Kebijakan Industrial Harus Solid

Selasa, 08 September 2015 - 09:46 WIB
Kebijakan Industrial...
Kebijakan Industrial Harus Solid
A A A
JAKARTA - Indonesia membutuhkan kebijakan industrial yang lebih solid untuk menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi serta pengaruh krisis dari negara lain. Pengamat ekonomi dari Universitas Unika Atma Jaya A Prasetyantoko mengatakan, kebijakan industrial yang solid dari pemerintah sudah hilang sejak 1998.

Untuk memperkuat stabilitas ekonomi, pemerintah harus menggenjot produksi dari negeri sendiri. ”External liquidity kita juga lebih berat karena kita lebih bergantung pada external financing. Semakin kita bergantung pada itu semakin riskan guncangan dalam negeri,” kata Prasetyantoko di sela-sela acara Media Sharing Indonesia Knowledge Forum 2015 di Jakarta kemarin.

Dia mencontohkan, negara adikuasa seperti Amerika Serikat (AS) yang telah menerapkan kebijakan industrial yang solid menjadi lebih kuat meskipun diguncang krisis ekonomi di negaranya. Hal tersebut terlihat dari daya saing yang tumbuh dan bisnis industrinya yang lebih inovatif. ”Saya melihat pemerintah sudah menuju ke sana, melalui pembangunan infrastruktur, logistik, dan maritim.

Di sisi lain pemerintah harus mendorong industri manufakturnya,” tegas dia. Lebih jauh dia menjabarkan, perlambatan ekonomi yang terjadi di Tanah Air saat ini jauh berbeda dengan krisis ekonomi nasional pada 1998 dan 2008. Meskipun nilai tukar dolar AS terhadap rupiah lebih tinggi dari 2008, depresiasinya lebih rendah. ”Pada 2008 nilai tukar dolar AS mencapai Rp12.650, sedangkan di 1998 nilai tengah Bank Indonesia (BI) pernah mencapai Rp16.000, untuk 2015 tertinggi di angka Rp14.100,” paparnya.

Sementara itu, Direktur Wahid Institute Yenny Wahid menambahkan, dalam lima tahun ke depan terdapat 12 juta angkatan kerja baru di Indonesia. Untuk menghadapi jumlah angkatan kerja tersebut dibutuhkan kemudahan industrialisasi. ”Kuncinya industrialisasi, hanya hambatan yang dari dulu ada yaitu dipersulit oleh sejumlah regulasi.

Kalau tidak ada solusinya, 12 juta angkatan kerja ini akan menjadi masalah besar,” tegasnya. Komisaris Independen PT Bank Central Asia Cyrillus Harinowo menambahkan, saat krisis ekonomi 1998 pengusaha menghadapinya secara panik. Hal ini berbeda dengan situasi saat ini yang dianggap lebih terkendali. ”Dampak positif dari krisis 1998 yaitu menjadikan Indonesia sebagai negara nomor tiga dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi setelah China dan India,” harap dia.

Heru febrianto
(bbg)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Hadirkan Beragam Inovasi Engineering Melalui PINDEX 2026
33 menit yang lalu
Ika Unpad Luncurkan...
Ika Unpad Luncurkan Forum Ekonomi Hijau, Dorong Transformasi Nasional
54 menit yang lalu
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
2 jam yang lalu
IHSG Berakhir Menguat...
IHSG Berakhir Menguat usai Libur Panjang, Hari Ini Sentuh Level 6.195
2 jam yang lalu
Jangan Lewatkan Penawaran...
Jangan Lewatkan Penawaran Umum Obligasi dan Sukuk Ijarah Global Mediacom Tahap II Tahun 2026!
3 jam yang lalu
Ekspor April 2026 Melesat...
Ekspor April 2026 Melesat 21,98% Tembus Rp449.6 Triliun, Ini Penopangnya
3 jam yang lalu
Infografis
Ini Alasan Mengapa Tanaman...
Ini Alasan Mengapa Tanaman Ganja Harus Ditanam di Ketinggian
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved