Agus Marto Klarifikasi soal Kritikannya kepada Jokowi
Selasa, 06 Oktober 2015 - 20:25 WIB
Agus Marto Klarifikasi soal Kritikannya kepada Jokowi
A
A
A
JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo beberapa waktu lalu sempat mengkritisi keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium.
Dia menilai, penurunan harga BBM tidak dilakukan untuk mencari popularitas dan harus dengan perhitungan yang transparan. Pasca silang pendapat itu, Agus Marto angkat bicara dan memberikan klarifikasi terkait hal tersebut.
Agus menegaskan, bahwa dirinya tidak pernah mengkritik kebijakan yang diambil mantan Gubernur DKI Jakarta itu, namun justru sebaliknya ingin mengapresiasi.
Hal ini, katanya, terbukti bahwa koordinasi Bank Indonesia (BI) dengan pemerintah, khususnya otoritas fiskal dalam beberapa bulan ini telah berjalan dengan baik dan bersinergi. (Baca: Agus Marto Ingatkan Jokowi Jangan Cari Popularitas).
"Sinergi kebijakan tersebut sangat dibutuhkan demi menjaga stabilitas dan memulihkan kondisi perekonomian nasional. Langkah-langkah yang telah ditempuh tersebut juga mendapat apresiasi, baik dari domestik maupun global," kata dia dalam rilisnya di Jakarta, Selasa (6/10/2015).
Menurutnya, untuk dapat keluar dari permasalahan ekonomi saat ini, pemerintah, BI, serta pihak terkait lainnya perlu bersatu mendorong reformasi struktural. (Baca: Jokowi Minta Pertamina Turunkan Harga BBM Premium).
Terkait ini, BI mengapresiasi langkah-langkah reformasi struktural pemerintahan Jokowi-JK yang telah dilakukan dengan sangat baik, seperti tercermin dari realokasi subsidi BBM pada November 2014, percepatan pembangunan infrastruktur dan subsidi bunga untuk UMKM.
"Untuk menjaga momentum pertumbuhan, reformasi struktural harus terus dilanjutkan walaupun kebijakan yang harus diambil cenderung tidak popular," tutur dia. (Baca: Agus Marto Minta Jokowi Konsisten soal Harga BBM Premium).
Mantan Menteri Keuangan era SBY ini juga memandang bahwa rencana penyesuaian harga BBM masih berupa wacana, belum pada tahap diskusi secara serius di lingkungan pemerintah, terlebih lagi di level Presiden.
"Namun apabila langkah itu ditempuh, pesan yang harus disampaikan kepada publik harus konsisten yaitu dalam rangka memperkuat dan menyehatkan keuangan negara, supaya defisit dapat terus ditekan, inflasi terkendali, dan rupiah kembali stabil," tandas Agus.
Dia menilai, penurunan harga BBM tidak dilakukan untuk mencari popularitas dan harus dengan perhitungan yang transparan. Pasca silang pendapat itu, Agus Marto angkat bicara dan memberikan klarifikasi terkait hal tersebut.
Agus menegaskan, bahwa dirinya tidak pernah mengkritik kebijakan yang diambil mantan Gubernur DKI Jakarta itu, namun justru sebaliknya ingin mengapresiasi.
Hal ini, katanya, terbukti bahwa koordinasi Bank Indonesia (BI) dengan pemerintah, khususnya otoritas fiskal dalam beberapa bulan ini telah berjalan dengan baik dan bersinergi. (Baca: Agus Marto Ingatkan Jokowi Jangan Cari Popularitas).
"Sinergi kebijakan tersebut sangat dibutuhkan demi menjaga stabilitas dan memulihkan kondisi perekonomian nasional. Langkah-langkah yang telah ditempuh tersebut juga mendapat apresiasi, baik dari domestik maupun global," kata dia dalam rilisnya di Jakarta, Selasa (6/10/2015).
Menurutnya, untuk dapat keluar dari permasalahan ekonomi saat ini, pemerintah, BI, serta pihak terkait lainnya perlu bersatu mendorong reformasi struktural. (Baca: Jokowi Minta Pertamina Turunkan Harga BBM Premium).
Terkait ini, BI mengapresiasi langkah-langkah reformasi struktural pemerintahan Jokowi-JK yang telah dilakukan dengan sangat baik, seperti tercermin dari realokasi subsidi BBM pada November 2014, percepatan pembangunan infrastruktur dan subsidi bunga untuk UMKM.
"Untuk menjaga momentum pertumbuhan, reformasi struktural harus terus dilanjutkan walaupun kebijakan yang harus diambil cenderung tidak popular," tutur dia. (Baca: Agus Marto Minta Jokowi Konsisten soal Harga BBM Premium).
Mantan Menteri Keuangan era SBY ini juga memandang bahwa rencana penyesuaian harga BBM masih berupa wacana, belum pada tahap diskusi secara serius di lingkungan pemerintah, terlebih lagi di level Presiden.
"Namun apabila langkah itu ditempuh, pesan yang harus disampaikan kepada publik harus konsisten yaitu dalam rangka memperkuat dan menyehatkan keuangan negara, supaya defisit dapat terus ditekan, inflasi terkendali, dan rupiah kembali stabil," tandas Agus.
(izz)
Lihat Juga :