Bahas Kondisi Ekonomi RI, DPR Panggil BI Sore Ini
Rabu, 26 Agustus 2015 - 11:55 WIB
Bahas Kondisi Ekonomi RI, DPR Panggil BI Sore Ini
A
A
A
JAKARTA - Ketua DPR Setya Novanto mengatakan, pihaknya akan memanggil Bank Indonesia (BI) untuk mencari solusi agar ekonomi Indonesia tidak semakin terpuruk, sore ini. Pasalnya, saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) tembus Rp14.100.
"Nanti pukul 16.00, pimpinan DPR mengundang Bank Indonesia untuk memberikan masukan-masukan, juga nanti ada Komisi XI," ujar Setya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/8/2015).
Anjloknya nilai tukar mata uang domestik, kata dia, sangat berpengaruh pada Anggaran Pendapatan dan Belanaj Negara (APBN). Karena itu, Setya mengatakan, DPR akan meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk mengaudit kinerja bank sentral.
"Jadi kenaikan USD ini memang di dalam neraca fiskal kita sangat perlu menjadi perhatian karena berpengaruh kepada APBN kita," tandasnya.
Sekadar informasi, perlambatan ekonomi China dikhawatirkan akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi global, termasuk ekonomi negara-negara berkembang, seperti Indonesia.
Bahkan, BI telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini menjadi dalam kisaran 4,7%-5,1% dari target sebelumnya 5%-5,4%. Selain menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi, BI juga merevisi nilai tukar rata-rata rupiah menjadi Rp13.000-Rp13.400/USD dari Rp13.000-Rp13.200/USD.
Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo sebelumnya mengatakan bahwa revisi itu dilakukan lantaran melambatnya investasi pemerintah maupun swasta. Selain itu, Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang juga belum menunjukkan tanda-tanda menaikkan suku bunganya dan devaluasi yuan, yang dikhawatirkan menekan pertumbuhan ekonomi dunia.
(Baca: Rupiah Dibuka Terjungkal ke Rp14.100/USD)
"Nanti pukul 16.00, pimpinan DPR mengundang Bank Indonesia untuk memberikan masukan-masukan, juga nanti ada Komisi XI," ujar Setya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/8/2015).
Anjloknya nilai tukar mata uang domestik, kata dia, sangat berpengaruh pada Anggaran Pendapatan dan Belanaj Negara (APBN). Karena itu, Setya mengatakan, DPR akan meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk mengaudit kinerja bank sentral.
"Jadi kenaikan USD ini memang di dalam neraca fiskal kita sangat perlu menjadi perhatian karena berpengaruh kepada APBN kita," tandasnya.
Sekadar informasi, perlambatan ekonomi China dikhawatirkan akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi global, termasuk ekonomi negara-negara berkembang, seperti Indonesia.
Bahkan, BI telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini menjadi dalam kisaran 4,7%-5,1% dari target sebelumnya 5%-5,4%. Selain menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi, BI juga merevisi nilai tukar rata-rata rupiah menjadi Rp13.000-Rp13.400/USD dari Rp13.000-Rp13.200/USD.
Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo sebelumnya mengatakan bahwa revisi itu dilakukan lantaran melambatnya investasi pemerintah maupun swasta. Selain itu, Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang juga belum menunjukkan tanda-tanda menaikkan suku bunganya dan devaluasi yuan, yang dikhawatirkan menekan pertumbuhan ekonomi dunia.
(Baca: Rupiah Dibuka Terjungkal ke Rp14.100/USD)
(rna)
Lihat Juga :