapura, won Korea, dolar Taiwan dan bath Thailand.
"Kondisi ini kita yakini hanya akan sementara. Kami melihat saat ini rupiah sudah undervalue dan kompetitif terhadap ekspor manufaktur dan mendorong turis masuk ke Indonesia," ujarnya.
Dia menegaskan bahwa BI akan selalu ada di pasar dalam rangka menjaga volatilitas rupiah agar stabil dan tidak jatuh terlalu dalam.
(Baca: Kinerja Rupiah Terburuk Kedua di Asia)
"Hal itu dilakukan dalam rangka mendorong export competitiveness mereka karena kurs Jepang, Korea, dan Eropa sudah terdepresiasi cukup besar. Seperti yang diketahui, Jepang dan Korea merupakan saingan dagang dari China," ujar Mirza di Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (11/8/2015).
Keputusan tersebut, dia menuturkan, membawa pengaruh terhadap seluruh mata uang regional, termasuk rupiah. Kendati demikian, dia menjelaskan bahwa pengaruh terhadap rupiah tidak sebesar pengaruh yang terjadi pada kurs lainnya, seperti dolar Singapura, won Korea, dolar Taiwan dan bath Thailand.
"Kondisi ini kita yakini hanya akan sementara. Kami melihat saat ini rupiah sudah undervalue dan kompetitif terhadap ekspor manufaktur dan mendorong turis masuk ke Indonesia," ujarnya.
Dia menegaskan bahwa BI akan selalu ada di pasar dalam rangka menjaga volatilitas rupiah agar stabil dan tidak jatuh terlalu dalam.
(Baca: Kinerja Rupiah Terburuk Kedua di Asia)
(rna)