Harga Minyak Merosot Dipicu Kekhawatiran Ekonomi China
Rabu, 26 Agustus 2015 - 09:49 WIB
Harga Minyak Merosot Dipicu Kekhawatiran Ekonomi China
A
A
A
SEOUL - Harga minyak mentah berjangka merosot pada Rabu di tengah kekhawatiran lebih lanjut terhadap perekonomian China, meski Bank Sentral China (PBoC) berupaya meningkatkan pertumbuhan .
Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali turun dan saham Asia terlihat defensif setelah pelonggaran moneter yang dilakukan PBoC, yang mampu menenangkan kekhawatiran investor.
Minyak Brent kehilangan 10 sen menjadi USD43,11/barel pada pukul 09.10 WIB setelah ditutup naik 52 sen menjadi USD43,21/barel di sesi sebelumnya.
Sementara minyak mentah AS untuk pengiriman Oktober turun 20 sen menjadi USD39,11/barel, setelah pada sesi sebelumnya naik USD1,07 menjadi USD39,31.
ANZ mengatakan dalam sebuah catatannya bahwa penurunan suku bunga acuan China telah menenangkan pasar komoditas, tetapi mereka tetap berhati-hati, sehingga kenaikan akan terbatas.
"Biaya pemindahan pasokan yang tinggi dari Amerika Serikat lebih dari yang diperkirakan. Itu kemungkinan untuk menjaga pasar secara substansial mengalami kelebihan pasokan dalam jangka pendek," tulis ANZ, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (26/8/2015).
Data American Petroleum Institute (API) menunjukkan stok minyak mentah AS turun 7,3 juta barel dalam sepekan hingga 21 Agustus 2015 menjadi 449,3 juta, dibandingkan dengan ekspektasi analis untuk kenaikan 1 juta barel seiring meningkatnya jumlah kilang yang beroperasi.
Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh mengatakan, Iran akan meningkatkan produksi minyak mentah dan merebut kembali pangsa pasarnya yang hilang setelah dicabutnya sanksi internasional.
Sementara Nigeria berencana mengekspor minyak mentah minimal 2,04 juta barel per hari (bph) pada Oktober, level tertinggi tahun ini.
Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali turun dan saham Asia terlihat defensif setelah pelonggaran moneter yang dilakukan PBoC, yang mampu menenangkan kekhawatiran investor.
Minyak Brent kehilangan 10 sen menjadi USD43,11/barel pada pukul 09.10 WIB setelah ditutup naik 52 sen menjadi USD43,21/barel di sesi sebelumnya.
Sementara minyak mentah AS untuk pengiriman Oktober turun 20 sen menjadi USD39,11/barel, setelah pada sesi sebelumnya naik USD1,07 menjadi USD39,31.
ANZ mengatakan dalam sebuah catatannya bahwa penurunan suku bunga acuan China telah menenangkan pasar komoditas, tetapi mereka tetap berhati-hati, sehingga kenaikan akan terbatas.
"Biaya pemindahan pasokan yang tinggi dari Amerika Serikat lebih dari yang diperkirakan. Itu kemungkinan untuk menjaga pasar secara substansial mengalami kelebihan pasokan dalam jangka pendek," tulis ANZ, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (26/8/2015).
Data American Petroleum Institute (API) menunjukkan stok minyak mentah AS turun 7,3 juta barel dalam sepekan hingga 21 Agustus 2015 menjadi 449,3 juta, dibandingkan dengan ekspektasi analis untuk kenaikan 1 juta barel seiring meningkatnya jumlah kilang yang beroperasi.
Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh mengatakan, Iran akan meningkatkan produksi minyak mentah dan merebut kembali pangsa pasarnya yang hilang setelah dicabutnya sanksi internasional.
Sementara Nigeria berencana mengekspor minyak mentah minimal 2,04 juta barel per hari (bph) pada Oktober, level tertinggi tahun ini.
(rna)
Lihat Juga :