Para Menteri Saling Lempar Keputusan Kereta Cepat

Selasa, 22 September 2015 - 19:07 WIB
Para Menteri Saling...
Para Menteri Saling Lempar Keputusan Kereta Cepat
A A A
JAKARTA - Para menteri Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Kabinet Kerja saling lempar tanggung jawab terkait keputusan kelanjutan megaproyek kereta api cepat (high speed train/HST), yang masih belum menemukan titik terang.

Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Darmin Nasution yang ditemui usai menghadiri rapat tertutup soal kereta cepat ini enggan membeberkan mengenai keputusan terkait megaproyek prestisius Jokowi tersebut. Dia berdalih, keputusan ada di tangan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno.

"Makanya tanya Ibu Menteri (BUMN) saja. Lebih jelas kalau beliau yang akan jelaskan," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (22/9/2015).

Tak jauh berbeda dengan Darmin, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menolak berkomentar mengenai kelanjutan proyek kereta cepat tersebut. Dia hanya mengatakan bahwa proyek tersebut dikembalikan kepada BUMN secara business to business (B to B).

"Dikembalikan ke BUMN (proyek kereta cepat), bisnis saja. Tanya Bu Rini," tutur dia.

Alih-alih memberikan kejelasan mengenai proyek tersebut yang disinyalir condong ke China, mantan Bos KAI ini tetap keukeuh menolak mengeluarkan pernyataannya. "Wong disuruh tanya ke Ibu Rini. Pokonnya, ini enggak ada urusan pemerintah dan APBN," tegas Jonan.

Sementara, Sekretaris Kabinet Pramono Anung melempar tanggung jawab mengenai kejelasan proyek tersebut kepada Menko bidang Perekonomian Darmin Nasution. Kendati dia telah mengetahui soal keputusannya, namun dia enggan membeberkan lebih lanjut mengenai hal tersebut. "Nanti disampaikan Pak Darmin. Walaupun saya tahu ya," pungkasnya.

Sekadar mengingatkan, Rini bersama perwakilan dari direksi perusahaan konstruksi pelat merah ‎baru saja menyelesaikan kunjungan kenegaraan ke China, yang disinyalir sebagai tindak lanjut pengerjaan proyek kereta api cepat dengan menggunakan garapan China.

Untuk diketahui, pengerjaan proyek kereta cepat ini diserahkan kepada Rini untuk dikerjakan oleh BUMN secara business to business (B to B). BUMN tersebut pun diperbolehkan menggandeng rekanan baik dar‎i luar ataupun dalam negeri.

Selain itu, Jokowi sebelumnya juga telah menolak proposal kereta super cepat yang diajukan China dan Jepang. ‎Alasannya, Indonesia belum membutuhkan kereta api super cepat sehingga lebih baik diturunkan menjadi kereta api berkecepatan sedang (medium speed).
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Perbandingan Kereta...
Perbandingan Kereta Cepat Shanghai vs KCJB Indonesia, dari Kecepatan hingga Tarif
Naik Kereta Cepat Whoosh...
Naik Kereta Cepat Whoosh Jakarta-Bandung hanya Rp50 Ribu, Begini Caranya!
Revolusi Kereta Cepat...
Revolusi Kereta Cepat China: Melaju Secepat Pesawat, Lebih Baik dari Hyperloop Elon Musk
Whoosh, Kereta Cepat...
Whoosh, Kereta Cepat yang Membuat Kunjungan Wisatawan Bertambah
Kereta Hyperloop China...
Kereta Hyperloop China Pecahkan Rekor, Ditarget 2.000 Kpj dan Lebih Cepat dari Pesawat
Intip Spesifikasi Kereta...
Intip Spesifikasi Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh, Mampu Melesat 350 Km/jam
Berita Terkini
Jetex dan Republik Manor...
Jetex dan Republik Manor Sinergi Kembangkan Layanan Aviasi Privat di Indonesia
7 jam yang lalu
Dampingi Presiden Resmikan...
Dampingi Presiden Resmikan Lima Bendungan, AHY: Perkuat Swasembada Pangan, Air dan Energi
7 jam yang lalu
Airlangga Sebut B50...
Airlangga Sebut B50 Bakal Hemat Devisa hingga Rp177 Triliun
8 jam yang lalu
YBM PLN EPI Dorong Pendidikan...
YBM PLN EPI Dorong Pendidikan Lingkungan melalui Wisata Edukasi
8 jam yang lalu
MNC Insurance Sabet...
MNC Insurance Sabet Penghargaan Anugerah Asuransi Indonesia 2026
9 jam yang lalu
Dukung Ketahanan Air...
Dukung Ketahanan Air dan Pangan, Dua Bendungan Garapan Nindya Karya Diresmikan Presiden
9 jam yang lalu
Infografis
Para Miliarder Teknologi...
Para Miliarder Teknologi Hamburkan Triliunan Rupiah untuk Riset Kehidupan Abadi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved