Inflasi China Naik 2% karena Harga Daging Babi Melonjak

Kamis, 10 September 2015 - 11:32 WIB
Inflasi China Naik 2%...
Inflasi China Naik 2% karena Harga Daging Babi Melonjak
A A A
BEIJING - Indeks harga konsumen (IHK) China naik pada laju tercepat dalam satu tahun karena krisis pasokan dan melonjaknya harga daging babi.

Inflasi naik 2% pada Agustus dari tahun sebelumnya, dibandingkan dengan proyeksi sebesar 1,8%. Sementara indeks harga produsen anjlok 5,9%, memperpanjang penurunan selama 42 bulan.

Perbedaan harga mempersulit prospek kebijakan Bank Rakyat Cina (PBoC). Inflasi IHK sekarang lebih tinggi dari bunga deposito satu tahun, suku bunga riil untuk penabung. Sementara, harga produk pabrik yang mengalami deflasi mendorong biaya pinjaman di sektor industri.

"Ini adalah masalah nyata. Bagi produsen, IHK merupakan biaya karena upah naik, dan PPI merupakan harga produknya. Sekarang keuntungan dari perusahaan menjadi lebih terkikis," kata analis di China Minzu Securities Co Zhu Qibing, seperti dilansir dari Bloomberg, Kamis (10/9/2015).

Seorang pejabat di Biro Statistik China (NBS) mengatakan bahwa naiknya inflasi karena melonjaknya harga daging babi, sayuran dan telur. Harga makanan naik 3,7% pada Agustus dari tahun sebelumnya karena harga daging babi melonjak 19,6% dan sayuran terkerek 15,9%.

Indeks pabrik China jatuh ke angka terendah dalam tiga tahun bulan lalu dan ekspor turun, menekankan kelemahan dalam perekonomian terbesar kedua di dunia itu.

Perdana Menteri China Li Keqiang berusaha untuk menenangkan kekhawatiran perlambatan. Dia mengatakan, ekonomi bergerak dalam kisaran wajar karena menghadapi tekanan ke bawah.

"Kami tidak akan terpengaruh oleh fluktuasi jangka pendek karena indikator ekonomi, tapi kami juga tidak akan menurunkan kewaspadaan kami," kata Li.

Sementara harga produk minyak dan gas alam merosot 37,9% dari tahun sebelumnya, sedangkan untuk prosesor logam dasar turun 18,8%. Harga pembelian bahan bakar juga tergerus 11,8%.

"Dengan harga kedua konsumen dan produsen digerakkan oleh faktor suplai daripada pergeseran struktural dalam permintaan, data terbaru tidak mengubah pandangan kami pada pertumbuhan dan kebijakan China," kata ekonom Bloomberg Tom Orlik dan Fielding Chen dalam sebuah catatan.

Menurut mereka, tekanan terhadap pertumbuhan tetap intens, dan pemerintah akan terus menggelar stimulus pada bulan depan.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Krisis Ekonomi China...
Krisis Ekonomi China Pengaruhi Ekspor Impor Dalam Negeri
Gelombang Covid-19 Kembali...
Gelombang Covid-19 Kembali Hantam Ekonomi Tiongkok
Menteri Keuangan Waspadai...
Menteri Keuangan Waspadai Situasi Kontraksi Ekonomi China
Momen Unik saat Presiden...
Momen Unik saat Presiden Prabowo Bicara Bahasa Tiongkok di Beijing
China Rebound, Bidik...
China Rebound, Bidik Pertumbuhan Ekonomi di Atas 6%
Berita Terkini
Dipakai Bayar Utang...
Dipakai Bayar Utang dan Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Mei 2026 Ambles ke USD144,9 Miliar
22 menit yang lalu
Harga Emas Dibuka Naik...
Harga Emas Dibuka Naik Rp5 Ribu ke Rp2.743.000 per Gram, Intip Rinciannya
1 jam yang lalu
Marketplace kian Sesak,...
Marketplace kian Sesak, Momentum Baru bagi Pertumbuhan Bisnis Mandiri
1 jam yang lalu
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Makin Terkapar di Posisi 5.486, Ada 515 Saham Melemah
2 jam yang lalu
Perbandingan Harga BBM...
Perbandingan Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo dan BP di Awal Juni 2026
3 jam yang lalu
Libur Sekolah 2026,...
Libur Sekolah 2026, Tarif Angkutan Penyeberangan Diskon Sekitar 21,9%
3 jam yang lalu
Infografis
Perbandingan Jet Tempur...
Perbandingan Jet Tempur J-15 China dan F-15 Jepang, Mana Lebih Hebat?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved