Ini Kekhawatiran Baru dari China bagi Wall Street

Senin, 28 September 2015 - 15:29 WIB
Ini Kekhawatiran Baru...
Ini Kekhawatiran Baru dari China bagi Wall Street
A A A
NEW YORK - Kekhawatiran investor telah bergeser terkait ekonomi China. Kekhawatiran pertama adalah tentang data pertumbuhan ekonomi China.

Kemudian pasar saham negara itu jatuh pada Juni dan Agustus, kemudian Wall Street juga khawatir terhadap penanganan pemerintah negeri Tirai Bambu tersebut. Dengan indeks ekonomi memerah, pemerintah China kemudian mendevaluasi mata uangnya, yuan.

Sekarang Wall Street bergerak menuju kekhawatiran baru, yakni sistem perbankan China. Selama pekan lalu, S&P, Moody dan Macquarie merilis peringatan tentang utang dan kredit bermasalah (NPL) serta aset bermasalah dalam neraca perbankan China.

"Investor perbankan cukup tepat telah bergeser kembali ke fundamental, dan area utama fokus investor sekarang tampaknya kembali ke tren penurunan kualitas aset," tulis Macquarie dalam catatannya, seperti dilansir dari Business Insider, Senin (29/9/2015).

Masalahnya bukan hanya pada bank-bank China yang memiliki banyak utang. Tapi karena sistem perbankan bayangan yang besar, di mana utang yang dimiliki tidak muncul di neraca bank, sehingga tidak tahu berapa besar sebenarnya utang yang dimiliki perbankan.

Senin pekan lalu, S & P mengubah prospek terhadap sistem perbankan China dari stabil menjadi negatif.

"Kami melihat risiko ekonomi untuk industri perbankan China tinggi. Besarnya utang bank dan sistem perbankan bayangan antara 2009 dan 2013 menyebabkan risiko tinggi terhadap ketidakseimbangan ekonomi dan meningkatkan risiko kredit dalam perekonomian," tulis S & P dalam sebuah laporan. .

Kemudian pada hari Selasa, Moody merilis laporan yang menjelaskan sistem perbankan bayangan telah berkembang selama beberapa bulan terakhir. Moody berpikir bahwa jika apa yang ada di dalam laporan ditambahkan ke sektor perbankan bayangan, rasio NPL China bisa mencapai 10% -12%.

Analis Sanford C. Bernstein & Co Wei Hou menulis bahwa itu akan menyebabkan krisis utang cukup besar di negara-negara lain.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Krisis Ekonomi China...
Krisis Ekonomi China Pengaruhi Ekspor Impor Dalam Negeri
Gelombang Covid-19 Kembali...
Gelombang Covid-19 Kembali Hantam Ekonomi Tiongkok
Menteri Keuangan Waspadai...
Menteri Keuangan Waspadai Situasi Kontraksi Ekonomi China
Momen Unik saat Presiden...
Momen Unik saat Presiden Prabowo Bicara Bahasa Tiongkok di Beijing
China Rebound, Bidik...
China Rebound, Bidik Pertumbuhan Ekonomi di Atas 6%
Berita Terkini
Cerita Purbaya Ingin...
Cerita Purbaya Ingin Beli Harley Davidson Hasil Sitaan Negara, Tapi Dilarang Istri
26 menit yang lalu
AS-Iran Sepakat Damai,...
AS-Iran Sepakat Damai, Harga Minyak Dunia Langsung Anjlok
1 jam yang lalu
IHSG Dibuka Melesat...
IHSG Dibuka Melesat 1,85% ke 6.118, Mayoritas Saham Menghijau
1 jam yang lalu
Harga Emas Antam Naik...
Harga Emas Antam Naik Rp18.000, Buyback Melonjak Rp46.000 per Gram
2 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Pastikan Kualitas BBM dengan Pengelolaan Impurities di Kilang
3 jam yang lalu
Elon Musk Jadi Kuadriliuner...
Elon Musk Jadi Kuadriliuner Pertama di Dunia, Seberapa Banyak Uangnya?
3 jam yang lalu
Infografis
Jakarta Beri Diskon...
Jakarta Beri Diskon BPHTB 50 Persen bagi Pembeli Rumah Pertama
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved