Ikut Proyek Kereta Cepat, Rini Ajukan Syarat untuk Jepang

Jum'at, 04 September 2015 - 22:44 WIB
Ikut Proyek Kereta Cepat,...
Ikut Proyek Kereta Cepat, Rini Ajukan Syarat untuk Jepang
A A A
JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menyatakan pihaknya masih membuka kemungkinan untuk Jepang bergabung dengan proyek kereta cepat yang digarap BUMN. Syaratnya, Negeri Sakura tersebut mengikuti ketetapan yang ditentukan pemerintah.

Dia mengungkapkan, proposal kereta cepat yang diajukan Jepang mensyaratkan jaminan dari pemerintah. Sebab berdasarkan hasil studi kelayakan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung tahap I yang dilakukan beberapa waktu lalu, Jepang menyatakan proyek kereta cepat memiliki tingkat pengembalian investasi atau internal rate of return (IRR) negatif.

Dengan demikian proyek tersebut tidak menguntungkan, sehingga pembangunan tidak bisa diserahkan sepenuhnya ke swasta dan harus ada jaminan dari pemerintah. "‎Jadi kalau Jepang ingin ikut dalam proses ini, tentunya harus menghilangkan keharusannya menggunakan permintaan jaminan pemerintah," katanya di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (4/9/2015).

Proposal Negeri Matahari Terbit itu, lanjutnya, juga mensyaratkan bahwa dana yang dipinjamkan untuk menggarap proyek tersebut harus ‎diberikan kepada pemerintah terlebih dahulu, baru diserahkan ke BUMN oleh pemerintah.

Padahal, proyek ini melarang penggunaan dana dari pemerintah baik dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) langsung atau dengan cara apapun.‎ "Yang ditekankan sejak awal, tidak akan ada jaminan pemerintah dari dana APBN," tegas dia.

‎Rini membandingkan proposal yang diajukan Jepang dengan proposal kereta cepat yang diajukan China. Negeri Tirai Bambu sama sekali tidak meminta jaminan dari pemerintah untuk menggarap proyek tersebut. "Itu perbedaan yang sangat utama. Sangat penting itu," imbuh dia.

‎Selain itu, China juga mengucurkan langsung pinjaman dananya kepada BUMN, tanpa melalui perantara pemerintah seperti yang dilakukan Jepang.‎ "Kalau dari China (pinjaman) langsung ke BUMN, sehingga tidak ada pendanaan dari pemerintah. Karena tidak ada dalam hal ini pinjamannya melalui pemerintah," terangnya.

Dia menambahkan, kendati saat ini belum ada keputusan mengenai partner asing yang akan digandeng untuk proyek kereta cepat tersebut, namun ‎dipastikan bahwa nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang dilakukan pemerintah dengan China Development Bank (CDB) terkait pinjaman dana untuk proyek BUMN sebesar USD20 miliar beberapa waktu lalu tidak dibatalkan.

Hanya saja, Rini meminta proposal tersebut diperbaiki lantaran pemerintah memutuskan untuk menurunkan kecepatan kereta cepat menjadi medium speed train. Artinya, China masih memiliki peluang besar untuk menjadi rekanan perusahaan pelat merah untuk menggarap proyek kereta cepat tersebut.

"Enggak ada pembatalan apa-apa (soal MoU dengan China). Kita menganalisa secara mendalam dua proposal ini. Tetapi kita hanya mengatakan ke mereka‎ harus ada perbaikan sedikit. Karena harus ada kalkulasi mengenai kereta cepat yang mungkin speednya lebih rendah dari yang mereka usulkan," pungkasnya.

Baca juga:

Ini Alasan Rini Ngotot Bangun Kereta Cepat

Rini Pastikan Kereta Cepat Akan Dibangun BUMN
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Perbandingan Kereta...
Perbandingan Kereta Cepat Shanghai vs KCJB Indonesia, dari Kecepatan hingga Tarif
Naik Kereta Cepat Whoosh...
Naik Kereta Cepat Whoosh Jakarta-Bandung hanya Rp50 Ribu, Begini Caranya!
Revolusi Kereta Cepat...
Revolusi Kereta Cepat China: Melaju Secepat Pesawat, Lebih Baik dari Hyperloop Elon Musk
Whoosh, Kereta Cepat...
Whoosh, Kereta Cepat yang Membuat Kunjungan Wisatawan Bertambah
Kereta Hyperloop China...
Kereta Hyperloop China Pecahkan Rekor, Ditarget 2.000 Kpj dan Lebih Cepat dari Pesawat
Intip Spesifikasi Kereta...
Intip Spesifikasi Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh, Mampu Melesat 350 Km/jam
Berita Terkini
PT IIM Buktikan Konsistensi...
PT IIM Buktikan Konsistensi Kinerja Historis dan Dampak Sosial di Tengah Volatilitas Pasar
4 jam yang lalu
Membaca Pola Pelemahan...
Membaca Pola Pelemahan Rupiah, DEN Prediksi Kurs Melandai pada Juli 2026
4 jam yang lalu
Bukan Sekadar Digitalisasi,...
Bukan Sekadar Digitalisasi, Kini Operasional Bisnis Harus Otonom
5 jam yang lalu
Pengembangan Bioenergi...
Pengembangan Bioenergi Berpotensi Serap 150 Ribu Tenaga Kerja
5 jam yang lalu
Kuliah Umum di Unhas,...
Kuliah Umum di Unhas, Afi Kalla Tekankan Peran IKM dalam Hilirisasi Ekonomi
5 jam yang lalu
Seminar dan Live Trading,...
Seminar dan Live Trading, Didimax Dorong Edukasi Trading yang Aman serta Mandiri
5 jam yang lalu
Infografis
3 Proyek Kereta Cepat...
3 Proyek Kereta Cepat Termahal di Dunia, Whoosh Tak Masuk Hitungan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved