USD Tertekan di Asia, Rupiah Dibuka Rebound
Kamis, 17 September 2015 - 10:10 WIB
USD Tertekan di Asia, Rupiah Dibuka Rebound
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dibuka berhasil balik arah menguat (rebound) karena tertekannya dolar Amerika Serikat (USD) di perdagangan Asia karena fokus beralih ke hasil pertemuan Federal Reserve (The Fed) mengenai suku bunga acuan.
Data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp14.343/USD. Posisi ini membaik 103 poin dibanding posisi penutupan sebelumnya di level Rp14.446/USD.
Nilai tukar rupiah berdasarkan data Bloomberg dibuka pada level Rp14.420/USD dan pada pukul 10.00 WIB ke Rp14.446/USD. Posisi tersebut teraprsiasi dibanding dengan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp14.459/USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp14.452/USD, melemah 10 poin dari posisi sebelumnya di level Rp14.442/USD.
Posisi rupiah berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas berada pada level Rp14.454/USD. Posisi itu menguat 137 poin dibanding posisi penutupan kemarin di level Rp14.591/USD.
Sementara USD berada di bawah tekanan di perdagangan Asiahari ini, setelah data inflasi yang lemah mendorong investor mengurangi spekulasi bahwa Federal Reserve AS (The Fed) akan menaikan suku bunga.
Hasil dari pertemuan Fed dua hari terus menjadi perhatian investor, terutama setelah penurunan 0,1% yang mengejutkan pada harga konsumen AS di bulan Agustus.
USD terhadap yen diperdagangkan pada 120,54, stabil dari akhir perdagangan AS dan bertahan di atas level rendah ddi 119,40 pada Selasa. Euro juga stabil terhadap yen di 136,10.
Euro terhadap USD turun sedikit ke 1,1291, setelah inflasi zona euro pada Agustus lebih lemah dari perkiraan mendorong ekspektasi terhadap pemberian stimulus oleh Bank Sentral Eropa. Indeks USD turun sekitar 0,1% di 95,306, tapi masih bertahan di atas level terendah dalam tiga pekan di 94,913 pada Senin.
"Meski keputusan suku bunga akan menjadi fokus awal, tapi mungkin tidak menjadi faktor yang menentukan bagi pasar," tulis ahli strategi mata uang senior di Westpac Sean Callow, seperti dilansir dari Reuters, Kamis (17/9/2015). Menurut dia, investor juga bisa bereaksi terhadap perubahan perkiraan bank sentral.
(Baca: Tunggu Rilis BI, Rupiah Diperkirakan Melemah)
Data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp14.343/USD. Posisi ini membaik 103 poin dibanding posisi penutupan sebelumnya di level Rp14.446/USD.
Nilai tukar rupiah berdasarkan data Bloomberg dibuka pada level Rp14.420/USD dan pada pukul 10.00 WIB ke Rp14.446/USD. Posisi tersebut teraprsiasi dibanding dengan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp14.459/USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp14.452/USD, melemah 10 poin dari posisi sebelumnya di level Rp14.442/USD.
Posisi rupiah berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas berada pada level Rp14.454/USD. Posisi itu menguat 137 poin dibanding posisi penutupan kemarin di level Rp14.591/USD.
Sementara USD berada di bawah tekanan di perdagangan Asiahari ini, setelah data inflasi yang lemah mendorong investor mengurangi spekulasi bahwa Federal Reserve AS (The Fed) akan menaikan suku bunga.
Hasil dari pertemuan Fed dua hari terus menjadi perhatian investor, terutama setelah penurunan 0,1% yang mengejutkan pada harga konsumen AS di bulan Agustus.
USD terhadap yen diperdagangkan pada 120,54, stabil dari akhir perdagangan AS dan bertahan di atas level rendah ddi 119,40 pada Selasa. Euro juga stabil terhadap yen di 136,10.
Euro terhadap USD turun sedikit ke 1,1291, setelah inflasi zona euro pada Agustus lebih lemah dari perkiraan mendorong ekspektasi terhadap pemberian stimulus oleh Bank Sentral Eropa. Indeks USD turun sekitar 0,1% di 95,306, tapi masih bertahan di atas level terendah dalam tiga pekan di 94,913 pada Senin.
"Meski keputusan suku bunga akan menjadi fokus awal, tapi mungkin tidak menjadi faktor yang menentukan bagi pasar," tulis ahli strategi mata uang senior di Westpac Sean Callow, seperti dilansir dari Reuters, Kamis (17/9/2015). Menurut dia, investor juga bisa bereaksi terhadap perubahan perkiraan bank sentral.
(Baca: Tunggu Rilis BI, Rupiah Diperkirakan Melemah)
(rna)