Manufaktur China Susut dengan Laju Tercepat 6,5 Tahun

Jum'at, 21 Agustus 2015 - 12:24 WIB
Manufaktur China Susut...
Manufaktur China Susut dengan Laju Tercepat 6,5 Tahun
A A A
BEIJING - Aktivitas manufaktur China menyusut dengan laju tercepat dalam hampir 6,5 tahun pada bulan Agustus karena melemahnya permintaan domestik dan ekspor, menambah kekhawatiran bahwa ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut kemungkinan turun tajam.

Devaluasi yuan yang mengejutkan pada pekan lalu dan runtuhnya pasar saham pada awal musim panas telah memicu kekhawatiran bahwa hal itu bisa beresiko pada pertumbuhan dunia, memberi imbas buruk pada pasar keuangan.

Menteri Ekonomi Jepang Akira Amari mengatakan, pemerintah China akan mengambil langkah-langkah untuk mencegah perlambatan ekonomi China menjadi masalah global.

Data awal indeks manufaktur China (PMI) berada di 47,1 pada Agustus, jauh di bawah survei Reuters di 47,7 dan turun dari Juli pada 47,8. Indeks manufaktur China bulan ini menjadi yang terburuk sejak Maret 2009, menuju krisis keuangan global. Posisi di bawah 50 menunjukkan kontraksi.

Data flash PMI menjadi indikator ekonomi paling awal yang dirilis China setiap bulan, menjadi penunjuk bagi investor global mengenai kesehatan ekonomi.

"Data yang lemah mengonfirmasi menunjukkan kelemahan perekonomian kemungkinan akan lebih dalam," kata ekonom di Forecast Pte Ltd Chester Liaw, seperti dilansir dari Reuters, Jumat (21/8/2015).

Survei aktivitas manufaktur menunjukkan kondisi yang memburuk pada hampir setiap tingkat, dengan produksi pabrik tenggelam mendekati level terendah empat tahun, pesanan domestik dan ekspor menurun pada tingkat yang lebih cepat dari Juli dan perusahaan melakukan banyak pemutusan hubungan kerja (PHK).

Menurut risalah yang dirilis pekan ini, Federal Reserve Amerika Serikat (AS) membahas soal China, krisis utang Yunani dan melambatnya ekonomi global pada pertemuan terakhir di Juli. Namun para analis masih mengharapkan bank sentral AS menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini.

Otoritas China telah berjuang untuk menstabilkan pasar saham negara itu setelah runtuh dan terkejutnya pasar keuangan setelah devaluasi yuan hampir 2%.

Bank sentral China mengatakan, pergerakan yuan adalah bagian dari proses reformasi, tetapi banyak investor takut mata uang sengaja akan dilemahkani lebih lanjut di tengah tekanan politik untuk menopang lesunya ekspor, sehingga menyebabkan perang mata uang global.

Suramnya data PMI diikuti data resmi lainnya pekan lalu yang menunjukkan pertumbuhan produksi pabrik China, investasi dan harga eceran yang lemah dari yang diharapkan pada Juli.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Krisis Ekonomi China...
Krisis Ekonomi China Pengaruhi Ekspor Impor Dalam Negeri
Gelombang Covid-19 Kembali...
Gelombang Covid-19 Kembali Hantam Ekonomi Tiongkok
Menteri Keuangan Waspadai...
Menteri Keuangan Waspadai Situasi Kontraksi Ekonomi China
Momen Unik saat Presiden...
Momen Unik saat Presiden Prabowo Bicara Bahasa Tiongkok di Beijing
China Rebound, Bidik...
China Rebound, Bidik Pertumbuhan Ekonomi di Atas 6%
Berita Terkini
Jakarta Fair 2026 Diserbu...
Jakarta Fair 2026 Diserbu 6 Juta Pengunjung, Nilai Transaksi Cetak Rp8,2 Triliun
3 jam yang lalu
Laporan Menkop ke Prabowo:...
Laporan Menkop ke Prabowo: 15.845 Koperasi Merah Putih Sudah Berdiri, 19 Ribu Masih Dibangun
4 jam yang lalu
Pengawasan DMO Diperketat,...
Pengawasan DMO Diperketat, PLN Didorong Kebut Kontrak Pasokan Batu Bara
6 jam yang lalu
Garuda Terapkan Bagasi...
Garuda Terapkan Bagasi Piece Concept, Bawaan Penumpang Bisa hingga 64 Kg
7 jam yang lalu
Selat Hormuz Kembali...
Selat Hormuz Kembali Ditutup Total, Siap-siap Harga Minyak Bisa Meroket
8 jam yang lalu
Bandara Banda Neira...
Bandara Banda Neira Bakal Dibangun Ulang, Pesawat Kapasitas Besar Bisa Mendarat
10 jam yang lalu
Infografis
Jadwal Terbaru TKA SMA/SMK/MA...
Jadwal Terbaru TKA SMA/SMK/MA Tahun 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved