Pengamat: Pemerintah Tak Punya Alasan Lemahkan Rupiah
Sabtu, 22 Agustus 2015 - 13:09 WIB
Pengamat: Pemerintah Tak Punya Alasan Lemahkan Rupiah
A
A
A
JAKARTA - Direktur Institute For Economics and Social Research I Kadek Dian Sutrisna Artha mengatakan, pemerintah tak punya alasan untuk melemahkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) saat ini karena kondisinya berbeda dengan 1998, saat krisis moneter.
"Kalau menurut saya, alasan melemahkan itu apa? Ini berbeda dengan kondisi tahun 1998. Kalau sekarang dilemahkan, memang harga produk menjadi lebih kompetitif di pasar internasional, tapi China itu kan melambat (ekonominya) sebagai tujuan utama ekspor," kata dia ketika dihubungi Sindonews di Jakarta, Sabtu (22/8/2015).
Kedua, dia menambahkan, jika nilai tukar melemah, ekspor produksi komoditas dan mineral yang diuntungkan. Pada 1998, industri berbasis komoditas diuntungkan, sementara saat ini harga komoditas malah mengalami penurunan.
"Komoditi malah mengalami penurunan kan, sehingga revenue dari ekspor itu tidak signifikan. Jadi, pelemahan ini memang faktor eksternal, bukan kebijakan yang sengaja dilemahkan," katanya.
Jika sengaja dilemahkan, Kadek menilai, akan ada implikasi positif kepada ekspor dan kompetisi di domestik.
"Jika sekarang pemerintah Indonesia melemahkan karena kompetitifnes, pasti enggak banyak membantu karena China sedang lemah ekonominya, demand ekspor menurun, kemudian harga komoditi juga mengalami penurunan, terutama untuk mineral, bukan hanya harganya yang menurun, tapi memang diproduksi domestiknya berkurang," tutur dia.
Jadi, dia menegaskan bahwa melemahnya kurs rupiah memang karena kondisi pasar yang tertekan, bukan sengaja dilemahkan, seperti yang terjadi di China. Lagipula, dia menegaskan, untuk melemahkan mata uang itu harus punya dasar cukup.
Baca:
Rupiah Dekati Rp14.000/USD Dihantam Data Ekonomi China
Empat Hal yang Bikin Rupiah Tersakiti USD Akhir Pekan Ini
Fluktuasi Rupiah Berlanjut di Kuartal III
"Kalau menurut saya, alasan melemahkan itu apa? Ini berbeda dengan kondisi tahun 1998. Kalau sekarang dilemahkan, memang harga produk menjadi lebih kompetitif di pasar internasional, tapi China itu kan melambat (ekonominya) sebagai tujuan utama ekspor," kata dia ketika dihubungi Sindonews di Jakarta, Sabtu (22/8/2015).
Kedua, dia menambahkan, jika nilai tukar melemah, ekspor produksi komoditas dan mineral yang diuntungkan. Pada 1998, industri berbasis komoditas diuntungkan, sementara saat ini harga komoditas malah mengalami penurunan.
"Komoditi malah mengalami penurunan kan, sehingga revenue dari ekspor itu tidak signifikan. Jadi, pelemahan ini memang faktor eksternal, bukan kebijakan yang sengaja dilemahkan," katanya.
Jika sengaja dilemahkan, Kadek menilai, akan ada implikasi positif kepada ekspor dan kompetisi di domestik.
"Jika sekarang pemerintah Indonesia melemahkan karena kompetitifnes, pasti enggak banyak membantu karena China sedang lemah ekonominya, demand ekspor menurun, kemudian harga komoditi juga mengalami penurunan, terutama untuk mineral, bukan hanya harganya yang menurun, tapi memang diproduksi domestiknya berkurang," tutur dia.
Jadi, dia menegaskan bahwa melemahnya kurs rupiah memang karena kondisi pasar yang tertekan, bukan sengaja dilemahkan, seperti yang terjadi di China. Lagipula, dia menegaskan, untuk melemahkan mata uang itu harus punya dasar cukup.
Baca:
Rupiah Dekati Rp14.000/USD Dihantam Data Ekonomi China
Empat Hal yang Bikin Rupiah Tersakiti USD Akhir Pekan Ini
Fluktuasi Rupiah Berlanjut di Kuartal III
(rna)